Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 439 : Sebuah Peralatan


__ADS_3

"Sayang sekali."


"Yah, jika kalian mau kalian bisa mencari bahannya sendiri dan aku akan buatkan untuk kalian."


"Anda yakin paman?" tanya Falena.


"Tentu saja."


Len dan Falena akhirnya pergi sedikit lebih jauh dari ibukota, menunggangi harimau terbang mereka pergi ke sebuah gunung merapi di mana lava merah masih aktif mengalir dari atasnya.


"Panas sekali."


"Tapi di sinilah semua orang mendapatkan bahan tempaan terbaik, lihat ke sana," mengikuti arahan Len, Falena menatap sebuah pohon yang hidup di tengah kolam lava berwarna merah terang.


"Ada pohon yang hidup di tempat seperti ini?" ucap Falena.


"Kita bisa memotong dahannya untukmu untuk dijadikan tongkat."


"Meski kau mengatakan itu, kita tidak mungkin bisa sampai ke sana ada slime api di dalamnya."


"Itulah bagian terseru dari tempat ini."


Len menarik pedangnya lalu mengarahkan ujung pedangnya ke arah slime yang bermunculan.


"Pergilah ke sana aku akan mengalihkan seluruh slimenya."


"Aku mengerti."


Falena naik ke atas tubuh harimaunya, di saat Len memanggil para slime barulah Falena terbang sementara Len berlari sebisa yang dia lakukan.

__ADS_1


Slime sebanyak 50 ekor terus mengikutinya sembari menembakan krikil api dari mulutnya. Len menangkis semuanya dengan pedang lalu mengarahkan tangannya untuk menciptakan lingkaran sihir es.


Dalam sekejap slime tersebut terkurung dalam bongkahan es namun hanya sementara sampai es tersebut hancur berserakan.


"Hanya untuk slime kalian keras kepala."


"Fire."


Wus.


Api ditembakan untuk mencegah slime mendekat, saat Len tersudut sosok Falena terbang di atasnya.


"Kita pergi."


"Aah."


"Kalian menemukanya?"


"Aku ingin dibuatkan sebuah belati."


"Aku sebuah tongkat sihir."


"Oke, itu mudah bagiku, tunggu beberapa jam aku akan menyelesaikannya hari ini juga."


Setelah menunggu cukup lama mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, Len menerima belati dengan warna hitam lengkap dengan sarungnya yang bisa dia taruh di pinggul belakang sedangkan Falena sebuah tongkat dengan bagian kepalanya berbentuk mahkota bunga mawar.


"Ini uang lebih kalian, aku hanya mengambil sesuai yang telah ditentukan."


"Kau ini orang baik paman."

__ADS_1


"Belakangan ini petualang jumlahnya sedikit, aku tidak tahu tapi mungkin kedepannya aku hanya akan membuat senjata untuk para kesatria atau peralatan dapur bagi penduduk saja."


"Begitu."


Kembali menggunakan gerbang perpindahan keduanya muncul tepat di desa, Len meregangkan tangannya selagi menguap lebar. Saat dia melihat slime dia langsung mengambil ranting lalu memukulinya.


"Ciat... ciat. ciat.."


"Sebenarnya kau ini kenapa?" teriak Falena tanpa mendapatkan jawaban siapapun.


Pagi berikutnya di akademi Koko menggunakan kursi untuk membantunya berdiri menuliskan pelajaran yang akan dibahasnya.


"Hari ini kalian akan belajar tentang ramuan sederhana untuk menutup luka, kalian bisa menyalin bahan-bahan yang kutulis lalu mencarinya nanti selama jam istirahat, siapapun yang tidak bisa menemukannya poin kalian akan dikurangi."


Seluruh muridnya memucat dan dalam hati mereka bergumam hal sama.


"Dasar iblis."


Semakin poin mereka dikurangi maka kesempatan masuk ke dungeon akan semakin lama karena itu, selepas istirahat semua murid berlarian ke halaman perkarangan akademi untuk mencari beberapa tanaman yang sebelumnya mereka beritahu.


Koko membuka jendela di mana di sampingnya duduk melayang Kazuya dengan mata bermasalah.


"Kau sama sekali tidak ada ampun, aku sedikit kasihan pada mereka."


"Ini agar saat mereka dewasa mereka akan terlatih di militer serta memiliki kedisiplinan tingkat tinggi."


"Begitukah, yah kurasa jangan sampai membuat mereka kesulitan.... ngomong-ngomong Koko mau main denganku, aku punya permen loh."


"Dasar lolicon, cepat pergi sana," teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2