
Aku kembali ke kerajaan Artharissa untuk menemui ketiga pelayanku bersama Selly dan Sella, dari mereka semua hanya menengadahkan tangan untuk meminta hadiah dariku.
"Aku tidak tabu harus memberikan kalian apa? Jadi kalian bisa mengatakan apa yang kalian suka."
"Kalau begitu kami ingin pergi ke pemandian air panas," ketiganya berkata di waktu yang hampir bersamaan.
Sepertinya akibat beban pekerjaan yang kuberikan pada ketiganya mereka pasti kelelahan.
"Baiklah, mari pergi berlibur."
"Bagaimana dengan kami?" tanya Selly dan sepertinya Sella juga memiliki pertanyaan yang sama.
"Kita semua, biar adil aku akan memberikan Rin, Amnestha dan Gabriela hadiah tambahan tapi sebelum itu kita akan kembali dulu ke masion... Pekerjaan di sini telah selesai, kita hanya akan mengawasi perkembangan dari negara ini kedepannya."
"Kami mengerti."
"Untuk para malaikat mereka bisa kembali ke tempat asal mereka."
"Tuan yakin? Bukannya mereka akan ditugaskan untuk mengawasi para murid."
"Aku tidak enak pada mereka menyuruh hal seperti ini jadi aku meminta para demi human untuk membantu."
Tepatnya orang-orang yang sebelumnya dijadikan budak, aku juga meminta tambahan pekerja dari Riko.
Tentu semua orang yang terlibat di bayar semestinya dan seperti biasa aku membiarkan perdana menteri mengurusnya. Gabriela berkata.
"Beberapa malaikat tidak keberatan soal itu, apa mereka diizinkan tinggal di sini walaupun tidak bekerja."
"Kalian bebas untuk datang berkunjung, entah itu malaikat, demi human atau ras lain kerajaan ini terbuka untuk semuanya."
"Itu melegakan."
Aku berpamitan ke semua orang kemudian kembali ke masionku, yang sesungguhnya masionnya sendiri milik Rusina.
__ADS_1
Mereka berlima masuk ke dalam untuk beristirahat sementara aku memilih untuk duduk di pekarangan rumah selagi menikmati tehku seperti biasanya.
Belakangan ini sangat melelahkan dan sesekali aku juga tidak bisa tidur, Riel yang tahu kedatanganku muncul untuk menemaniku.
"Selamat datang kembali suamiku."
Dia sangat imut saat mengatakan suami.
"Bagaimana kalau Riel duduk di pangkuanku.
"Bolehkah?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, permisi."
Aku memeluk perut Riel, tubuhnya memang hangat dan lembut. Kenapa wanita bisa selembut ini?
"Bagaimana dengan perjalanan di sana?"
"Itu cukup melelahkan tapi sekarang sudah teratasi dan sekarang kita akan berlibur ke pemandian air panas."
"Pemandian air panas kah, itu pasti menyenangkan."
Ketika kami asyik mengobrol sesuatu jatuh dari atas langit membuat lubang tepat di hadapanku, karena kejadian ini sering terjadi aku bisa memakluminya. Aerith dan Hesna yang baru belanja segera datang.
"Apa itu?"
Mereka datang di waktu yang tepat.
Aku dan Riel memastikan apa yang jatuh dari sana dan menemukan bahwa itu adalah wanita Oni yang pernah aku temui.
"Minerva?" aku memanggil namanya.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu tapi bawa ke dalam."
Setelah mendengar penjelasanku semua orang akhirnya mengerti siapa sosok Minerva sebenarnya, walau begitu kami semua tidak ada yang ingin menyimpulkan dia sebagai musuh atau teman hingga Nermia sendiri yang bertugas merawatnya.
Bahkan setelah dua hari berlalu sosok Minerva masih di dalam kamar dengan wajah yang selalu menangis, makanannya sendiri sama sekali tidak disentuh olehnya.
Itu semakin membuatku penasaran hingga kuberanikan diri untuk masuk dan mengobrol dengannya.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku pada Minerva yang hanya duduk diam selagi memeluk lututnya.
Air mata terus mengalir dari wajahnya hingga aku mungkin akan merasa sakit melihatnya.
"Minerva," aku terus mengulangi memanggilnya tapi dia sama sekali tidak merespon bahkan ketika aku menyentuh dadanya dia benar-benar mati rasa.
Hatinya seperti telah terbunuh oleh sesuatu.
Ketika aku hendak melangkah pergi suaranya mencapaiku.
"Tolong habisi Alexius."
"Pahlawan masa lalu itu?"
"Dia membunuh seluruh ras Oni demi mengambil kekuatan mereka bahkan Haki dan Helen telah mati."
Dari awal dia memanfaatkan mereka.
Aku tidak tahu harus menjawab seperti apa. Kendati demikian aku tahu bahwa ini berasal dari keputusasaannya.
"Aku akan melakukannya, sebelum itu makanlah sesuatu agar kau bisa melihat bagaimana aku membunuhnya."
Aku berjalan meninggalkan ruangan tersebut, pahlawan itu telah melangkah lebih jauh dari yang seharusnya.
__ADS_1