
Akane mengeluarkan roti dari dalam sihir penyimpanannya yang mana salah satunya diberikan padaku bersama air dalam teko.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Aku menggigit pinggiran roti yang renyah tersebut, di dalamnya berisi kacang tanah yang manis yang dicampur susu kental manis juga.
"Enak sekali."
"Jelas enak harganya mahal loh, dua kali lipat dari roti biasa."
"Harga memang tidak pernah menipu rasa."
"Perkataan apaan itu?"
Setelah sejenak terdiam aku melanjutkan.
"Kau bertemu dengan Amaterasu, apa dia mengatakan sesuatu?"
"Biar aku ingat, dia hanya mengatakan bahwa dia pencipta pedang terkutuk ini."
"Begitu, saat aku berhadapan dengan Kalina dia tidak mengira bahwa ada pedang terkutuk kelima yang kupegang ini."
"Kenapa begitu? Bukannya pedangmu juga Amaterasu yang membuatnya."
__ADS_1
"Kurang tepat jika mengatakan hanya dia yang membuatnya sebenarnya pedang ini dibuat oleh saudarinya Susanoo dan Tsukuyomi... Saat Amaterasu dikendalikan kegelapan keduanya memutuskan untuk menghentikannya dengan cara membuat pedang yang bisa menyaingi Amaterasu."
"Maksudmu meniru pedang kutukan yang sudah ada."
"Benar... keduanya bekerja siang dan malam meski begitu tidak ada pedang yang mampu menyainginya, saat dalam pengerjaannya Susanoo tiba-tiba meninggal karena sebuah penyakit, alih-alih menggunakan tulang iblis Susanoo meminta tubuhnya untuk dijadikan bilah pedang di mana tubuhnya dileburkan dengan besi cair."
Mendengar pernyataanku wajah Akane memucat, ini pasti sulit dipercaya tapi itulah kebenarannya.
Aku melanjutkan.
"Saat Amaterasu mendengar bahwa saudarinya telah meninggal dia kembali ke kediamannya namun sama seperti Susanoo, Tsukuyomi juga meninggal, sebelum dia menghembuskan nafasnya dia meminta Amaterasu untuk menjadikan tubuhnya sebuah pegangan pedang serta sarungnya yang disatukan dengan bilah Susanoo hingga terciptalah pedang yang kugunakan sekarang."
"Dengan kata lain pedang itu dibuat dari dua jiwa."
Aku mengangguk mengiyakan.
"Saat pedang ini selesai Amaterasu menyegel kutukan di pedang ini, sehingga kekuatannya hanya keluar sekitar 15 persen.. kurasa dia merasa sedikit bersalah pada saudarinya, sejak itu ia meletakkan pedang ini di hutan lalu menyerahkan diri pada pihak Arch Priest hingga dia pun di penjara di sini."
Paling tidak itulah ingatan yang kudapatkan saat pertama kali memegang pedangnya.
"Jadi selama ini kau bertarung tidak menggunakan kekuatan penuh."
"Tepat sekali, tak hanya ingin mengembalikan tanganku aku ingin meminta dia melepas segel di pedangku... aku tidak tahu apa yang membuatnya ingin keluar dari tempat ini padahal dia menganggap tempat ini sebagai hukuman untuk penebusan dosanya."
Seolah mengingat sesuatu, Akane membalas perkataanku.
__ADS_1
"Mungkin karena itu, singkatnya aku pernah bilang kekuatan jahat pun bisa digunakan demi kebaikan tergantung pemakaiannya, kurasa dia ingin menembus dosanya bukan dengan menghukum dirinya sendiri di sini melainkan membantu dunia ini menjadi lebih baik."
Itu perkataanku yang kukatakan pada Akane sebelumnya.
"Baguslah jika dia berpikir begitu."
Setelah beristirahat 30 menit kami kembali menuruni lantai lebih jauh, di setiap lantai kami terus bertarung dengan patung penjaga, ada beberapa perangkap juga yang ditaruh meski begitu kami bisa melewatinya dengan baik.
Akane menempel di dinding saat beberapa anak panah menusuk pinggiran pakaiannya.
"Kenapa aku yang selalu kena?"
Dia mungkin tipe orang yang kurang beruntung jika berhadapan dengan jebakan, setelah beberapa jam berlalu kami akhirnya sampai di lantai paling bawah.
Di lantai ini ruangannya paling luas di mana menaranya sendiri mirip seperti sebuah pagoda jika dilihat dari luar.
Di tengah ruangan tampak Amaterasu terduduk dengan kedua lutut menyentuh lantai sementara tangannya di bentangkan dengan banyak rantai melilit pergelangannya.
Rantai itu menembus menara seolah menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
"Ngomong-ngomong kenapa Amaterasu telanjang?" tanya Akane.
"Kalau memakai pakaian kurasa kurang menarik dilihatnya."
"Kau malah bercanda di saat seperti ini."
__ADS_1
Saat kami berdua mendekat sosok golem raksasa muncul secara tiba-tiba dari lingkaran sihir yang berada di lantai, ia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi kami berdua.
Tempat ini tidak membuat kami menyelesaikannya dengan mudah.