
Di dalam kelas yang telah terisi banyak murid dari berbagai kalangan, Arthur tampak bersemangat mempelajari segala hal yang diajarkan gurunya di depan kelas tidak hanya dirinya, entah ini sengaja atau tidak, orang yang sebelumnya dia temui juga berada di kelas yang sama.
Seperti Pireta dan Luis yang duduk jauh bersebrangan.
Clara yang duduk di belakang terus memperhatikan Arthur di depannya, pelajaran pertama dan kedua semuanya tampak baik-baik saja, ketika Arthur mulai mengantuk sebuah air dingin mengguyurnya dari belakang.
"Aku hampir ketiduran, bagus Clara."
"Bukan masalah."
"Ah bukuku basah," semua orang yang melihat hanya bisa menghela nafas panjang.
Saat waktu istirahat semua orang mulai berkumpul di dekat Pireta yang tampak kesulitan, terlebih semuanya adalah perempuan.
"Hey, kenapa kau memiliki wajah seputih ini?"
"Apa kau menggunakan sihir terlarang?"
"Tolong berkencanlah denganku."
"Ah.... ah... anu."
Pireta memang senang diperlakukan berbeda namun hal ini terlalu berat untuknya hingga dia kembali pingsan, Luis yang melihat itu berdiri membuat semua orang terdiam.
Pandangan menakutkan darinya sudah cukup mengintimidasi siapapun, dia berjalan lalu mengambil Pireta seperti sebuah barang.
"Arthur, Clara sampai kapan kau berada di sini, waktunya istirahat."
__ADS_1
"Benar, mari pergi."
"Iya, di sini banyak bangsawan aku takut menjadi incaran nafsu mereka."
Hanya orang-orang inilah yang disebut dengan keanehan sejati, di atas atap akademi setelah membeli beberapa jajanan di kantin Pireta duduk selagi memakan rotinya.
Di sisi lain Clara dan Arthur hanya saling menyuapi satu sama lain, Luis yang memperhatikan hanya mendecapkan lidahnya.
"Jika kita seperti ini bahkan aku sudah yakin tidak akan ada yang menjadi raja di antara kita."
Karena mereka merupakan kandidat dari Rin, Amnestha dan Gabriela mereka telah menjadi akrab satu sama lain.
Pireta berkata.
"Bagiku tidak terpilih juga tidak masalah, aku ingin menjadi penyihir hebat di kota ini."
"Aaah, Arthur makan yang betul jangan sampai keluar dari mulutmu, sayangkan jatuh, ini makanan yang sama yang dimakan bangsawan."
Arthur berkata dengan keras.
"Jika kalian tidak mau, maka akulah yang akan menjadi raja."
"Rakyat jelata menjadi raja, jangan bercanda, salah satu kamilah yang akan menjadi pemimpin negeri ini," suara itu berasal dari kelompok bangsawan yang terdiri dari tiga pria dan satu wanita.
Mereka berempat tampak modis dengan gaya yang terkesan elegan, pakaian mereka begitu bersinar hingga Arthur menutup matanya.
"Silau sekali," katanya.
__ADS_1
"Para bangsawan kemari, apa yang bisa kami lakukan untuk kalian?" tanya Clara.
"Bagaimana jika kalian keluar, aku pikir kalian tidak memenuhi syarat."
Clara mengembangkan senyuman lalu mengeluarkan buku yang diminta dari sihir penyimpanan Pireta.
"Mari kita lihat apa ada peraturan yang melarang rakyat jelata ikut sekolah di sini?" atas pernyataan Clara semua bangsawan hanya bisa mengerenyitkan alisnya.
"Sayang sekali tidak ada, pasti kalian bangsawan yang sangat tidak kompeten."
"Apa?"
Mereka semua saling berhadapan.
"Bagaimana kalau kita buktikan siapa yang terbaik di antara kita dengan duel satu lawan satu," kata salah satu bangsawan.
"Hoh, kedengarannya menarik... aku belum pernah menghajar seorang bangsawan sampai mati," jawab Luis membuat semua orang ketakutan lalu melarikan diri dalam sekejap.
"Cih... tidak mengasikkan."
"Dengan wajahmu seperti itu sudah pasti semua orang akan takut haha," kata Arthur demikian.
"Berisik."
Dan mereka semua pun tertawa.
Namun tanpa disadari, seseorang telah menilai mereka diam-diam dalam sebuah catatan khusus.
__ADS_1