Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 291 : Pasukan Utama


__ADS_3

Di sebuah tempat di sebut Benteng Besar Ivielda, kami bertemu dengan seorang bernama Ladolfo Eginhardt.


Keluarga Eginhardt telah mengabdikan diri jauh sebelum kerajaan baru didirikan, dan di luar dugaan bahwa dia juga yang memasukan putri raja sebelumnya ke benteng ini.


Yang membuatku terkejut bahwa putri itu adalah Mion, yah... hal seperti itu bisa kita abaikan.


Aku duduk di sofa saling berhadapan dengannya, sementara di belakangku ketiga pelayanku berdiri memperhatikan. Atas rekomendasi Arthur kami bisa bertemu dengannya.


"Jadi Anda tuan Kazuya yang mampu mengalahkan naga tersebut."


"Aku tidak bisa menjamin bahwa aku bisa mengalahkannya, hanya saja aku ingin mencobanya."


"Begitu."


Sebisa mungkin aku tidak terlalu memberikan harapan lebih pada orang-orang.


"Seperti yang tertulis, kami ingin masuk ke dalam pasukan relawan, apa Anda bisa merekomendasikan saya ke pasukan utama?"


"Itu sangat sulit dilakukan, jika pasukan selain pasukan utama mungkin bisa dilakukan dengan mudah tapi jika untuk itu, tuan harus mendapatkan ujian kelayakan dari komandannya tapi aku bisa menuliskan pemintaan tersebut... kebetulan yang memimpin adalah putra saya."


"Terima kasih."


Aku menerima surat darinya kemudian melanjutkan pergi ke ibukota kerajaan, di sana ada sebuah tempat yang diperuntukan sebagai tempat latihan bagi prajurit.


Semua orang berhenti berlatih saat melihat kami berjalan melewati mereka, tentu hampir semuanya di arahkan pada ketiga pelayanku.


Seorang pria besar berdiri di depanku.


"Namaku Galius apa yang kalian lakukan hingga datang kemari."


"Kami ingin mendaftar sebagai pasukan relawan di sini."


Galius mendengus.

__ADS_1


"Ini adalah pasukan utama, tidak boleh ada pasukan relawan yang ikut bergabung.. dilihat dari penampilanmu kau hanya orang manja dengan tiga pelayan yang melayanimu."


"Boleh aku membunuhnya."


Aku segera menghentikan Rin.


"Kau bisa mengetesku dalam pertarungan pedang, kalau kau mau.. atau mungkin kalian semua."


"Kau mengejek kami, baiklah... aku bukan orang yang mengambil keuntungan dari jumlah orang lawan kami satu persatu."


Semua orang di sini ada sekitar 20 orang dan ahli dalam penggunaan dua pedang.


Aku melepaskan mantelku dan membiarkan Amnestha memegangnya.


Rin memberikanku sebilah pedang terbuat dari kayu, sementara Gabriela menatapku datar dan berkata.


"Tolong sedikit menahan diri."


"Aku tahu."


"Majulah kapanpun."


Satu orang mengambil jarak satu meter untuk menebaskan, gerakannya cukup hebat tapi apa ini benar-benar pasukan yang diunggulkan kebanyakan orang? Aku hanya perlu menendang kakinya dan ia terjungkal ke depan.


Orang-orang berhenti berbicara.


"Kau curang, ini pertandingan pedang melawan pedang mana bisa."


Aku menyentuhkan ujung pedang di lehernya.


"Jika kau berfikir bertarung hanya dengan pedang, kau ini pasti bodoh.. di medan perang apapun bisa dilakukan, bahkan hal curang sekalipun.... selanjutnya."


Seorang wanita bertubuh ramping melesat ke arahku, kedua pedangnya diayunkan di udara seolah menari-nari dan siap menebas dengan gerakan cepat.

__ADS_1


"Kau hanya menggunakan satu pedang, jangan remehkan kami."


Aku memutar pendangku dan pedangnya terlempar ke udara sebelum akhirnya aku menendang kakinya seperti yang kulakukan pada lawan pertama.


Memukul wanita, kurasa terlalu berlebih dalam latih tanding. Wanita itu berdiri kemudian mengambil pedangnya dan kembali menyerang


Aku mempersempit jarak, dengan cepat mengambil kerah bajunya lalu membantingnya ke tanah.


"Kenapa kau tidak menggunakan pedangmu?"


"Walau terbuat kayu kalian bukan lawanku."


Aku mengambil pedang kayu milikku dan berkata.


"Ini akan memakan waktu, kalian semua serang aku bersama-sama, dan lihat seberapa menyedihkan pasukan ini."


"Sialan kau."


Semua orang melompat ke arahku secara bersamaan sementara pelayanku hanya mendesah pelan.


"Mananya yang menahan diri, tuan bahkan terlihat seperti ingin mengambil alih pasukan ini," kata Gabriela yang mendapatkan anggukan lainnya.


Saat aku sadari hanya Galius yang masih berdiri diantara orang-orang yang tumbang.


Dia berlari dengan kecepatan tinggi dan aku dengan mudah melemparkannya ke udara lalu terdengar tepuk tangan dari bangku penonton di mana orang yang melakukannya adalah pria dengan pakaian prajurit, ia memiliki rambut hitam belah dua dengan mata seperti seorang yang kurang tidur.


"Yare, yare, kau hebat juga... kau pasti sudah berpengalaman di medan perang bukan."


"Komandan?"


"Kau sudah kalah telak jadi jangan permalukan dirimu lebih dari itu."


"Maafkan aku."

__ADS_1


"Kau pemimpin pasukan ini?"


"Aah, namaku Nibel Eginhardt, salam kenal."


__ADS_2