
"Tolong pesan lagi."
"Silahkan."
"Terima kasih."
Ini adalah kedai yang menyajikan makanan telur sebagai hidangan utama, setelah perjalanan melelahkan selama seminggu ini. Layne datang ke kota dan membeli beberapa makanan untuk dirinya.
Uangnya hanya tersisa sedikit karena itulah setelah mengisi perutnya dia akan mencari pekerjaan yang bisa mendatangkan uang dalam waktu singkat.
Layne berjalan di jalanan utama kota dan menemukan seorang gadis kecil sedang duduk bersandar di tembok selagi menawarkan beberapa tumbuhan yang bisa ditemukan di mana pun kau berada.
"Apa yang kamu lakukan?" karena tampak murung Layne bertanya ke arahnya.
"Sejak pagi aku belum menjual satu pun."
"Begitukah, ini semua jamur kurasa beberapa orang tidak menyukainya... bagaimana kalau kau ikut denganku, aku pikir aku butuh bantuanmu untuk mengumpulkan sesuatu."
"Bolehkah aku, tapi tubuhku lemah."
"Tidak perlu khawatir, ini mudah koq."
Layne meminjam busur dari pemilik kedai yang sebelumnya dia masuki, jika dia mendapatkan ikan yang banyak untuk mereka, maka mereka akan membayarnya dengan harga mahal.
Karena itulah Layne memerlukan seseorang untuk mengutip ikan sekaligus panahnya. Setelah menjelaskan itu gadis kecil mengangguk mengiyakan hingga keduanya pindah ke lokasi sungai yang dipenuhi bebatuan.
Ikan-ikan tampak berlalu lalang terbang di atasnya.
Satu panah dilesatkan dan satu dari mereka terkena cukup baik.
"Aku akan mengambilnya."
"Tolong yah."
Setiap panah yang dilesatkan Layne selalu tepat sasaran hingga tanpa terasa mereka telah mendapatkan 55 kor ikan dalam waktu singkat, ada lima ekor lebihnya karena itu Layne memutuskan untuk memasaknya di depan api yang dibuatnya.
"Makanlah."
"Terima kasih, kakak sangat baik."
__ADS_1
"Benarkah, tapi sebenarnya kakak ini penyuka sesama jenis dan kerap melakukan hal tidak senonoh terhadap gadis kecil sepertimu."
Gadis itu tertawa.
"Kalau begitu berarti dari awal aku sudah dalam bahaya."
"Lain kali jika ada seseorang mengajakmu kau harus menolaknya."
"Aku mengerti."
Layne tersenyum lalu mengigit daging ikan yang telah dibumbui saos tersebut.
"Enak sekali.... ngomong-ngomong apa jamur itu kamu kumpulkan sendiri?"
"Kami menanamnya di ladang, ibuku yang merawatnya sementara aku membantu menjualnya, kebetulan saja tanaman yang kami tanam rusak dan hanya jamur ini yang kami jual."
"Begitukah, apa terjadi sesuatu pada ibumu?"
"Dia mengenakan tongkat karena pernah terjatuh... ibu bilang jika ibu sendiri yang berjualan, semua orang yang beli hanya akan merasa kasihan... kami memang hidup sederhana tapi kami tidak suka dikasihani atau sampai minta-minta."
"Aku bisa mengerti itu," ucap Layne selagi mengelus rambut gadis tersebut.
"Tolong jangan bercanda hal yang vulgar."
Keduanya kembali ke kedai lalu memberikan seluruh ikan yang mereka tangkap pada pemiliknya, sebagai bayaran mereka dapat 5 koin emas.
"Nah paman... apa kah kau mau memperkerjakan gadis ini di sini? Dia bisa bantu-bantu dan juga punya ladang sendiri yang nantinya bisa dijual di kedaimu."
"Benarkah itu?"
Gadis kecil itu mengangguk mengiyakan.
"Lihat, dia juga punya jamur yang terlihat segar."
"Aku akan membelinya... akan bagus jika dijadikan sup."
"Alangkah lebih baik ibunya juga bisa kerja di sini."
"Kami memang membutuhkan pegawai baru, besok kalian bisa langsung bekerja."
__ADS_1
Gadis itu melirik ke arah Layne, dan Layne membalas dengan kedipan mata sebelum akhirnya pergi ke sebuah desa yang tidak jauh dari kota.
Layne mengambil dua koin emas sementara sisanya ia berikan pada gadis tersebut.
"Bukannya harusnya aku yang lebih sedikit."
"Ambillah, atau aku akan marah."
"Baik."
Di depan rumah tersebut tampak seorang ibu yang sedang menyirami kebun selagi memakai tongkat.
"Ibu."
"Putriku sudah pulang."
"Kita dapat uang yang banyak, dan kita juga bisa bekerja di sebuah kedai selagi menjual sayuran di sana."
"Eh, tapi ibu?"
"Tenang saja, aku sebenarnya seorang Arch Priest yang sedang dalam perjalanan, aku bisa mengobati kakimu."
"Apa bisa?"
Layne mengangguk mengiyakan, ia mengulurkan tangannya memunculkan sihir cahaya hingga dalam sekejap kaki wanita itu kembali sedia kala.
"Aku bisa berjalan."
"Kalau begitu aku ingin melanjutkan perjalananku, kalian hiduplah yang rukun."
"Terima kasih banyak kakak."
"Terima kasih."
Keduanya menangis.
Layne hanya tersenyum selagi melambaikan tangan lalu mengambil apel dari sihir penyimpanannya.
Dalam perjalanannya dia tanpa sengaja bertemu seekor kadal bersayap, karena penasaran dia menaiki punggungnya namun sayangnya kadal itu terbang dengan cepat lalu menukik jatuh ke bawah air terjun.
__ADS_1
Di saat dia mendarat dia menemukan dua orang yang sedang mengumpulkan sesuatu dari dalam sungai, ia pun memutuskan mendekat untuk menyapa keduanya.