Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 155 : Kekacauan Di Kota Suci


__ADS_3

Kota suci adalah sebuah kota yang bisa dibilang sebagai rumah bagi para pendeta dari empat kultus yang ada di dunia ini, setiap kultus mewakilkan Dewi mereka jadi tidak aneh jika jumlah Pendeta di sini sangat banyak dibanding di kota lainnya.


Di sini juga merupakan tempat yang nyaman serta ramah terhadap para pendatang, walau kau tidak memiliki uang para pendeta terkadang membagikan berbagai makanan terhadap pelancong, jika kau berfikir bahwa mereka memaksa seseorang untuk bergabung dengan kultus mereka jawabannya tentu salah.


"Ah, guru kah."


"Kalian berdua kah?"


Ketika aku dan Ristal berjalan-jalan untuk memperhatikan setiap toko tanpa sengaja aku bertemu dua orang yang merepotkan, mereka adalah Olien dan Cleo yang entah kenapa pakaiannya sedikit berbeda warna.


Mereka mungkin naik jabatan.


"Hoho, bagaimana penampilanku?"


"Sama seperti sebelumnya."


"Mana mungkin, lihat baik-baik."


Cleo juga sedang menuliskan sesuatu di papan tulisannya lalu diberikan padaku.


(Ukuran dada kami naik beberapa centimeter)


"Kalian seharusnya tidak memberitahukan informasi pribadi pada orang lain."


"Tak apa, ini supaya kita tidak memiliki rahasia satu sama lain, lalu siapa wanita cantik di sampingmu guru?"


(Aku juga penasaran?)

__ADS_1


Rasanya tidak enak jika aku bilang bahwa Ristal adalah Dewi yang mereka sembah.


"Namanya Risa dia istri baruku."


Cleo langsung berlari.


"Tunggu Cleo jangan lari, aku sepertinya harus mengejarnya sebelum dia melakukan hal nekat, sampai nanti."


Aku hanya menatap keduanya dengan tatapan kosong.


"Heh, kau cukup digemari oleh gadis," kata Ristal.


"Cleo?" panggil Olien dan dia menunjukan tulisan di papannya.


(Aku ingin ke toilet)


"Heh, kukira kau depresi."


Kami berjalan menuju alun-alun kota di mana kini keempat patung dewi telah dibuat semestinya, bagiku tidak ada yang tampak berbeda, khususnya soal patung Dewi Ristal. Aku secara terus menerus menatap antara patung dan dan Dewi itu sendiri.


"Tidak ada yang berbeda, bahkan mengenakan celana yang sama."


"Jangan menatapnya."


"Lalu apa yang salah?"


"Rambutnya kurang rapih dan juga..."

__ADS_1


Aku menarik pipinya.


"Bilang saja Dewi Ristal ingin berkencan denganku jadi menggunakan alasan seperti ini."


"Tidak, aku mengatakan yang sesungguhnya," katanya memalingkan wajah, kurasa sebagai pihak dari laki-laki harus segera mengalah.


Ini mungkin disebut sisi baik dari Dewi


Aku menggenggam tangannya lalu berkata.


"Karena sudah berada di sini, mari berjalan-jalan sebentar."


Aku membawa Ristal ke berbagai tempat populer di kota suci termasuk rumah teh yang menyajikan berbagai minuman herbal yang berbeda satu sama lain.


Sejauh ini kami menikmatinya sampai sesuatu jatuh dari langit, itu adalah Golem batu yang sebelumnya digunakan oleh Alexius, dengan kata lain ada iblis yang menyerang kota ini.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Ristal yang tersenyum jahil.


"Beberapa tempat di kerajaan ini mungkin dalam bahaya, aku pikir aku harus membawa suamiku untuk membantu."


"Jadi ini alasannya, harusnya katakan dari tadi agar aku bisa bersiap-siap."


"Anggap saja sebuah kejutan, aku akan menunggu di masion, sampai nanti."


Dia menghilang dalam sekejap.


Bahaya dari dunia ini sepenuhnya belum dihilangkan karena itu pekerjaanku masih berlanjut.

__ADS_1


Aku keluar dari cafe kemudian menatap Golem raksasa tersebut yang dikepung oleh para pendeta dari segala arah.


Sihir suci terlihat begitu efektif saat mereka gunakan, lebih dari itu aku lebih mengkhawatirkan ledakan di tempat lain.


__ADS_2