
Dibimbing oleh Revia, aku dan Cleo dituntun ke ruang bawah di mana salah satu dari ketujuh pencuri pakaian dalam berhasil ditangkap, di ruangan yang hanya selebar 6 tatami itu, seorang tampak diikat dengan rantai selagi mendapatkan perlakuan kasar.
Wajahnya dipukul beberapa kapi oleh pendeta yang mungil, mari kita sebut dengan si Loli.
"Kau, kenapa hanya punya aku saja yang pakaian dalamnya tidak dicuri," pertanyaan itu hanya mendapatkan senyuman sinis si pelaku.
Karena tidak jawab, akulah yang menggantikannya.
"Karena dadamu rata, mungkin di bawah juga kau hanya mengenakan sesuatu yang imut."
"Kau ingin mati, sialan."
Si Loli melompat ke arahku hingga aku terbaring di lantai kemudian mendapatkan tinju beruntun darinya.
"Ara, Ara, Tuan Kazuya membuatnya marah," ucap Revia.
Sementara Cleo menuliskan sesuatu kemudian menghapusnya, hingga si Loli mengerenyitkan alisnya.
"Tunggu, apa yang barusan kau tulis?" tentu dia hanya mendapatkan gelengan kepala.
Walau di depan Arch Priest sikap gadis yang mendudukiku ini cukup cuek.
"Tenanglah Loli, jika tidak ada yang mencuri pakaian dalammu...biar aku saja yang melakukannya."
Pria di dalam sel berbicara.
"Seperti apa yang dikatakan rekanku, apa bagusnya dengan tubuh mungil seperti itu, jika aku jadi kau... aku akan mengambil punya yang bahenol."
"Punyaku sudah terambil."
"Akan kubunuh kau."
Aku memegangi si loli hingga dia hanya mengembungkan pipinya.
"Tenanglah, jika kau membunuhnya kita tidak akan mendapatkan informasi apapun."
Aku menurunkannya lalu melanjutkan.
Pria ini mungkin sulit mengatakannya karena di interogasi oleh wanita, tapi jika sesama pria kurasa kami bisa saling terhubung satu sama lain yang memungkinkan pertukaran informasi yang setara.
__ADS_1
Ngomong-ngomong apa yang sedang kukatakan ini?
Entahlah, aku juga tidak mengerti.
Aku memutuskan untuk duduk di depan si tersangka di dalam sel sementara penonton berada di luar jeruji, kulihat Cleo menuliskan sesuatu di papannya.
(Pahlawanku)
Mari abaikan saja.
Pertama aku bertanya ke arah si pelaku.
"Mau makan?"
"Heh," semua orang terkejut.
"Apa yang kau tanyakan?"
"Sudah kukatakan aku yang mengambil alih."
Si pelaku mengangguk mengiyakan dan para pendeta membawakan apa yang dia minta, tubuhnya juga dilepaskan dari ikatan.
"Minum juga."
"Kau?"
"Ara, kuharap tuan Kazuya memiliki ide yang bagus untuk ini."
Setelah perutnya kenyang baru aku bertanya lebih serius.
"Namamu?"
"Orang-orang di kelompokku memanggilku Amang."
"Amang, apa tujuanmu mencuri?"
Amang mulai menatap sekelilingnya dengan gelisah.
"Jangan khawatir, aku akan menunggumu sampai kau mau berbicara."
__ADS_1
Beberapa jam kemudian dia baru membuka mulutnya.
"Uang."
Perkataan singkat itu, membuat para penonton terjatuh ke lantai.
"Pakaian dalam memang sangat mengagumkan, aku bahkan beberapa kali mengintip ke rok wanita dan setelahnya mereka menghajarku habis-habisan."
Si Amang berdiri lalu menunjuk ke arahku.
"Sungguh perbuatan tak terpuji, harusnya kau malu sebagai pria, wanita itu adalah perhiasan yang tidak boleh diperlakukan seenaknya."
Kami semua memiringkan kepala secara bersamaan.
"Bukannya kau malah lebih buruk, mencuri banyak pakaian dalam wanita.. apa kau menghisapnya seperti sebuah rokok, atau memakannya."
"Ka-kau, memangnya aku sudah gila, sudah kukatakan demi uang."
"Uang apa?" aku balik bertanya.
"Uang itu alat pembayaran yang bisa digunakan untuk membeli beras, sewa kontrakan serta beli baju baru."
Orang ini ngajak ribut
"Maksudku, apa uang itu di dapatkan setelah menjual barang rampokan kalian."
"Tidak, lebih tepatnya seseorang menyuruh kami untuk mencurinya di kota ini.. dia bilang pakaian dalam suci sangat berharga digunakan sebagai hadiah dalam festival ledakan."
Aku menghela nafas panjang sebelum melanjutkan pertanyaan kembali.
"Desa Kumikumi, orang yang menyuruh kalian berasal dari sana bukan?"
Mata si Amang terbelalak kaget.
"Bagaimana kau tahu?"
"Sebenarnya orang di belakangku juga ingin mengikuti kontes aneh tersebut."
(Itu aku)
__ADS_1
Revia dan si Loli hanya bisa menjatuhkan bahunya lemas.