Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 211 : Tamer


__ADS_3

Tak hanya menembakan api, kerang itu juga bisa menembakkan air dan petir, kurasa si pengguna skill Tamer ini juga akan muncul sebentar lagi.


Sampai saat itu aku harus segera menghabisi makhluk di depanku, aku menekuk lututku bersiap maju.


Saat tembakan berikutnya dilesatkan, aku berlari ke samping dengan kecepatan cosmic, kerang itu kembali menembakan apinya dan aku menebasnya dengan baik, ketika jarak kami tidak berjauhan, kuayunkan pedangku yang mampu membelah cangkang bersamaan tanah di sekelilingnya.


Akibat hantamanku tanah langsung retak hingga merambat ke batu besar di pinggir sungai, saat kabut menghilang bisa kulihat di batu itu seorang pria berdiri santai, penampilannya tidak terlalu mencolok hanya menggunakan syal dilehernya.


"Jadi kau dalangnya?"


Dia tersenyum lebar.


"Tepat sekali, tak hanya menciptakan awan aku juga turut mengawasi pergerakan aneh seperti yang kelompokmu lakukan... bisakah kau memberikanku kertas yang ada di balik bajumu."


"Kertas apa maksudmu?"


"Jika jadi kau, aku tidak akan berbohong."


Kumpulan lebah mulai mengerumuniku dari segala arah, mereka mendengung keras dengan penuh kebencian, hanya dengan perintah tangannya mereka mulai menyerangku.


Jika aku punya daging aku akan merasakan kesakitan, sayangnya aku ini tengkorak sekarang.


Aku membakarnya dengan apiku.


Perlahan ekpresi wajah pria itu memudar, dari yang menganggap dirinya sangat kuat kini menjadi yang terlemah. Hanya dengan satu tebasan dari pedangku darah memucat dari tubuhnya. Dia tumbang terlentang ke bawah.


Perlahan kabut menghilang dan lenyap tertiup angin seutuhnya.


Aku membuka topengku dan menunjukan wajah yang sepenuhnya hanya tulang.


"Dasar monster, kau bisa melihat dalam kabut dan kau tidak terlihat seperti manusia."


"Aku tidak bisa menyangkal hal itu."

__ADS_1


"...Walau kau mengalahkanku, aku yakin sekarang, desa di mana kau tinggal telah di sandera."


Dia mengajak rekannya juga rupanya, aku berkata ke arahnya.


"Pedang di tanganku ini bernama Grandbell tak hanya sebagai pedang terkutuk, dia juga memiliki kekuatan lainnya yang tidak kalah menariknya, pedang ini mengambil skill orang yang dibunuhnya."


"Jangan-jangan kau ingin... Guakh."


Sebelum dia melanjutkan perkataannya, aku sudah menusuk dadanya, dengan ini aku bisa menggunakan skill Tamer, dan mencoba mengendalikan beberapa hewan atau moster.


Aku menghilangkan pedangku meski begitu tubuhku tidak kembali sedia kala atau sejujurnya butuh waktu lama untuk pulih.


Mengabaikan apa yang terjadi, aku segera mencari sesuatu yang bisa kukendalikan dan pilihanku jatuh ke sebuah hewan kecil yang ditakuti banyak orang.


Mereka adalah kecoa.


Pertama aku mengendalikan beberapa ekor saja selanjutnya, mereka memanggil teman-temannya, keluarga maupun pacar mereka dan sekarang kecoa ini berjumlah lebih dari puluhan ekor.


"Kalian semua akan berperang sekarang, jadi siapkan senjata kalian dan ikuti semua perintahkan."


Entah bagaimana aku bisa mengerti apa yang mereka katakan.


Seperti.


"Apa untungnya kami berperang?"


"Aku tidak terlalu peduli, aku suka keramaian."


"Jika harus menyerang wanita, aku akan merayap-rayap di tubuh mereka Hoh-hoh-hoh."


"Aku lapar."


Mereka mengatakan hal tidak penting.

__ADS_1


Aku mulai memimpin pasukan ini lalu kembali mendaki ke atas gunung, dari sana kulihat beberapa orang benar-benar telah menangkap seluruh penduduk lalu mengikatnya dengan tali.


Aku melirik ke arah pelayanku dan mereka hanya diam lemas. Mereka terlihat diracuni.


Aku muncul di depan kawanan penyandera tersebut.


"Kami membutuhkan kertas yang kau ambil, cepat berikan itu."


Aku mengeluarkan kertas tersebut.


"Hak kepemilikan tanah kah, tanpa ini tuan kalian bukan apa-apa kan?"


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menghancurkannya?"


Tentu saja jawabannya, "Iya."


Aku merobeknya tanpa ampun.


"Jadi kau memilih para sandera ini mati."


Ketika salah satu dari mereka hendak melukai sandera, para kecoa sudah terbang untuk mengerumuni mereka.


"Aku suka wanita, wanita 🖤"


"Aku lapar."


"Asyik, serang, serang."


"Aku suka kakak cantik."


Aku sama sekali tidak tahu kecoa mana yang mengatakan lapar, lapar, rasanya seperti mereka semua berkata di waktu bersamaan.


Para penjahat itu berteriak Kyaaa~ selanjutnya Aaaaaah dan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2