
Ujian terakhir adalah ujian penggunaan sihir, para calon akan menggunakan sihir yang bisa mereka pelajari untuk mengenai target sejauh beberapa meter.
Len berada di antaranya menarik nafasnya hingga sebuah lingkaran sihir muncul dari telapak tangannya.
"Fire Arrow."
Lima panah api menembak sekaligus menghancurkan seluruh target.
"Berikutnya."
"Baik."
Falena mengambil giliran setelah Len.
Ia menciptakan lingkaran sihir dari dua tangannya tepat saat dia berkata,"Thunderbird," burung terbuat dari petir menabrak seluruh target dengan ledakan memekakkan telinga.
Len hanya mengerenyitkan alisnya, serangan sihirnya jelas lebih hebat darinya.
"Untuk sekarang ujiannya telah selesai, dalam waktu satu jam pengumuman hasilnya bisa dilihat di papan pengumuman."
"Baik."
Para murid membubarkan diri mereka tak terkecuali Len dan Falena yang memutuskan duduk di kursi taman saling bersebelahan.
Awalnya mereka duduk canggung satu sama lain sampai Falena mengulurkan tangannya.
"Siapa namamu?"
"Len."
"Aku Falena, kedepannya mari akur."
Len tidak memiliki alasan untuk menolaknya karenanya dia menerima jabat tangan tersebut selagi tersenyum lebar.
__ADS_1
Setelah pengumuman ditempel Falena maupun Len melompat bersama, mereka telah lulus tes dan ditempatkan di kelas mahir yang sama.
"Dengan ini aku akan semakin kuat," ucap Len dalam hati.
Keesokan paginya Len masuk ke dalam kelas dengan pakaian akademi yang cocok dengannya, saat ia melihat Falena duduk di sebelahnya percikan petir tampak terlihat jelas.
Di dalam hati mereka sama-sama berkata.
"Aku tidak akan kalah darimu."
Sebelum akhirnya memalingkan wajah mereka.
Keduanya menganggap bahwa satu sama lain merupakan dinding yang harus mereka lewati namun dinding yang sesungguhnya muncul di depan mereka, dengan langkah kecil seorang pengajar masuk ke dalam kelas, jika seorang hanya melihatnya sekilas mereka akan salah paham bahwa dia seorang murid juga.
Dengan pose kemenangan gadis kecil itu menuliskan nama di papan tulis, karena kurang tinggi dia hanya menulis di bagian paling bawah.
"Namaku adalah Koko dari divisi keamanan desa, mulai sekarang aku wali kelas kalian... bersemangatlah, aku dibebaskan sementara waktu demi kelas ini jadi jangan buat aku kecewa."
"Biar aku beri satu peraturan, sebelum ada seseorang yang bisa mengalahkanku... pelajaran di kelas ini tidak akan pernah dimulai, jadi gunakan kemampuan kalian untuk mengalahkanku."
Sementara semua orang terkejut Koko berjalan ke arah jendela, dengan ringan dia membuka jendela lalu berdiri di sana.
"Waktu kalian sampai bel berbunyi," tepat saat Koko mengatakan itu, dia menjatuhkan dirinya ke bawah.
"Guru."
Orang-orang segera memeriksa keadaannya sebelum Koko menghantam tanah seekor kuda nil bersayap bernama Momo muncul untuk menangkapnya.
Falena berkata.
"Apa kalian tidak dengar, kita harus segera mengalahkannya."
"Benar.. Semuanya cepat turun."
__ADS_1
Seluruh murid mulai berhamburan kecuali Len yang tersenyum puas.
"Jadi ini yang dimaksud tuan Kazuya, akademi memang menarik."
Len berdiri di atas jendela sampai Falena berkata dari belakangnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kalian turun saja dari bawah aku akan melawannya di udara."
"Mungkinkah."
Len menjatuhkan dirinya ke bawah.
"Oi."
Falena buru-buru menengok ke arah jendela sementara Len tertawa.
"Ini sangat menyenangkan."
Len berhenti di udara lalu melesat terbang.
"Orang itu, bagaimana bisa menggunakan sihir terbang?"
Falena pun merasa kesal lalu mengulurkan tangannya.
"Tidak ada waktu untuk menyembunyikannya, Summon magic.. keluarlah Algaritma."
Yang dipanggil Falena adalah seekor Harimau putih dengan kilatan petir di tubuhnya. Falena melompat ke atas Harimau yang bisa melayang tersebut.
"Bawa aku ke sana Algaritma."
"Baik nona."
__ADS_1