
Setelah mengambil pedang Excalibur di kota suci, Arthur dan rekannya akhirnya meninggalkan benua ini menuju benua jauh di timur menggunakan pesawat udara.
Pesawat udara ini, menggunakan baling-baling bertenaga sihir dan bentuknya terkesan seperti perahu di lautan, yang membedakannya hanya tempat berlayarnya.
Gadis berambut biru bergaya twintail meregangkan tangannya, selagi berkata.
"Jika aku bertemu dengan bangsawan, aku akan meminta bayaran lebih mahal."
"Tidak boleh Clara, kau harus memberikan harga yang adil untuk obat-obatanmu," yang membalas perkataan itu adalah Pireta.
Pireta berpenampilan selayaknya penyihir pada umumnya, ia mengenakan jubah serta topi segitiga dan memiliki rambut perak panjang.
Walau terkesan cantik, Pireta adalah pria tulen yang menyukai wanita.
"Berisik, aku masih akan menuntut bayaran besar pada mereka dan juga kenapa kau tidak mengenakan gaun yang kuberikan padamu Pireta."
"Aku ini cowok, apa aku harus menunjukan punyaku agar kau mau percaya."
"Itu ide bagus."
Clara menyeret Pireta ke dalam ruangan hingga Pireta mati-matian menahan dirinya di depan pintu.
"Selamatkan aku, Luis bantu aku."
"Ogah, aku sedang sibuk," meskipun Luis sejak tadi hanya berbaring di dek selagi menatap langit biru.
Luis memiliki rambut merah naik ke atas dan terkesan gagah, sebelumnya dia berprofesi sebagai petarung jalanan.
Sementara untuk Arthur dia hanya fokus melihat pemandangan di depannya sampai dia melihat sesuatu melesat di antara awan.
"Paman, apa itu?"
__ADS_1
"Ikan terbang, kurasa sudah waktunya mereka migrasi."
"Begitu."
"Kudengar rasanya enak, sayangnya kita tidak bisa menangkap mereka."
Kini gerombolan ikan itu berada di bawah pesawat, bentuk mereka seperti salmon akan tetapi juga memiliki sayap.
Clara dan Pireta yang telah menyelesaikan sesuatu di ruangan tertutup kembali dengan wajah puas.
"Dengar Arthur, punya Pireta sangat besar."
"Aku sudah tidak bisa menikah lagi, sudah kukatakan aku ini cowok."
"Tak peduli jenis kelaminmu, karena kamu cantik kau harus mengenakan gaun."
Arthur memukul pelan kepala Clara.
"Berhentilah menggoda Pireta."
"Lebih baik Pireta mengenakan pakaian renang sexy."
"Aku akan membunuhmu."
"Aku cuma bercanda, oi jangan mencekikku."
"Berisik."
"Ah benar... aku akan menangkap ikan untuk kalian, tunggu saja di sini."
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Arthur mengambil ancang-ancang lalu melompat jatuh ke bawah pesawat.
"Orang itu, apa akan baik-baik saja?" tanya si paman pemilik pesawat.
"Jangan khawatir, kami sebelumnya mendapatkan pelatihan dari mentor terbaik di Akademi," jawab Clara.
Beberapa saat kemudian sesuatu melesat dari bawah ke atas dengan kecepatan tinggi, dia adalah Arthur yang menaiki seekor elang raksasa dari sihir pemanggilannya.
Arthur mengaitkan sebuah tali kawat di ujung pisaunya sebelum dia melemparkannya menembus rentetan para ikan yang berterbangan di udara, sekitar dua puluh ekor berhasil dijeratnya lalu dibawanya naik ke kapal.
Elang yang menjadi tunggangan Arthur menghilang dalam sekejap.
Pireta berkata.
"Biar aku yang memasaknya."
"Tolong yah."
Setiap kru pesawat mendapatkan bagiannya termasuk Luis yang bangun hanya untuk memakannya sebelum berbaring kembali menatap langit.
Clara mencibir.
"Dasar pemalas."
"Berisik, aku ingin sebisa mungkin banyak beristirahat," sedangkan Pireta tampak kesulitan saat dikerumuni para pria.
Bagaimanapun dia terlalu cantik sebagai pria.
"Kau memang hebat, tapi sebenarnya kenapa kalian mau pergi ke Benua Timur."
"Kami berencana menjadi petualang di desa Bougenville."
__ADS_1
"Desa indah itu kah, kalian memang pandai memilih tempat."
Arthur hanya tersenyum masam sebagai jawaban.