
"Barusan aku ingin menggunakan Starburst Stream, namun pedangku malah hancur duluan."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau katakan, lebih dari itu... apa mereka akan baik-baik saja?" kata Helfina selagi menatap pertarungan Rin, Amnestha serta Gabriela.
Ketiganya benar-benar tidak memberikan Ludin untuk merapal sihir.
"Rin?"
"Serahkan padaku," atas pernyataan Amnestha Rin menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi, jika tidak salah dia memompa darahnya lebih cepat supaya bisa bergerak seperti angin.
Ludin cukup kesulitan menghindarinya karenanya dia lebih menggunakan sihir pelindung untuk mempertahankan diri.
Gabriela membunyikan harpanya dan dari sana sebuah tebasan angin meluncur menghancurkan pelindung itu seolah seperti kepingan kaca.
"Sebenarnya kalian bertiga siapa?"
"Kau memang kuat hanya saja jika kau tidak bisa mengaktifkan sihirmu itu sama saja kau tidak berguna," perkataan Amnestha membuat Ludin terlihat kesal hingga menggigit bibirnya sendiri.
Dia merapalkan sihir peledak ringan menghantam musuhnya, akan tetapi itu hanya merusak pakaian saja tanpa meninggalkan damage berarti.
"Sialan.. ledakan, ledakan."
Boom... boom.
Jika rapalannya semakin pendek maka ledakannya akan semakin lemah juga, karena itulah dengan cara menyerang terus menerus Ludin sudah tidak bisa berkutik lagi.
Akan tetapi, saat aku yakin akan kemenangan.
Tiba-tiba saja Rin, Amnestha serta Gabriela terjebak di sebuah kotak tak terlihat.
__ADS_1
"Dengan ini sudah cukup, aku telah memasang jebakan itu sejak awal jangan pikir bahwa aku hanya bisa menggunakan sihir dengan rapalan, dengan berkah Dewi aku bisa langsung melakukannya."
"Kita tak bisa keluar."
Ludin mengangkat tongkatnya dan berkata.
"Edison."
Dan sebuah cahaya jatuh menimpa ketiganya yang mana menciptakan ledakan berbentuk bola raksasa bersinar, aku segera berdiri di depan Helfina untuk melindunginya.
"Haru, terlalu dekat."
"Apa boleh buat, tolong jangan bergerak dulu."
Setelah ledakan itu berakhir Gabriela dan Amnestha tampak tumbang dengan seluruh tubuh menghitam, rambut mereka juga terlihat gosong.
"Tidak, lihat itu."
Aku menunjuk ke arah di mana Ludin berada, dia tampak tak bisa bergerak saat Rin menggigit lehernya dari belakang.
"Mu-mustahil?"
"Sebaiknya kau menutup matamu," ucapku pada Helfina selanjutnya tubuh Ludin meledak.
Darah mengucur dari mulut Rin bersamaan dengan kedua tangannya yang terlihat melepuh, dia menahan ledakan barusan sesaat, kemudian bergerak ke belakang Ludin.
Walau Gabriela dan Amnestha masih terkena serangan tersebut mereka masih baik-baik saja.
"Tuan, darah pria memang tidak enak."
__ADS_1
"Lebih baik kau bersihkan dirimu sendiri dulu."
Aku menggunakan sihir air untuk membantunya.
"Boleh aku melihat sekarang."
"Tentu saja."
Ketika dia membuka matanya, Rin telah berjongkok di depannya selagi mengangkat rok milik Helfina.
"Warna putih, sangat indah."
"A-apa yang kau lakukan?" teriak Helfina mengirim pukulan keras.
Bukannya Rin yang mendapatkan pukulan malah wajahku yang menjadi korban.
"Kenapa aku?" kataku tanpa mendapatkan balasan.
Dengan ini kurasa sudah selesai, aku menggunakan sihirku untuk bisa keluar dari dimensi tersebut dan kulihat peperangan juga telah berakhir.
Pasukan musuh telah mundur sementara pasukanku tampak terduduk kelelahan.
Keesokan paginya para pasukan yang terluka akan dipulangkan bersama pasukan yang telah meninggal, untuk yang masih bisa bertarung mereka akan berjaga di perbatasan ini.
Aku menyerahkan kepemimpinan kepada Helfina yang akan dibantu oleh Rin dan Amnestha, sedangkan aku dan Gabriela akan menuju ibukota kerajaan musuh untuk melawan raja dari musuh kami.
Akan lebih baik jika kami bisa bernegosiasi.
Gabriela menciptakan awan yang bisa kududuki lalu membawaku terbang menyisir kegelapan malam, dengan bantuannya tidak ada yang akan mengetahui keberadaan kami.
__ADS_1