
Setelah menyelesaikan pekerjaanku, secangkir teh setelah bekerja keras adalah sesuatu yang kubutuhkan, Amnestha meletakan tehnya di dekatku.
"Teh buatan Amnestha nomor satu."
"Kenapa rasanya terdengar seperti sebuah iklan."
Aku tersenyum masam lalu kembali menyeruput tehku.
"Bagaimana soal pekerjaan kebun anggur yang kuserahkan pada istriku."
"Mereka bekerja baik, Felisa masih sibuk dengan pekerjaan kerajaannya jadi beliau masih di istana bersama Rin."
"Selagi ada Rin di sampingnya aku bisa merasa lega."
Aku beberapa kali menengok cangkirku dan langit secara bergantian.
"Memangnya saat seseorang meminum teh mereka harus menengok ke atas?"
"Tidak juga, biasanya masalah selalu datang dari atas saat aku menikmati teh."
"Lalu bagaimana dengan mereka?"
Aku melirik ke gerbang masion dan kulihat kumpulan masa yang bergerak masuk melewati pagar lalu mengelilingiku.
Ternyata masalah bisa muncul dari manapun.
"Kami ingin menuntut protes soal penutupan guild pedagang?" kata salah satunya.
__ADS_1
"Meskipun kalian mengatakan itu, aku tidak bisa menariknya kembali."
Salah satunya lagi membalas.
"Karena penutupan guild pedagang kami tidak bisa menjual barang seperti biasanya."
"Yah, bukannya kalian bisa pindah ke tempat lain, kota Abelon hanyalah kota kecil... akibat banyak sekali kereta pedagang semua orang juga kerepotan bukan."
"Tentu saja kami tidak bisa pindah lagipula kami semua mencintai kota ini, hanya di kota ini para Succubus masih bisa tinggal."
"Itu benar."
"Benar sekali."
Jadi itu alasannya kah?
Aku berkata ke arah Amnestha.
Amnestha meletakkan satu jarinya di bibir seolah memikirkannya.
"Bagaimana jika tuan membuat gerbang perpindahan saja, yang menghubungkan desa ini dengan Ibukota, kurasa jika mereka bisa pindah dengan mudah mereka akan bisa langsung menjual barang mereka di sana."
"Seperti titik teleportasi kah, kurasa jika seperti itu tidak masalah, untuk berjaga-jaga hanya orang dari desa ini maupun ibukota saja yang bisa pulang pergi.... apa kalian tidak keberatan?"
"Jika bisa dilakukan, kami tidak masalah."
Kota yang sering kukunjungi itu berada di bawah desaku mereka bisa pergi ke sini dulu sebelum akhirnya menjual barang mereka di ibukota.
__ADS_1
Kurasa itu memang ide bagus.
Aku menciptakan gerbang teleportasi di tengah desa, tinggi gerbang itu sekitar 9 meter dengan warna perak.
Pertama aku masuk dulu untuk memeriksanya, dan begitu melihat sekelilingnya aku tepat berada di alun-alun kota.
Orang-orang yang melihat kedatanganku semuanya memberikan hormat. Bagaimanapun statusku di sini adalah seorang raja.
Aku bisa dengan mudah melirik ke arah Istana megah dari tempatku berdiri.
"Kenapa suamiku, maksudku raja ada di sini juga?" Felisa dan Rin berjalan mendekat, sepertinya mereka sedang berjalan-jalan, aku menjelaskan apa yang terjadi kepada keduanya.
"Jadi begitu, dengan kata lain semua orang baik di ibukota atau di wilayah kita, bisa pulang pergi dengan mudah."
Aku mengangguk mengiyakan dan semua orang terlihat senang, sejujurnya aku ini tidak selalu ada di ibukota akan tetapi mereka menaruh hormat padaku.
Mungkin ada kaitannya saat Heis berusaha mencuri kerajaan ini dan aku menyelamatkannya.
Orang-orang yang tadinya memprotes kini bisa pulang pergi ke ibukota tanpa hambatan maupun sebaliknya, ketika satu persatu orang masuk maka daftar mereka akan tertulis di panelku.
Dengan begini aku bisa tahu jika ada orang mencurigakan yang mencoba melewatinya.
"Karena sudah ada di sini, bagaimana jika kita pergi ke istana dulu?"
"Aku tidak keberatan."
"Kalau begitu aku akan kembali ke desa."
__ADS_1
"Terima kasih Rin."
Rin membungkukan badannya sekali pada Felisa lalu berjalan pergi ke dalam gerbang. Sementara itu Felisa menarik tanganku untuk berjalan bersamanya kemudian mengaitkan lengannya di lenganku selagi tersenyum senang.