Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 471 : Pelabuhan Habiel


__ADS_3

Selly dan Sella mendorong bokong Akane agar dia bisa melewati tembok besar.


"Hentikan jangan menggerayangi tubuhku."


Mereka tetap saja menjahilinya.


"Bagian ini sangat lembut."


"Benar."


Aku yang lebih dulu melewati tembok tersebut hanya bisa mendesah pelan dengan tingkah laku mereka, saat aku memalingkan wajah sesuatu dijatuhkan dari atasku hingga aku tenggelam dalam belahan dada Akane.


Atau sejujurnya dia sengaja menimpaku dengan tubuhnya.


"Berat sekali tapi lembut."


"Tidak sopan."


Akane berdiri dan aku bisa menarik nafas lega namun setelah itu Selly dan Sella melakukan hal sama hingga rasanya tubuhku mau remuk saja.


"Kalian berdua," kataku mengerang kesakitan.


Aku benar-benar tertimpa durian runtuh.


Setelah menenangkan diriku kami menyelinap secara diam-diam ke sebuah katedral satu-satunya di tempat ini.


Ini adalah pelabuhan Habiel yang dikatakan oleh Amaterasu sebelumnya. Agak sulit untuk menerobos masuk jadi kugunakan Akane sebagai umpan.


"Ini memalukan."


"Lakukan tugasmu."

__ADS_1


"Dasar monster."


Aku meminta Akane mengenakan pakaian penari sexy, pria manapun tidak mungkin bisa menolak pesonanya.


Dia muncul di depan para penjaga dengan pose nakal.


"Halo semuanya, apa ada dari antara kalian mau menemaniku?"


"Kau tidak boleh mengenakan pakaian seperti itu di sini, cepat tangkap dia."


"Eeeehh."


Seluruh penjaga mengejarnya dengan niat berbeda dari yang kubayangkan, aku meminta Selly dan Sella membantunya sementara aku masuk ke dalam katedral.


Di depan jendela besar itu ada sosok wanita lain berpakaian serba putih, matanya tertutup kain kendati demikian dia menyadari kedatanganku.


Dia mengambil pisau lalu melemparkannya ke arahku, dengan sigap aku menangkisnya hingga pisau itu hanya menancap di dinding.


"Aku ingin tahu di mana Amaterasu di penjara."


"Kau terlihat seperti bukan pengikutnya tapi kenapa kau menanyakannya?"


"Anggap saja aku memiliki kesepakatan dengannya."


Wanita di depanku memunculkan tombak di tangannya lalu berkata.


"Kau harus mengalahkanku jika ingin mengetahuinya."


Wanita di depanku melangkah maju, saat pedang maupun tombakku saling bertubrukan itu membuat ledakan udara yang memecahkan seluruh kaca di ruangan ini.


Tudung yang menutupi rambutnya tertiup angin menampilkan rambut pirang panjang darinya.

__ADS_1


"Lightning Spear."


Tubuhku terdorong oleh petir hingga terseret membentur dinding dengan keras. Amaterasu itu tidak mengatakan siapa lawan yang harus kuhadapi.


Ini bukan lagi lawan mudah ditangani, orang di depanku jelas sangatlah kuat.


"Namaku Michella seorang Arch Priest yang akan menghukum siapapun yang mendukung kejahatan."


Aku sempat menanyakan soal Amaterasu pada Selly dan Sella tapi sesuai yang kuduga mereka tak bisa diharapkan, sebelum bertemu denganku mereka berdua tinggal di sini hanya saja selama itu hobi mereka hanyalah meledakan kota yang mereka datangi tanpa mengenal tentang dunia ini.


Betapa bebasnya mereka saat dulu.


Di sisi lain wanita bernama Michella ini pasti tahu sosok Amaterasu, dan sepertinya dia sangat marah.


Tadinya aku hanya ingin mencari berkas di sini sebagai informasi sayangnya itu sangat sulit.


"Namaku Kazuya, aku tidak bermaksud untuk bertarung denganmu, seperti yang kukatakan aku hanya ingin tahu di mana Amaterasu di penjara?"


"Aku tidak akan mengatakannya, sudah jelas kau ingin mengeluarkannya dari sana bukan?"


"Aku perlu seseorang untuk menyatukan tanganku kembali."


"Tak akan kubiarkan."


Michella mengayunkan tombaknya, meledakan seluruh bangunan ini dengan petir yang muncul di setiap ayunannya.


Setelah beberapa saat.


Tahu-tahu seluruh bangunan ini hancur.


Aku hanya menatap dengan pandangan bermasalah sementara Michella terduduk selagi menangis.

__ADS_1


Sebenarnya apa-apaan ini?


__ADS_2