
Setelah mendapatkan informasi penyerangan kota, keempat Arch Priest keluar dari katedral lalu menyebar di kota.
Elbina mengambil arah ke kiri dan melihat seluruh pendeta sedang mengatasi Golem raksasa, bahkan dengan jumlah pendeta sebanyak itu Golem masih sulit diatasi. Elbina mengeluarkan kertas yang disembunyikannya di pahanya lalu melemparkannya ke udara.
Kertas itu terbang di langit kemudian menempel di wajah, kedua tangan dan kedua betis Golem.
Selanjutnya kelima kertas itu meledak dahsyat hingga mampu menghancurkannya dan membuatnya rubuh ke samping.
"Nona Elbina Anda berhasil."
"Ini semua berkat semuanya... cepat bantu evaluasi penduduk, biar kami para Arch Priest yang akan mengatasi para iblis."
"Baik."
Setelah semua pendeta pergi Elbina mengalihkan pandangan ke arah reruntuhan di mana sosok wanita duduk di sana santai dengan pedang kembar di kedua tangannya.
Saat dia mengibaskan pedang itu penutup wajah yang menutupi Elbina terbang jauh.
"Kau wanita yang cantik rupanya, Arch Priest di kota ini memang menggoda, kalau aku manusia aku pasti sudah menodaimu sekarang."
"Kenapa kau masih diam tanpa melakukan apapun?" Tanya Elbina tanpa memperdulikan perkataan sebelumnya.
"Aku hanya bertarung dengan orang kuat dan kulihat kau memenuhi kriteriaku."
Wanita itu berdiri dan menunjukkan kedua bilah pedang pada Elbina.
"Namaku Alista, iblis dari neraka keenam... siap membunuhmu."
Kertas di sekeliling Elbina mulai membentuk dirinya menjadi pedang tepat di tangan Elbina.
__ADS_1
"Akan kuhadapi dengan segala kekuatanku."
Alista melompat selagi mengayunkan pedangnya dari atas yang mana Elbina menahannya dengan pedang kertas miliknya membuat Alista melompat mundur ke belakang.
"Kertas apa itu? Keras sekali."
"Ini kertas yang sanggup membunuh iblis."
"Menarik."
Keduanya saling membenturkan pedang menghasilkan suara layaknya logam berbenturan, seperti itulah kekuatan dari Elbina.
Trang... Trang... Trang.
SRAK.
Tubuh mereka berdua sama-sama tergores, Elbina menyerang dengan gerakan tusukan sementara Alista menahan dengan menyilangkan pedangnya, itu benar-benar menciptakan percikan kembang api ke udara.
Bahkan pedang Elbina pun ikut terbakar.
"Kertas tetaplah kertas, itu masih akan terbakar
"Ugh."
Sebuah tendangan menerbangkan Elbina ke belakang di saat yang sama, Alista telah siaga dalam menyerang.
"Tebasan Pembunuh."
SRAK.
__ADS_1
Sebelum tebasan itu mengenai Elbina dia sudah melindungi dirinya dengan seluruh kertas di seluruh tubuhnya, kecuali dirinya seluruh bangunan di sekilingnya telah terpotong rapih dengan api biru membakar semuanya.
Alista berjalan meninggalkan jejak api di setiap langkahnya, sementara itu Elbina berusaha bangkit kembali.
"Sepertinya kau telah menggunakan seluruh kekuatanmu."
Elbina tersenyum lalu berdiri dengan kekuatan yang masih dia miliki.
"Aku awalnya tidak ingin menggunakan kekuatan ini, tapi rasanya mustahil jika lawanku iblis tingkat atas."
"Apa yang kau rencanakan?"
Elbina merogoh belahan dadanya dan menarik kertas berwarna emas dari sana membuat dadanya sedikit bergoyang.
Dia merapalkan mantra ke dalam kertas itu lalu dalam sekejap kertas itu menghilang. Dengan santai Elbina berjalan mengambil penutup wajahnya.
Alista yang melihatnya hanya tertawa lalu berkata.
"Apa kau ingin melarikan diri karena sudah tahu seberapa lemahnya dirimu."
Elbina melirik ke arah Alista lalu mengangkat tangannya untuk memunculkan kartu emas miliknya kembali yang lalu ia taruh kembali di belahan dadanya.
"Aku sudah selesai."
"Hah."
"Kau ini sudah mati."
Ekpresi Alista begitu terkejut, bagi dirinya dia masih hidup namun setelah beberapa saat akhirnya dia mengerti.
__ADS_1
Kepalanya sudah terpenggal.
Dia berubah menjadi abu dan hancur tertiup angin.