
Keesokan harinya aku mulai mengajari elf-elf ini tentang seni kerajinan, pertama yang kami buat adalah sebuah peralatan makan dari kayu.
Tempat ini berada di tengah danau karena itu kami membuatnya di daratan yang lebih luas, demi mereka bahkan aku harus membeli peralatan yang kami butuhkan hingga tidak ada uang lagi di kantongku.
"Maafkan kami, karena kami uangmu jadi habis," kata Neffiel sedih.
"Jangan khawatir, aku akan mulai berbisnis kecil-kecilan setelah ini selesai," kataku ringan.
"Mana mungkin aku tidak khawatir, sebagai balasan bagaimana jika aku melakukan apapun yang kau inginkan?'
"Apapun?"
"Um."
"Aku tidak kuat mendengar perkataan itu, tolong jangan dikatakan lagi," aku berkata selagi berjongkok hingga Neffiel bertanya ke arah Amnestha.
"Kenapa dengan Beaufort?'
"Dia sedang mencoba berjalan ke jalan lurus."
"Memangnya selama ini jalannya menyimpang?"
"Entahlah, menurut Gabriela begitu, tapi menurutku menyentuh dada wanita bukannya hal biasa."
"Sepertinya begitu, aku juga tidak masalah sih."
"Harusnya kalian malu pada omongan kalian sendiri," potong Gabriela.
"Dibanding berbicara terus cepat bantu kami."
"Ah, baik senior Rin."
"Berhati-hatilah dia penyuka wanita."
"Menakutkan."
Aku menatap Rin yang sedang berapi-api.
"Sebaiknya jika kalian ingin membicarakan seseorang, bicarakanlah mereka di belakangmu, bukan malah di depannya," kataku lemas.
__ADS_1
Aku mulai mengukir pahatan cangkir milikku sendiri, semuanya baik-baik saja sampai Aurora muncul lalu melompat dari belakangku.
"Huaaah, lihat, apa menurutmu punyaku sangat bagus?"
Sungguh, kenapa dunia ini penuh godaan?
Ketika malam tiba aku mulai berlatih kembali, setelah mencapai level tertentu, beberapa skill telah memenuhi statusku.
Akhirnya aku memiliki skill serangan yang kubutuhkan, selain skill berlari cepat, aku memiliki skill [Hide] yang membuatku bisa menyelinap tanpa diketahui musuh, [Double Slash] sebagai serangan cepat, serta skill [Paralyze Poison] untuk racun pelumpuhan.
Dengan ini aku bisa menggunakannya untuk bertarung dengan monster untuk mengambil jiwa mereka. Sebentar lagi aku pasti bisa bertambah kuat.
Aku memang bisa menggunakan pedang Grandbell namun untukku sekarang pedangnya terlalu kuat untuk dikendalikan, itu sama seperti kau yang berada di Lv1 malah menggunakan pedang untuk Lv50 ke atas.
Rasanya tidak nyaman.
Setelah sebulan berlalu, barulah aku mencoba bertarung melawan ketiga pelayanku secara bergantian, mereka sangat cocok untuk dijadikan lawan latihan.
Pertama aku melawan Gabriela.
"Aku akan memulainya tuan."
Baru saja sebentar aku langsung diterbangkan dengan tinjunya hingga terbang ke atas kemudian jatuh ke air, pada malam hari airnya malah lebih dingin dari yang kubayangkan.
Tubuhku menggigil.
"Tuan aku akan menyelamatkanmu."
"Tidak usah, aku bisa berenang sendiri."
"Padahal aku sudah melepaskan pakaianku."
Dunia ini penuh godaan.
Aku mengeringkan pakaianku di depan api unggun bersama diriku juga.
Rin dan Amnestha disibukan dengan ubi bakar yang mereka bakar.
"Ini untuk tuan dan ini untuk Gabriela," ucap Amnestha.
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih enak selain makan ubi untuk menghangatkan diri," kataku demikian lalu melirik ke arah Rin yang tampak gelisah.
"Benar juga, kau belum minum darah beberapa minggu ini, mau minum darahku?"
Aku dengan ramah menawarinya namun Rin menolaknya.
"Aku lebih suka meminum darah dari wanita."
"Bagaimana kalau Amnestha saja?"
"Aku tidak keberatan sih" sebelum Amnestha melanjutkan perkataannya bibirnya telah dicuri oleh Rin lalu tubuhnya dijatuhkan ke tanah.
Tangan Rin mulai meraba-raba dari atas turun ke pusar kemudian turun ke bawahnya.
"Jangan khawatir Amnestha, aku akan melakukannya dengan lembut."
Amnestha mengangguk kecil sebagai jawaban, aku yang melihatnya tak bisa berkata apapun lagi.
Kenapa aku menyaksikan hal seperti ini?
"Apa vampir selalu melakukan itu sebelum menghisap darah seseorang?" tanyaku pada Gabriela.
"Vampir cenderung mudah bergairah saat ingin menghisap darah seseorang tuan, kuharap mereka bisa menyelesaikannya sebelum ada orang yang melihat."
"Kuharap begitu."
Setelah selesai mereka saling mengalihkan pandangan ke arah berbeda dengan wajah memerah, hingga saling duduk berjauhan.
"Maaf Amnestha, aku sangat menikmatinya."
"Tidak masalah, mari lakukan lagi nanti."
"Baik."
Rasanya aku ingin mati di dalam situasi seperti ini, aku mencoba berlari ke arah air dan Gabriela memegangi kakiku.
"Jangan lakukan tuan, kau harus mulai terbiasa mulai sekarang."
"Terbiasa pala lu."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya aku berfikir rasanya salah telah bersama mereka bertiga, sampai kapanpun jalanku pasti akan menyimpang.