
Di kediaman masion Ronald, Nal dan Ferida yang terlilit perban tampak terkejut saat mengetahui bahwa Gabriela salah satu dari mereka berada di sini juga.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Kenapa apanya? Kalian terlalu fokus melawan tuanku."
"Tuan?"
Keduanya mengalihkan pandangan ke arahku yang duduk di sofa selagi meminum teh, aku mengangkat satu tanganku ke arah mereka.
"Yo, maaf soal barusan."
"Heh?" keduanya mengatakan hal sama di waktu bersamaan pula.
Setelah Gabriela menjelaskannya mereka tampak memucat, aku hanya manusia, sebaiknya kalian tak perlu memikirkannya.
Selly dan Sella muncul dan duduk di sampingku.
"Tuan sangat hebat dalam bertarung."
"Benar Selly, aku tadi sangat kagum."
"Tidak biasanya, apa yang kalian berdua inginkan dariku?" teriakku sementara ketiga malaikat itu hanya menatapku dengan wajah bermasalah.
"Aku tidak percaya orang seperti itu sangat kuat?"
"Aku juga."
Riel muncul selagi membawa teh yang diberikannya kepada kedua malaikat yang babak belur itu.
__ADS_1
"Silahkan."
"Kuharap kalian akan menyerah membawa Riel," kataku demikian.
"Aku tak ingin macam-macam, lagipula aku melakukan ini demi mendapatkan busur itu tapi jika kau bisa sekuat ini, kurasa kau bisa membantu kami mengalahkan raja iblis Venosa."
"Aku tidak terlalu berminat membantu kalian, hanya saja raja iblis yang kalian maksud memang termasuk targetku juga."
Ferida melirik ke arah Gabriela.
"Tuan mengincar raja iblis, beliau sudah mengalahkan dua raja iblis serta para pahlawan, kuperingatkan dia sangat kejam, brutal dan mesum."
"Aku tidak begitu, terlebih yang terakhir itu."
"Coba jelaskan apa yang sedang tuan lakukan sekarang?"
"Mereka yang menempel padaku."
"Mungkinkah aku juga diincar sekarang?" kata Ferida menutupi tubuhnya, begitu pula Nal.
"Aku masih normal oi."
"Hari sudah malam, kalian bisa beristirahat di sini, kuperingatkan jika kalian mengusik Riel lagi akan kulempar kalian ke tujuh lautan."
"Setelah yang kau lakukan pada kami, aku tidak ingin merasakan pukulanmu lagi," balas Nal mendesah pelan.
Kurasa itu sudah cukup meyakinkan.
Pagi berikutnya aku pergi bersama ketiga malaikat tinggi ke pulau langit yang jauh berada di atas awan, setiap pulau itu dihubungkan oleh sebuah jembatan di mana ada kota, desa dan sebagainya.
__ADS_1
Saat aku bertanya berapa banyak pulau tersebut jawabannya sangat mengejutkan, semuanya ada 500 pulau yang luasnya satu hektar, bisa dibayangkan jika pulau ini jatuh aku akan kasihan pada orang di bawahnya tapi syukurlah pulau ini berada di atas padang rumput.
Aku dibawa ke sebuah bangunan megah mirip kastil akan tetapi jauh lebih besar, di tengah ruangan itu ada tiga kursi yang menjadi tempat duduk ketiga orang di depanku.
Nal berkata ke arahku.
"Kau bisa duduk di sana."
Aku tertawa.
"Kalian salah paham, aku tidak ingin mengambil wilayah ini.. aku hanya akan membantu kalian melawan iblis kemudian pulang, hanya itu."
"Kau yakin?"
"Tentu saja, kalau boleh tahu kamarku di mana?"
Gabriela berbalik ke arahku lalu meletakan tangannya di dada sembari membungkuk.
"Tuan bisa menggunakan kamarku, silahkan ikuti aku."
Untuk Gabriela yang memiliki wajah kekanakan-kanakan hal ini cukup mengejutkan
"Kalau begitu baiklah."
"Selama di sini aku sendiri yang melayani tuan jadi jangan meminta apapun pada yang lainnya."
"Aku mengerti, kau menakutkan... ngomong-ngomong apa kau tidak ingin kembali ke tempat ini? Bukannya di sini sangat nyaman."
"Setelah melakukan kejahatan di masa lalu, aku sudah meninggalkan tempat ini selamanya kini aku hanya tinggal bersama tuan."
__ADS_1
"Kau menangis?"
"Aku tidak menangis."