Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 176 : Kota Aldios Dan Raja Naga Kehancuran Yang tersegel


__ADS_3

Beberapa tahun sebelum para pahlawan di panggil ke dunia yang dikelola keempat Dewi. Seekor naga telah berhasil menembus ke alam Dewi dan merusak segala sesuatu di sana.


"Mustahil, bagaimana seekor naga bisa sampai ke dunia ini...Aaah."


"Lari."


Naga itu mampu menahan seluruh serangan para Dewa dan Dewi yang menyerangnya, ia menyemburkan nafas dingin dari mulutnya lalu membekukan semuanya hingga yang tersisa hanya empat Dewi bernama Ristal, Ariel, Hecate serta Amnesia, yang mana secara bersama-sama mampu memojokkan naga tersebut.


Walau tubuh naga itu bisa beregenerasi namun seiring waktu kekuatannya mulai melemah, naga itu meraung lalu terbang ke langit setelah memunculkan portal dari sihir miliknya.


"Ristal, dia pergi ke dunia yang kita awasi, bagaimana ini?" kata Amnesia.


"Ini jelas sangat berbahaya, aku akan melakukan sesuatu."


"Jangan bilang."


"Tidak ada jalan lagi, karena para Dewa dan Dewi telah membeku kalian bertiga hentikan dunia mana saja yang sangat berbahaya yang tidak bisa berjalan tanpa pengawasan kita."


"Sepertinya tidak ada jalan lain," ucap Hecate melirik ke arah Ariel yang menggangguk mengiyakan.


Bersamaan itu Ristal memunculkan tombak raksasa yang disebut sebagai senjata ilahi, dia melemparkannya selagi berkata," Aku mohon." dan tombak itu melesat dengan kecepatan tinggi membelah angin lalu mengincar naga yang sebelumnya membekukan alam Dewi

__ADS_1


Naga itu terus terbang selagi memuntahkan bola es dari mulutnya, meski begitu tombak itu tak pernah berhenti lalu menusuk punggungnya hingga naga tersebut jatuh ke bawah tepat di atas kota bernama Aldios.


Orang-orang yang memperhatikan mulai berhamburan ke segala arah untuk melarikan diri sampai akhirnya naga itu mendarat tepat di atas bangunan hingga hancur.


Saat naga itu mencoba bangkit tiba-tiba saja tubuhnya mulai mengeras lalu berubah menjadi batu seutuhnya, walau begitu orang-orang tidak pernah meninggalkan kota tersebut dan hidup damai seolah tidak terjadi apapun yang mana berbanding terbalik dengan para Dewi yang masih diselimuti kegelisahan.


Tidak hanya sosok naga yang harus mereka pertimbangkan melainkan kondisi alam Dewi yang seutuhnya telah membeku.


Ristal menyeruput tehnya lalu meletakkannya di meja sebelum berkata.


"Tombak itu tidak bisa bertahan selamanya, kita harus mencari pahlawan untuk mengatasinya terlebih dunia itu masih memiliki ancaman dari tujuh raja iblis yang masih berkuasa saat ini."


"Itu tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi di sini, bagaimana menurutmu Ariel?"


"Anu, kita bisa memanggil pahlawan seperti biasa saja."


"Aku tidak yakin jika satu pahlawan bisa mengatasinya sendiri, bagaimana kalau masing-masing dari kita memilih pahlawannya?" atas usulan Hecate Dewi lainnya mengangguk mengiyakan dan Amnesia menambahkan.


"Jika hanya seperti ini tidak seru, bagaimana kalau kita bertaruh juga.. Siapapun pahlawan yang mampu memberikan kontribusi lebih dibandingkan pahlawan lainnya maka Dewi yang memangilnya akan diperbolehkan turun ke dunia fana selama dia inginkan, sementara yang kalah harus menggantikan pekerjaannya."


"Itu berarti yang kalah akan memiliki pekerjaan dua kali lipat," atas perkataan Ristal, Amnesia mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.

__ADS_1


"Yang kalah tiga orang kita bisa bergantian, dengan ini kita bisa menentukan siapa pahlawan yang paling hebat dan memintanya untuk mengatasi ini semua."


Ristal mendesah pelan.


"Aku tidak ingin ikut, kalian saja yang melakukannya.. Aku lebih suka bersantai seperti ini saja."


"Jika itu maumu kami tidak keberatan."


-


Beberapa tahun kemudian, setelah ketujuh raja iblis dikalahkan tepatnya di alam mimpi keempat Dewi sedang duduk selagi menikmati tehnya.


Ariel tampak mengusap perutnya yang sedang hamil, begitu juga Ristal, sementara untuk Hecate hanya fokus memakan kuenya dan Amnesia fokus pada game di tangannya.


Hecate berkata setelah menghabiskan kuenya.


"Ngomong-ngomong apa dari kita ada yang sudah memberitahukan tentang keadaan alam Dewi dan naga itu pada Kazuya?"


Ketiga Dewi lainnya hanya menggelengkan kepalanya, lalu Ristal yang membalasnya.


"Kalau dipikir-pikir lagi kita selama ini terlalu santai."

__ADS_1


__ADS_2