
Esok harinya aku menerima beberapa surat yang dikirimkan dari kota Abelon, lebih tepatnya surat itu berasal dari Selly, aku bisa melihat bekas bibirnya tertempel juga di sana.
Diam-diam Felisa muncul dari belakangku untuk mengintip.
Aku akan membiarkannya saja
"Mereka berhasil mengalahkan pasukan raja iblis."
"Tentu saja, mereka pelayanku."
"Pelayan, tapi kulihat ada kata-kata genit di dalam suratnya.. jangan bilang, kau selingkuh."
Aku hanya mendesah pelan lalu melenyapkan suratnya dengan sihir apiku. Akan merepotkan jika aku menjelaskan dari awal.
Di surat itu juga dituliskan bahwa komandan bernama Marina berhasil melarikan diri.
"Sudah waktunya untuk pergi, aku pamit."
"Berhati-hatilah tuan Kazuya."
"Aah."
Di luar istana itu Helfina bersama beberapa pasukan telah berbaris, dia sudah menjebloskan beberapa bangsawan ke dalam penjara dan sekarang ia juga malah ingin ikut dalam peperangan besar yang akan aku lakukan.
"Kami sudah siap pergi untuk menyusul regu satu," kata Helfina layaknya seorang kesatria.
Sebelumnya regu satu telah lebih dulu pergi ke perbatasan, kini giliran kami untuk pergi juga.
"Hari ini kita akan turut bergabung dalam perang besar, seperti yang kukatakan sebelumnya semua yang ikut berpartisipasi janganlah berkecil hati, kalian akan mendapatkan uang sangat banyak bahkan jika kalian meninggal, keluarga yang kalian tinggalkan akan mendapatkankan konfensasi yang sangat besar... sebagai pemimpin pasukan aku akan menjaminnya, jadi jangan ragu untuk bertarung dan lindungi negara ini bersama-sama."
Teriakan pecah di antara mereka.
"Kita berangkat."
Aku mengarahkan tanganku ke atas untuk menciptakan lingkaran sihir perpindahan dan dalam sekejap kami semua berteleportasi ke sebuah hutan yang mana menjadi kawasan perbatasan kerajaan Weisvia.
Di sini beberapa tenda sudah dipersiapkan oleh regu pertama jadi regu dua bersiap untuk menjadi penjaga agar regu pertama bisa beristirahat.
Helfina di sampingku mendesah pelan.
__ADS_1
"Apa kita akan menang dengan pasukan sedikit seperti ini?" tanyanya.
"Di dalam peperangan bukan hanya jumlah yang menentukan kemenangan, rencana juga bisa sangat berpengaruh."
"Kau ini, pasukan musuh paling tidak ada sekitar 5000 orang sedangkan pasukan kita hanya ada 500 orang, bukannya itu sudah mustahil."
"Kurasa kau benar, aku akan minta beberapa orang bergabung," balasku tersenyum lebar.
"Kau pasti merencanakan sesuatu yang licik."
Aku menggambar tiga lingkaran sihir berbeda di tanah dengan pola yang sangat rumit dibandingkan lingkaran biasanya.
"Bukannya ini pola lingkaran pemanggil.... terlebih kau akan memanggil, Arch demon, roh agung serta malaikat."
"Heh, Helfina tahu banyak."
"Aku pernah belajar di akademi kesatria dan beberapa alumni di sana juga bisa melakukan hal ini tapi aku baru tahu ada orang yang memangilnya sekaligus."
"Berarti ini akan menjadi pertama kalinya kau melihatnya" balasku sambil tertawa kecil.
Untuk lingkaran sihir Arch demon, aku meneteskan darah ke atasannya sedangkan roh agung aku simpan sebuah bunga sementara malaikat kutaruh roti.
"Darah, bunga dan roti merupakan katalis untuk orang-orang yang akan kupanggil, mereka bertiga lebih bisa diajak bekerja sama tanpa memerlukan korban untuk persembahan."
"Jangan bilang mereka?" Helfina sepertinya sudah tahu siapa yang akan kupanggil.
"Setelah dipanggil mereka akan terus mengabdikan diri untuk orang yang memanggilnya sampai dia meninggal.. walau merepotkan hal ini harus dilakukan jadi sekarang. Datanglah kalian," bersamaan perkataanku ketiga lingkaran sihir itu bersinar terang lalu selanjutnya ketiga orang telah berdiri di atasnya.
"Heh, sudah lama sekali semenjak pemanggilanku."
Pertama adalah wanita bergaun merah dengan mata berwarna merah ruby, ia memiliki rambut hitam dengan kedua sisinya diikat dengan kedua pita.
Helfina memanggil mereka secara bergiliran dengan pandangan terkejut.
"Rin Elisten dari Arch demon."
Kedua adalah wanita dengan dengan penampilan serba hijau berambut sebahu, auranya terlihat tenang namun dia bisa lebih mengerikan jika seseorang berbuat salah padanya.
"Amnestha Hesolviar. Roh agung."
__ADS_1
"Selamat pagi," katanya selagi memegangi pipinya. Walaupun sebenarnya menurutku ini sudah siang.
Dan terakhir gadis yang terlihat ke kanak-kanakan yang selalu duduk di atas awan selagi memakan cemilan.
Ia memiliki rambut pirang bergaya twintail serta memiliki mata kiri berwarna hijau dan mata lainnya berwarna biru.
"Mustahil... Gabriela Askar."
"Aku sudah datang, walau aku dipanggil aku tidak akan bekerja sebelum kau memberikanku cemilan."
Ketiga orang ini bisa disebut setara dengan raja iblis.
"Karena sekarang kalian sudah datang aku akan menjelaskan situasinya."
"Siapa kau?" tanya Rin.
"Aku orang yang memanggil kalian."
"Tidak, aku lebih suka bekerja dengan wanita itu."
Rin memegangi tangan Helfina hingga ia melirik ke arahku kebingungan.
"Kenapa ini?"
"Dia menyukai wanita."
"Heh."
"Mau jadi pengantinku."
"Jangan seperti itu Rin, kau membuat gadis itu kerepotan."
Sebuah akar melilit Rin hingga dia tidak bisa bergerak.
"Apa kau suka bunga, mari bantu aku menanam seribu bunga di sini."
"Haru?"
"Hey, di mana cemilanku?"
__ADS_1
Aku lupa, mereka juga sedikit bermasalah.