
Malam harinya aku dan Cleo bersiaga di luar untuk mencegah kawanan itu masuk kembali ke kota ini.
Cleo sedang asyik memakan manisan sementara aku duduk di sebelahnya dengan beberapa tusuk sate.
"Nah Cleo, bagaimana kalau kau mengatakan sesuatu?"
Dia segera menulis.
(Aku tidak ingin mengatakan apapun, jika kukatakan hal itu sangat mengerikan)
Padahal Cleo memiliki suara yang merdu sayangnya semua hal yang dikatakannya akan langsung terjadi, misal seseorang mati mereka akan mati dan jika bilang hari ini hujan maka hal itu akan terjadi juga.
Kekuatan Cleo adalah mutlak.
Bagiku itu bukan kutukan melainkan sesuatu yang lebih luar biasa, meski begitu Cleo menolaknya.
Untuk memastikan suatu hal aku bertanya.
"Apa sesuatu telah terjadi di masa lalu hingga kau tidak mau menggunakan kekuatanmu?"
Cleo tanpa ragu kendati demikian dia memutuskan untuk menulis pengalamannya di papan miliknya, semua yang ditulisnya hanya sesuatu yang gelap.
Saat itu Cleo dan Olien tinggal di desa terpencil yang jauh dari kota suci, mereka yatim piatu karena itu tidak ada yang peduli pada mereka terlebih orang tuanya hanyalah petualang yang kebetulan tinggal di sana sementara waktu.
Suatu hari kedua orang tua mereka menghilang dan saat itu orang-orang mulai membenci mereka selagi memperlakukan mereka kasar, suatu ketika saat mereka dilempari batu, Cleo yang tidak bisa menahan perkataannya berteriak marah.
'Aku harap kalian semua mati saja'
Tidak ada hal yang salah dalam perkataan tersebut, mereka berdua telah mendapatkan perlakuan tidak enak sudah sewajarnya Cleo mengatakannya.
Yang awalnya hanya ucapan tak sengaja namun semua penduduk itu benar-benar mati dengan cara mengerikan, mata mereka mengeluarkan darah dan terus kejang-kejang.
Ketika itulah Cleo memutuskan untuk tetap menutup mulutnya.
"Nah Cleo, apa kau mau bisa bicara lagi? Aku bisa menghilangkan kutukanmu."
(Tolong jangan bercanda?)
"Aku mengatakan hal serius."
__ADS_1
Aku memunculkan jendela menuku lalu menciptakan skill untuk menghilangkan kemampuan seseorang, dengan mengarahkan tanganku aku membungkus Cleo dengan lingkaran sihir, selanjutnya tubuhnya bersinar lalu menghilang setelahnya.
"Sekarang katakan sesuatu."
(Tapi)
"Percayalah padaku."
Cleo mengigit bibirnya kemudian berkata.
"Aku cinta kamu."
"Bukan itu, buat sesuatu yang mampu membuat sesuatu."
"Um... sekarang hujan."
Setelah menunggu beberapa saat hujan memang turun, tapi bukan dari langit melainkan dari wajah cantik Cleo.
"A-aku..."
Aku mengelus rambut Cleo dengan lembut.
"Aku sangat senang," katanya menggangguk kecil.
Kami tadinya ingin merayakan hal ini, sayangnya sebuah keributan lebih dulu mengalihkan perhatian kami.
Beberapa blok dari tempatku sebelumnya bersantai, aku dengan jelas melihat beberapa pendeta yang kehilangan pakaian dalam mereka.
"Kyaaa.."
"Hora, berteriak lebih imut lagi," ucap si pemimpin yang jelas memakai penutup wajah, dia dengan senang mengayunkan barang rampasannya sementara rekan-rekannya tertawa senang.
"Kita sudah mendapatkan semuanya bos, mari pergi."
"Sepertinya begitu."
Aku memanggil mereka.
"Oi, kalian semua."
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan dari kami?"
"Menyerahlah dan berikan kembali barang yang kalian rampas."
"Enak saja... kami akan kaya raya dengan ini, kejayaan kami telah menunggu."
"Kalian semua."
Aku tanpa sadar mengangkat jempolku.
"Good job," sebelum tersandar oleh dehaman para korban.
"Ah benar, gadis di sampingmu belum aku rampas, kalau begitu rasakan ini... Kecopetan."
Nama jurusnya bikin ngakak.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada apapun terjadi.
"Apa gagal bos?"
"Tidak, dari awal gadis itu tidak memakai apapun."
Ugh... itu juga memiliki damage kuat padaku.
"Apa?"
"Kurasa sudah cukup kegilaan ini."
Aku mengulurkan tanganku menciptakan lingkaran sihir raksasa.
"Tunggu dulu."
"Cleo apa kau sudah melihat ledakan yang besar belakangan ini?'
"Sama sekali tidak."
"Berarti kebetulan sekali.. Boom."
"Bwaahhh."
__ADS_1
Mereka semua diledakan oleh sihirku ke udara sampai bergelantungan di atap rumah.