
Di dalam kabut dimensi itu sekitar 20 Magdroba ditanam secara sejajar, mereka hidup berdampingan dengan yang lainnya sambil mengobrol sementara Cleo dan Olien bergantian menimba air lalu menyirami satu persatu.
Mereka hanya memerlukan air selama tiga hari sekali karena itu hal merepotkan ini tidak terjadi setiap hari, setiap bulan mereka harus memberikan mereka pupuk dan ketika mereka lupa para tanaman ini akan memberitahukannya dengan ramah.
Setiap sebulan sekali juga tanaman Magdroba akan memetik buah dan daun mereka sendiri secara rutin lalu memberikannya pada Olien dan Cleo untuk dijual di ibukota.
Walau masih dalam bentuk tumbuhan mereka mendapatkan untung cukup besar dan tiap harinya mereka juga menjual tanaman biasanya yang mudah di budidayakan di depan pekarangan rumah.
"Dengan ini kita bisa makan enak Cleo, apa yang kau inginkan?"
(Pakaian)
"Itu bukan makanan."
(Pakaian)
"Aku mengerti, mari beli dulu pakaian sebelum membeli makanan."
Cleo mengangguk mengiyakan, sementara itu di tempat lain seorang pria harus kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk, masalah satu silih berganti yang membuatnya tidak bisa beristirahat belakangan ini.
Orang itu memiliki kantong mata serta berpenampilan acak-acakan seolah belum mandi, dan orang itu tentu aku sendiri.
Selagi mencoba untuk tidak tidur, akhirnya aku menyelesaikan kertas yang harus kuberikan cap stempelku, aku mendesah pelan lalu membaringkan setengah tubuhku di atas meja.
Tepat saat aku melakukannya ketukan terdengar dari arah pintu, dan yang masuk merupakan kelompok Zeper bersama wanita elf loli bernama Virda.
"Kalian sudah datang."
__ADS_1
"Tumben sekali kau memanggil kami Haru," balas Zeper.
"Seperti yang kau lihat aku sangat sibuk, karena itu aku memiliki pekerjaan khusus untuk kalian berempat."
Ketiga orang itu menatap Virda.
"Maksudmu dia juga?"
"Virda akan bergabung dengan party kalian, dia sangat kuat, kalian bisa mengandalkannya."
"Namaku Virda salam kenal," dengan pose imut dan gemas.
"Ah iya."
Mereka nanti juga akan akrab satu sama lain, apalagi Virda memiliki dada besar, tidak akan ada yang menolak keberadaannya.
Selain menjadi orang yang bertanggung jawab atas beberapa desa, aku juga bertugas untuk membantu kerajaan ini. Statusku sendiri sebenarnya seorang raja dan sudah tugasku untuk membantu Felisa sebagai suaminya.
"Belakangan ini ada wabah belalang yang menyerang pemukiman desa di kerajaan Weisvia, aku ingin kalian mengatasinya."
"Belalang kah?"
"Jumlahnya sangat banyak dan kerap memakan ladang pertanian."
Aku memberikan lokasi kemunculan mereka.
"Heh, begitukah... kalau cuma belalang kami bisa mengatasinya."
__ADS_1
"Akan lebih baik kalau kalian bisa mengambil beberapa untuk kita masak," atas pernyataanku keempat orang di depanku tampak heran dan aku membalasnya.
"Apa aku mengatakan hal salah?"
"Apa belalang bisa dimakan?" tanya Lusy, Suhen juga memiliki pertanyaan yang sama.
Mungkinkah karena mereka tidak diburu, belalang jumlahnya jadi meningkat pesat, terlebih orang-orang lebih suka berburu burung hingga predator untuk belalang terus berkurang.
Era benar-benar telah berubah.
"Di masa lalu para penduduk memakan belalang sebagai makanan pokok, saat itu perang di mana-mana dan hanya makanan itu yang paling mewah."
Zeper sedikit tertarik soal itu.
"Apa rasanya sangat enak?"
"Tentu saja," jawabku singkat.
"Kau serius ingin mencobanya?" tanya Lusy.
"Kenapa tidak, kalau rasanya enak."
"Aku akan menunjukan cara mengolahnya ke seluruh desa, jadi pastikan untuk menangkapnya yang banyak."
"Kami mengerti, kurasa kami cukup memasukannya ke air panas untuk membunuhnya."
Aku mengangguk mengiyakan sebelum melihat mereka semua keluar dari pintu
__ADS_1
Yang ingin kukatakan adalah.
"Semoga beruntung," lalu tertidur di mejaku.