
Di atas langit biru yang membentang luas sosoknya di jatuhkan begitu saja, dengan kecepatan yang pelan wanita bergaun hitam itu membiarkan dirinya larut dalam kebebasannya.
Ia memiliki tubuh orang dewasa semestinya, dengan rambut merah berjuntai panjang.
"Indahnya," tepat saat dia mengatakan itu, tubuhnya menghantam permukaan tanah menciptakan ledakan debu ke udara.
Seorang wanita lain yang kebetulan berada di sana segera berlari menghampiri.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak masalah, hal seperti ini bukan apa-apa," jawab wanita bergaun hitam selagi mencoba berdiri sebelum memperkenalkan diri kembali.
"Namaku Layne La Roux, salam kenal."
"Aku Queen, raja iblis."
"Tapi kau perempuan?"
"Itu hanya gelar saja, jangan dihiraukan... lalu kenapa kau jatuh dari langit?"
"Aku sedang terbang dan kemudian tiba-tiba saja lemas."
Kriuuuuuuttt..
Suara itu terdengar jelas.
"Jadi begitu. Kau pasti lapar, mau singgah di negaraku... aku punya beberapa makanan di rumahku."
"Mau," jawabnya bersemangat.
Keduanya tiba di sebuah kota satu-satunya yang dihuni oleh ras iblis, tempat itu di kelilingi gunung dan jauh dari pemukiman manusia.
"Silahkan."
Di dalam rumah itu, Queen memberikan roti serta sup hangat yang pas dinikmati saat udara dingin.
"Selamat makan... uwah, rasanya enak."
__ADS_1
"Syukurlah jika kau menyukainya, sebenarnya kau ingin pergi ke mana?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu... aku memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke berbagai tempat untuk merasakan kebebasan."
"Berbagai tempat? Apa sebelumnya kau tinggal di tempat yang sempit."
"Aku tinggal di dunia bawah."
Mendengar itu ekpresi Queen terkejut.
"Bagaimana kau bisa kemari?"
"Aku lewat celah dimensi, ah, jangan khawatir, tidak seperti dengan ayahku... aku tidak suka berperang atau hal sebagainya."
Setelah menilai penampilan Layne, Queen merasa apa yang dikatakannya tidaklah bohong.
"Tapi sepertinya dunia ini dalam bahaya... kurasa sebentar lagi tempat ini akan hancur."
Queen hanya bisa menghela nafas panjang, kedamaian yang telah ia raih demi para rakyatnya apa mungkin akan menghilang begitu saja, sesaat itu wajah seseorang terlintas di benaknya.
Dia adalah Kazuya.
"Pahlawan kah? Pantas saja ayah mengirim seluruh pasukannya kemari," balas Layne selagi menghabiskan supnya kemudian menambahkan.
"Aku tidak peduli siapa yang akan menang, siapapun itu tidak ada bedanya."
"Kau tidak ingin ikut berperang juga?"
Layne menggelengkan beberapa kali.
"Aku tidak suka berperang jika ayahku mati atau dunia ini hancur, aku sama sekali tidak peduli."
"Begitu."
"Terima kasih untuk makanannya, aku akan pergi lagi."
"Secepat itu?"
__ADS_1
"Aku merasa tidak enak jika terus bersama penduduk dari dunia ini."
Queen bisa mengerti apa yang ingin coba Layne sampaikan, dia bukan tidak peduli hanya saja dia tidak bisa membantu siapapun.
Dia tidak bisa menentang ayahnya ataupun mendukungnya, bahkan ketika dia ingin menyelamatkan seseorang dari dunia ini pun dia tidak bisa melakukannya.
Perannya hanya sebagai pengamat tidak lebih maupun kurang.
"Dunia ini sangat indah, aku hanya ingin berpetualang."
Saat Layne hendak pergi, Queen menghentikannya.
"Ada apa?"
"Berpetualang dengan pakaian seperti itu, tidak nyaman... sebentar, aku akan membawakan sesuatu untukmu."
"Eh, jangan repot-repot."
Queen tidak mengindahkan perkataan itu dan bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah kemeja putih, mantel hitam serta rok pendek berwarna serupa.
"Pakailah ini."
Layne mengenakannya dan ukurannya pas di tubuhnya.
"Owh, ini sangat indah."
"Di dunia ini, sihir terbang adalah sesuatu yang jarang ditemui, kalau bisa jangan sampai menggunakannya terlalu sering dan juga jangan mengatakan bahwa kau berasal dari dunia bawah."
"Aku mengerti, kalau begitu aku pergi."
"Gaunmu?"
Layne mengambil gaun tersebut lalu membakarnya dengan sihir api hingga lenyap.
"Kupikir aku tidak akan mengenakannya lagi, selamat tinggal."
"Jaga dirimu."
__ADS_1
Cerita dari Layne hanyalah sesuatu yang akan diceritakan di masa depan.