
Di sebuah sungai yang mengalir sangat jauh, aku, Ariel dan putri kami Elen hanya mengenakan pakaian renang sekarang.
Ini adalah sebuah pegunungan yang jarang didatangi manusia.
"Aku tidak yakin suamiku, apa ini akan baik-baik saja?"
"Jangan khawatir, ini pasti menyenangkan."
Ariel adalah seorang Dewi meski begitu dia lebih pemalu dari siapapun, yah bagiku ekpresi malunya sangat menggoda.
Aku menciptakan tiga ban yang satu sama lain saling berdempetan yang mana benda ini sering digunakan di wahana kolam berenang, aku memangku Elen lalu meletakkannya di bagian paling depan.
"Apa kita akan jalan-jalan dengan ini papa?"
"Benar sekali, Elen bisa melihat berbagai pemandangan di dalam hutan ini."
"Sepertinya menyenangkan."
Ariel di tengah dan aku ada di belakangnya, saat kami sudah siap, aliran sungai yang tidak terlalu deras menyeret kami berjalan, suara burung dan berbagai suara yang dikeluarkan hewan-hewan kecil terdengar saling bersahutan.
"Mama, itu apa?"
"Hmmmm... itu, makhluk asing."
Aku mencubit pipinya pelan dari belakang.
"Mana ada makhluk asing di tempat ini."
"Mama membohongiku."
"Cuma bercanda, mereka disebut burung pelatuk."
__ADS_1
"Mereka makan pohon?"
"Sebenarnya mereka makan ulat yang ada di dalamnya," tambahku.
"Begitu."
Setiap Elen memiliki pertanyaan kami akan selalu menjawabnya, ini lebih mirip seperti pergi ke kebun binatang yang luas tanpa ada tembok ataupun kawat penghalang.
Beberapa capung maupun burung akan senang mengantar kami di setiap perjalanan, terkadang kami berhenti untuk bermain dengan tupai, singa maupun buaya. Karena aku menggunakan skill Tamer semuanya tidak akan berbahaya kendati demikian Elen dilarang untuk menyentuh mereka tanpa ada kami berdua. Yang jelas waktu seperti ini memang sangat berharga.
Sore harinya karena kelelahan aku menggendong Elen yang tertidur di punggungku untuk berjalan kembali ke mansion, ekpresinya terlihat sangat bahagia.
Untuk Ariel, dia berjalan di sampingku selagi melirik ke arah orang-orang yang berlalu lalang dengan senyumannya.
Mungkin ini pertama kalinya dia pergi ke dunia manusia hingga sejauh ini.
"Tuan Kazuya silahkan coba ini. Nyonya Ariel juga."
Seorang wanita penjual kue menghentikan kami tepat di depan tokonya selagi menyodorkan potongan kue.
"Bilang aaa."
"Aaa."
Ariel mengambil satu yang mana ia suapkan ke dalam mulutku sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.
"Ini lembut," kataku.
"Dan juga sangat manis, aku menyukainya."
"Begitu, boleh aku beli sepuluh kotak untuk dibawa pulang.. kurasa yang lainnya juga akan menyukainya."
__ADS_1
"Siap."
Di mansion cukup banyak orang sepuluh kotak kurasa jumlah yang pas untuk semuanya, dengan demikian hari ini berakhir dengan pesta kue yang meriah.
Elen yang tidurpun langsung terbangun untuk mengambil bagiannya sendiri.
***
Di luar desa itu, aku, Dorothy, Bellatrix dan juga Rima akan memulai perjalanan kami untuk mencari lima roh yang sebelumnya diberitahukan oleh Amnestha.
Aku memberikan sebuah mendali dengan ukiran wanita yang memegang harpa pada Rima.
"Bukannya ini roh pemusik."
"Aku mengambilnya saat waktu itu, bagaimana? Hebat bukan, apa kau tidak ada keinginan untuk menciumku?"
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Tapi terima kasih."
Aku tersenyum sebagai balasan.
"Kalau begitu mari pergi."
Bellatrix merubah wujudnya menjadi seekor naga yang kemudian kami naiki di punggungnya sebelum akhirnya melesat di atas langit yang luas.
Dulu aku pernah berfikir bahwa langit itu memiliki banyak misteri seperti di dalam lautan, beberapa orang juga terkadang menyebut langit sebagai dunia baru yang belum terjelajahi.
Dan perkataan itu, memang benar.
Pemandangan hamparan awan membentang sepanjang penglihatanku bersamaan para ikan yang terbang di sekelilingku, ada ikan paus di antara mereka juga yang melompat dengan indah.
Penjelajahan langit kami dimulai.
__ADS_1