
Sekembalinya di desa aku menemukan seseorang terbaring di tanah, aku mendekatinya setelah mengambil tongkat yang kutusukan pada perutnya.
"Hentikan, jangan menusuk-nusukku."
"Sedang apa kau?" tanyaku dengan wajah bermasalah.
"Hari ini cukup membosankan jadi aku memutuskan untuk berbaring di sini."
Orang yang berbaring di tanah selagi tidak memperdulikan penampilannya adalah Katharina, tentu dia telanjang.
Saat aku menghela nafas panjang Asteropedia muncul dengan wajah panik.
"Oi Kazuya gawat... penerbit lain tiba-tiba saja bermunculan, aku perlu bantuanmu untuk meledakannya, aku sudah bawa bahan peledaknya sih "
"Sekotak dinamit," teriakku.
Kedua orang ini syaraf.
"Kau tidak bisa melakukan itu, kau ingin dipenjara hah."
"Mereka meniruku, karena itu mereka pantas balasannya."
"Mereka tidak meniru produkmu mereka hanya menerbitkan buku yang sama... itulah yang disebut sebagai perkembangan kebudayaan, namanya budaya akan bisa mempengaruhi lainnya dan menyebar dengan cepat."
"Benarkah, lalu apa yang sebaiknya kulakukan?"
"Biarkan saja lagipula bukannya lebih menarik jika banyak orang yang menulis juga, persaingan membuat hal tidak membosankan."
Katharina memelukku dari belakang.
"Aku juga ingin bersaing tapi dalam apa?"
"Jangan tanya aku, sebelum itu pakailah sesuai atau setidaknya tutupi tubuhmu."
__ADS_1
"Tidak akan dan tidak akan pernah."
Aku beralih ke arah Asteropedia lagi.
"Benar juga, bagaimana kalau kita buat sebuah festival komik atau manga di desaku... aku bisa mengundang seluruh penulis untuk bisa memamerkan karya mereka entah yang sudah bekerja di penerbit ataupun yang mandiri, kita juga bisa menambahkan beberapa cosplayer sebagai pengawas dan memeriahkan acaranya."
"Owh, itu ide bagus... aku juga tidak akan kalah dengan mereka termasuk penulis yang bekerja di perusahaanku."
Mamisa muncul entah darimana dan menimpa pembicaraan.
"Apa ada yang mengatakan memeriahkan, jika itu yang kalian inginkan maka akulah orang tepat yang bisa melakukannya."
"Yah, ini bukan festival Idol."
"Tak masalah, aku cukup percaya diri dengan diriku... aku bisa mengenakan pakaian apapun sekalipun terbuka."
Dia memang artis profesional.
"Paling tidak aku membutuhkan waktu beberapa hari, setelahnya akan kukirim pemberitahuannya."
Mamisa maupun Asteropedia lenyap kecuali Katharina yang masih memelukku dari belakang.
"Jalan tuan Kazuya."
"Berjalan saja sendiri."
"Sesekali aku suka digendong... tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana, enak toh, mantap toh."
"Jangan bernyanyi... kau hanya semakin berat."
"Jadi benar, kekuatan tuan Kazuya sudah menghilang."
"Seperti itulah... aku hanya manusia biasa sekarang."
__ADS_1
"Fufu walau aku menyerang tuan Kazuya aku dipastikan akan menang."
"Berhentilah meniup telingaku."
Sesampainya diruanganku aku bisa mendengar pinggangku yang terasa mau patah, aku duduk di kursiku sementara Katharina duduk di sofa selagi membaca majalah.
Bersamaan itu dua Siren pekerjaku muncul, mereka adalah Vina dan Vania.
"Ini berkasnya tuan."
"Terima kasih."
"Eh, perdagangan kita turun beberapa persen dari bulan lalu?"
"Soal itu beberapa pedagang enggan datang kemari... kudengar ada bandit yang mencegat jalan mereka."
Walau raja iblis berhasil dikalahkan kejahatan kecil seperti ini memang sering terjadi.
"Bagaimana dengan kelompok Zeper."
"Mereka mengatasi masalah di ibukota."
"Belakangan ini para bandit merajalela di mana-mana."
"Begitukah, yah kalian boleh pergi.
Katharina memotong setelah kepergian mereka.
"Mau aku yang mengurusnya, aku bisa menghabisi mereka dengan cepat."
"Aku tidak yakin menyerahkannya padamu, kau pasti akan membunuh mereka."
"Sudah jelas kan, mereka telah menganggu bisnis kita lebih baik dilenyapkan haha."
__ADS_1
Dia malah mirip raja iblisnya.