Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 73 : Melawan Kedua Malaikat Ini


__ADS_3

Secara terus menerus aku menembakan panah ke arah para malaikat hingga semuanya berjatuhan seperti layaknya sebuah hujan, hanya dua orang yang memutuskan untuk terbang mendekat.


"Mereka ingin bertarung secara serius kah, baiklah, kalian tunggu saja di sini dan jangan ikut campur."


"Kami mengerti tuan," jawab Selly sebagai perwakilan bertepatan saat aku melompat jauh ke tanah.


"Dia ingin melawan dua malaikat tinggi hanya seorang diri."


"Kau akan tahu seperti apa kekuatannya, dari kita semua tuan Kazuyalah yang mendekati sosok dewa, bukan dialah dewa itu sendiri."


"Mustahil? Aku ingin melihatnya sendiri."


Aku berdiri di area tanah kosong selagi memasukan kedua tanganku ke dalam saku celana, aku mengkhawatirkan uang yang kusimpan di dalam tapi syukurlah masih ada.


Kedua malaikat itu mendarat tepat di hadapanku dengan tombak di tangan mereka.


"Jadi kau yang mengambil calon istriku?" kata Nal.


"Calon istri, dia bukan calonmu... kau sudah ditolak sejak awal."


"Apa kau bilang?"


Dibarengi angin yang menyapu debu, Selly dan Sella muncul di antara kami berdua selagi memukul-mukul panci dengan sendok sayur.


"Semuanya jangan bergerak sampai aku bilang mulai."


"Benar, ingat itu."


"Mulai."


"Kenapa tidak maju."


"Sialan apa kau mengerjai kami," teriak Nal.


"Mereka pelayanku maaf soal barusan, abaikan saja... mari mulai dari awal."


"Sepertinya begitu, dari mana tadi?"


"Kau bilang, jadi kau yang telah mengambil calon istriku?"


"Benar, jadi kau yang telah mengambil calon istriku?"


"Calon istri, dia bukan calonmu.... kau sudah ditolak sejak awal."

__ADS_1


"Apa kau bilang?"


"Untuk manusia kau sangat sombong, perhatikan di mana tempatmu," tambah Ferida.


Nice timing.


"Akan kuperlihatkan seberapa mengerikan manusia itu."


Aku menggabungkan kedua tanganku dan berkata.


"Sihir neraka."


Sesaat keheningan terasa di antara kami bertiga, kecuali suara gagak tidak ada apapun yang terdengar.


"Tidak terjadi apapun?" tanya Nal kebingungan.


"Aku cuma bercanda, mana mungkin aku bisa menggunakan teknik seperti itu."


"Sialan, kau mempermainkan kami lagi... Ferida."


"Aah."


Kedua malaikat itu melangkah maju, keduanya mengirimkan ujung tombak tajam yang dialiri petir secara merata.


Aku menahan keduanya dengan tangan kosong hingga petir hanya melewatiku begitu saja.


Aku menjatuhkan tombak itu ke tanah kemudian mengirim tinjuku tepat di perut keduanya hingga mereka terlempar jauh ke belakang selagi berguling-guling di tanah.


Untuk tombaknya sendiri kubiarkan tergeletak begitu saja.


"Aku cukup menahan diri barusan."


Ferida bangkit lalu menyerangku dengan pukulan dan tinju, sedangkan di belakangnya Nal membuat bola petir.


Aku menunduk saat Ferida mengirim tendangan lokomotif ke arahku, dia kembali memutar tubuhnya untuk memberikan tendangan ke dua, tentu saja aku tidak membiarkannya begitu saja, aku menangkapnya lalu membantingnya ke bawah hingga menyemburkan material tanah ke udara.


"Ferida... beraninya kau? Rasakan ini."


Bola petir dilesatkannya ke arahku, saat aku menahannya dengan satu tangan itu menghasilkan ledakan "BAM" merubah sekelilingku menjadi retakan tanah.


"Ka-kau?"


Ferida yang kubanting bangkit lalu dari belakang menusukan tangannya menembus jantungku.

__ADS_1


"Bagaimana, sekarang kau akan mati?"


"Kau ini wanita cantik tapi bisa sekejam ini?"


"Terima kasih atas pujiannya, aku akan mengingatnya saat kau berada di akhirat nanti."


Aku mendesah pelan kemudian mengaliri tubuhku dengan petir, saat Ferida tersengat dia mundur ke belakang.


Selanjutnya.


Aku mengirim tinju yang mana menghantam wajahnya hingga ia terseret 1 km jauhnya menabrak bangunan kemudian meledak tepat di atas gunung.


Gunung yang sebelumnya ada, kini telah menghilang seutuhnya.


"Bagaimana bisa? Barusan Ferida sudah menghancurkan jantungmu."


"Cuma jantung memang apa yang harus kutakutkan."


Jantungku kembali beregenerasi.


"Sialan... siapa kau sebenarnya?"


Nal dengan putus asa menyerangku secara membabi-buta aku mencengkeram wajahnya kemudian menghantamkannya ke tanah hingga meledak dahsyat.


"Apa kau sudah menyerah?"


"Tidak akan, aku.."


Aku mendorongnya kembali ke tanah dan itu menghasilkan ledakan berikutnya.


"Kau mau menyerah?"


"...."


"Dia pingsan."


Gabriela dan Ikaros buru-buru mendekat ke arahku.


"Apa yang kau lakukan barusan, kau terlalu berlebihan?" protes Ikaros dengan wajah hampir menangis.


"Karena mereka berperingkat tinggi aku pikir aku tidak perlu menahan diri tapi ternyata aku salah, aku minta maaf."


"Minta maaf dengkulmu."

__ADS_1


"Lalu di mana pasukan yang lainnya?"


"Mereka sudah melarikan diri," balas Gabriela.


__ADS_2