
Seorang bernama Nibel itu melompat dari atas membuat mantel hitamnya berkibar tertiup angin lalu kami berdua saling menatap satu sama lain.
Aku mengeluarkan surat yang ditulis ayahnya dan ia membacanya sekilas.
"Jadi begitu."
"Apa kau akan mencoba melihat kemampuanku."
"Tidak perlu, melihat bawahanku babak belur seperti ini, sudah lebih dari cukup, ikutlah denganku kau pasti ingin mendapatkan informasi khusus dari kami."
Aku memakai mantelku kembali lalu mengikutinya ke sebuah ruangan khusus yang berada di dalan istana.
Ada sebuah pintu yang dijaga dua penjaga, setelah menyebutkan nama serta jabatan Nibel, kami diperbolehkan masuk hingga di dalamnya tampak seorang kesatria wanita dengan rambut pirang bergaya ikal sedang berdiri melihat ke arah jendela.
Di dekatnya hanyalah sebuah meja bundar.
"Tidak biasanya kau datang kemari."
"Ada beberapa orang yang ingin bergabung dengan kita, mereka ingin mengetahui pergerakan naga yang sedang kita hadapi."
Aku bertanya-tanya siapa orang ini dan Nibel mengatakan bahwa dia ratu dari kerajaan ini dan sekaligus yang memimpin seluruh pasukan.
"Heh, ratu sendiri terlibat dalam peperangan, terlebih dia masih muda," ucapan Amnestha dibalas oleh Nibel.
__ADS_1
"Naga itu pernah menyerang ke ibukota, orang tua ratu Calistha meninggal dalam Insiden tersebut."
"Ah, aku tidak tahu."
"Jangan dipikirkan, kalian duduklah."
Aku dan Nibel duduk sementara ketiga pelayanku berdiri mendengarkan.
"Sudah sekitar lima tempat yang dihancurkan oleh para monster dan semua insiden itu melibatkan naga hitam, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya hanya saja setiap tempat ia hancurkan selalu rata dengan api.
"Bisakah kau menunjukkan tempat mana saja yang telah dihancurkan."
"Aku mengerti."
Calistha mulai membentangkan peta, kemudian dia menandainya dengan spidol sesuai lokasi yang dia ingat.
Ada lima titik yang dibuat olehnya dan masing-masing berjarak tidak jauh satu sama lain.
Rin berbisik ke arahku.
"Tidak salah lagi itu titik dari lingkaran sihir."
"Aah, kau benar."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Jika kau menyambungkannya satu sama lain kemudian membuat garis bintang maka akan terbentuk lingkaran sihir dan yang terakhir yang akan dihancurkan naga itu adalah di sini."
Aku menunjuk bagian tengah dari penanda.
"Bukannya ini, Desa Bougenville," ucap Nibel.
"Tidak salah lagi bahwa naga itu akan menyerang tempat ini... yang kita lawan bukan hanya sekedar hewan buas, naga itu memiliki akal serta kemampuan luar biasa, awalnya naga hitam ini ingin menghancurkan Benteng Besar sebagai titik awal dan titik akhir adalah Ibukota, sayangnya benteng besar tidak bisa dihancurkan dan naga itu beralih ke sisi lain dan menjadikan Bougenville sebagai titik akhirnya."
"Lalu apa tujuan naga ini?"
"Sudah jelas untuk menghancurkan umat manusia," kataku demikian membuat keheningan terasa di antara kami berdua.
Ini hanya alasan sementara yang bisa kupikirkan.
Aku melanjutkan dengan pertanyaan.
"Berapa hari jarak antar setiap tempat yang dihancurkan?"
"Empat hari... jika mengasumsikan hal itu maka hanya dua hari lagi sebelum serangan terakhir ke desa Bougenville terjadi."
"Jika begitu kita harus mengerahkan seluruh pasukan ke sana," potong Calistha, yang mana dijawab dengan anggukan kecil.
__ADS_1
Harusnya sejak awal kami diam saja di desa dan tak perlu muter-muter seperti ini.
Kami semua lebih dulu tiba di desa dan kemudian menceritakan semua yang terjadi, termasuk desa ini yang dalam masalah.