Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 297 : Pertarungan Raja Bagian Ketiga


__ADS_3

Untuk sekian lama kami membenturkan pedang kami untuk membuat ledakan tak berujung, aku menggunakan beberapa skill yang cukup kuat seperti api hitam ataupun angin yang memperbesar kobaran seranganku.


"Extra Skill... Demon Blade."


Pedang di tanganku terselimuti bayangan hitam dan lama kelamaan menyerupai makhluk seperti Iblis dengan mulut bergerigi layaknya ikan hiu.


Bagi naga, wujud seperti ini bukan apa-apa, aku mengirim ujung pedangku dengan gaya tusukan yang mana dalam sekejap rahang dari ikan hiu menerkam setengah tubuhnya, membawanya berputar-putar di udara sebelum menghantamkannya jatuh ke bawah.


Ledakan bercampur debu menjadi pemandangan utama saat setengah tubuh Tiamat lenyap dimakan pendangku.


Asap mengepul dari tubuhnya saat mencoba meregenerasi ulang dirinya.


"Rekan-rekanmu telah mati, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh lingkaran yang ingin kau buat?"


"Aku akan membangkitkan mereka menjadi Dragon Zombie."


"Itu bukan ide bagus, kau hanya ingin membangkitkan mereka dengan ingatan yang tertinggal dan mereka hanya hidup tanpa jiwa."


"Guakh."


Darah menyembur dari mulut Tiamat.


Dari ekspresinya aku bisa menebak bahwa dia mengatakan," Mustahil, bagaimana kemampuan regenerasi milikku tak bekerja," seperti itulah.


Aku membalasnya.


"Pedang milikku memiliki efek khusus, dimana bisa memotong apapun termasuk takdir seseorang... yang kugunakan barusan hanyalah efek dari extra skill-ku [Demon Blade] yang mana memberikan kutukan kematian pada orang yang digigitnya, kemampuan yang cocok untuk mengalahkan makhluk abadi."


"Sebelum aku mati, paling tidak akan kubawa kau bersamaku."

__ADS_1


Sebelum Tiamat menerjang ke arahku seseorang lebih dulu menghantam tubuhnya dengan tendangan samping hingga meluncur di tanah dan terbaring.


Orang yang melakukannya adalah Galius yang sebelumnya kulawan saat datang ke ibukota.


"Lebih baik kita membunuhnya selagi ada kesempatan."


Aku menggelengkan kepalaku lalu berkata selagi menunjuk ke arahnya.


"Dibanding dia, lebih baik aku membunuhmu."


"Apa yang kau katakan? Kita ini rekan."


Tanpa memperdulikan perkataannya, aku mengirim Demon Blade ke arah Galius dan dalam sekejap pedangku membeku.


"Sudah kuduga, kaulah orang yang mengirim Tiamat ke alam Dewi dan mengendalikannya sebagai boneka."


Galius memegangi wajahnya selagi tertawa terbahak-bahak.


"Sejak awal, skill penilaiku bisa memeriksa kekuatan seseorang dan kekuatanmu sebenarnya terlihat tidak normal."


"Kau memang benar-benar telah menjadi dewa rupanya, harusnya aku membunuh naga itu saat di kota Aldios tapi aku malah berusaha memanfaatkanya untuk menghancurkan benua ini, sepertinya aku salah perhitungan.... aku menggunakan skill Tamer lalu menghubungkan sihirku padanya untuk membekukan dunia para Dewa-Dewi."


"Itulah yang membuat aneh, kenapa naga api bisa menyemburkan es."


"Sepertinya aku tidak memikirkannya sejauh itu."


Ekpresi Galius berubah drastis, matanya berwarna merah sementara ujung mulutnya merobek ke telinga dengan rentetan gigi tajam.


Adapun untuk Tiamat dia tergagap tak bisa berkata apapun, alasan kenapa dia tidak memberitahukan siapa yang mengendalikannya karena dia memang tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Tapi sekarang jelas berbeda.


Di masa lalu mereka berteman baik dan sama-sama berjuang untuk menghabisi para naga.


Seorang yang dianggap mati dalam peperangan dan ternyata masih hidup sampai sekarang.


Sang Naga Es Keabadian, Galius Ages.


"Wajahmu cukup mengerikan Galius," kataku ringan.


"Dibanding dengannya akulah yang pantas menjadi Raja Naga, tidak, lebih dari itu Dewa Naga sesungguhnya," bersamaan perkataannya setiap sisik tercipta di tubuhnya disusul tanduk dan ekor yang muncul dari bagian belakang.


"Bagaimana kau memiliki kemampuan seperti itu, tidak banyak orang yang bisa menggunakan skill pahlawan sepertimu bahkan bisa menerobos masuk ke alam Dewi."


"Mudahnya, aku hanya harus memakan pahlawan lalu menggunakan kekuatannya."


Aku mendesah pelan.


"Jadi begitu, pantas saja kenapa di masa lalu hanya ada satu pahlawan yang ada Dunia ini."


"Apa yang kau maksud Alexius, haha orang itu... bagiku hanya sebuah Lelucon."


"Berlebihan memangilnya sebuah lelucon, walau dia bukan orang baik sepenuhnya paling tidak di masa lalu, dia sudah mencoba menyelamatkan dunia ini."


"Bodoh, alasan kenapa aku tidak memakannya waktu itu karena aku tahu, bahwa orang itu juga akan membawa kehancuran ke dunia ini."


"Mungkin kau memang benar."


Galius memberikan tenaga pada pijakannya selagi membuka mulutnya lebar-lebar.

__ADS_1


"Dragon Ice Buster."


Dari sana sebuah nafas es ditembakan ke arahku dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2