
Mereka berempat menyergapku dari segala arah. Diamond mengayunkan sabitnya bertepatan saat Melfia mengeluarkan pisau dari bajunya.
Aku menangkap pisau maupun sabit dengan tanganku sementara dari belakang dan depan Mary ataupun Lend sudah siap menyerang.
Mary memanjangkan kuku di tangannya sedangkan Lend menggunakan pisau bedah.
Orang ini adalah orang yang merubah manusia menjadi iblis dan membuat mereka melahap apapun, karena itulah aku akan menghabisinya lebih dulu.
Aku menarik tubuh Diamond dan Melfia ke depan hingga keduanya bertubrukan demi menghalangi serangan Mary, di saat yang sama kumunculkan Grandbell serta mengaktifkan skill lanjutan.
"Demon Blade."
"Celaka."
Pedangku yang berubah menjadi sosok iblis menggigit setengah tubuh bagian atas Lend sementara sebagian lagi tumbang ke tanah.
Di saat ketiga musuh lainnya kebingungan aku memukul perut Melfia, kemudian menendang jatuh Diamond hingga keduanya meluncur menabrak bangunan di punggung mereka.
Mary sekali lagi menyerangku dengan ke dua tangannya, dan aku cukup menembuskan pedangku dengan mudahnya hingga sosoknya tumbang.
Menyadari bahwa aku tidak bisa diserang dari jarak dekat, Diamond menebaskan sabitnya untuk mengirim bilah angin, begitu juga Melfia yang mengirim bola hitam ke arahku.
Aku menghentakan kakiku untuk menciptakan tembok batu hingga kedua serangan itu berhasil ditahan meskipun menghancurkan temboknya sendiri.
"Melfia kita mundur."
__ADS_1
Tentu aku tidak akan membiarkannya, kuubah pedangku menjadi busur kemudian menarik panah dari sana, panah itu seolah membelah udara kemudian menghantam tubuh Diamond hingga meledak, selanjutnya aku juga melakukan hal sama pada Melfia hingga dia juga mengalami hal sama.
Ferida serta pasukannya muncul dari arah belakangku. Ikaros juga tampak meneteskan air mata selagi memegangi tangannya yang terluka.
Sebagian orang sudah tidak bisa aku hidupkan kembali termasuk Nal yang mana membuat Ferida duduk menangis, aku berjalan ke Mary yang sejujurnya masih hidup.
Sepuluh ekornya bergerak.
"Aku tidak ingin mati, selamat aku."
Aku mendesah pelan selagi memikirkannya, di adalah kucing raksasa yang mengerikan. Apa aku harus membunuhnya? Aku mengeluarkan pisau dari balik mantelku, saat hendak menusukannya di lehernya aku terdiam karena wajah Mary kini sedang menangis.
"Kau?"
Pada akhirnya aku membuang pisau di tanganku lalu menyembuhkan lukanya. Ferida muncul selagi mengambil pisau yang kubuang barusan lalu melangkah maju.
Aku menangkap pisau tersebut tanpa meninggalkan setetes darah pun.
"Bukan dia yang membunuhnya, seharusnya kau tahu itu."
Pisau dijatuhkan dan Ferida hampir terduduk di tanah jika bukan karena Ikaros yang sigap menahannya.
Aku berkata pada Mary.
"Kau akan ikut denganku ke desa, sebaiknya kau mengatakan semuanya."
__ADS_1
Aku mengikat tangan Mary dengan tali, sebelum pergi aku membantu memperbaiki kota ini kemudian menyaksikan pemakaman orang-orang yang gugur dalam perang.
Bagi orang-orang yang telah dimakan iblis mereka sudah tidak dapat dihidupkan kembali, karena itulah jumlah yang gugur sangatlah banyak.
Dengan kekalahan para komandan, aku yakin raja dunia bawah tak akan muncul dalam waktu dekat, ia pasti akan mempersiapkan semuanya untuk menyerangku dengan kekuatan penuh.
Aku yakin itu.
Selagi membawa Mary dari belakangku, aku kembali ke desaku.
Bellatrix maupun Katharina tampak terkejut saat aku membawa wanita asing di belakangku.
"Apa dia?" tanya Bellatrix.
"Dia adalah salah satu dari komandan pasukan raja dunia bawah, aku ingin Bellatrix mengawasinya."
"A-aku?"
Aku memakaikan kalung di leher Mary kemudian melepaskan kedua tangannya lalu berkata.
"Aku sudah menerapkan kutukan ke dalam kalung itu. Jika kau mengeluarkan sihir, kau akan mati jadi berhati-hatilah dalam bertindak."
Mary hanya diam dengan pandangan kosong sementara Bellatrix memegang tangannya.
"Jangan khawatir, aku akan memperlakukanmu sebagai teman, mari pergi, aku akan menunjukan rumahku."
__ADS_1
Untuk urusan seperti ini, aku lebih mengandalkan naga seperti Bellatrix lagipula aku tidak memperkenankan tahanan diperlakukan tidak manusiawi di sini.