
Ini adalah sebuah kota paling dekat dengan lokasi pertarungan melawan monster, sebagai ucapan terima kasih sebuah pesta diadakan Scarlet di sebuah bar yang sangat luas.
Syukurlah berkat Mamisa semua orang tidak ada yang mati.
Mereka menyediakan minuman seperti Ale, Bir, ataupun Wine yang bisa dipesan sebanyak yang mereka inginkan, tentu saja aku tidak meminum ketiganya dan lebih memilih teh atau susu hangat.
"Kau ini bocah kah," ejek Scarlet.
"Biarin... Birmu tumpah."
"Alamak, belum tiga menit tiga menit."
"Jangan minum jika sudah terbuang."
Di sebelahku Valista dan Mamisa saling berunding tentang siapa yang mampu membunuhku saat aku tertidur.
Kau mungkin tidak akan menemukan orang seperti mereka di manapun kau berada, terlebih merencanakan pembunuhan di depan orangnya.
Selagi meneguk tehku, aku menghela nafas panjang.
"Lalu bagaimana denganmu sekarang?'
"Setelah ini aku masih harus mengalahkan tujuh orang lagi dewan penyihir, aku tetap harus menghajar mereka dan menghancurkan semuanya."
"Jika kau lakukan guild yang berada di bawah pengawasan mereka akan semakin bebas."
"Dari awal guild memang seperti itu, kau bisa lihat mereka semua.... mereka tertawa, berteriak satu sama lain lalu menjalin pertemanan, itulah yang disebut guild sesungguhnya tanpa harus ada orang yang mengikat kebebasan mereka ataupun mengendalikan jalan sihir mereka."
"Menurutmu begitu?"
__ADS_1
"Walau ada guild jahat di luar sana, tapi tidak dipungkiri ada lebih banyak guild yang baik juga yang akan membantu masalah orang-orang."
Scarlet tersenyum kecil lalu melanjutkan.
"Para petualang sepakat untuk menjual monster itu ke guild, aku akan mengambil bayaranmu sebagai konfensasi karena kau memintaku merawat para Siren itu."
"Aku tidak keberatan," jawabku santai sebelum memesan beberapa daging untuk disantap.
Saat malam harinya ketika aku tidur dua orang menyelinap ke kamarku, tentu mereka adalah Valesta dan Mamisa.
Orang-orang ini sangat bodoh.
Aku membuka mataku saat mereka mengacungkan pisau ke arahku.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?"
"Kami hanya penasaran apa kau akan mati jika ditusuk?"
"Jika aku benar-benar mati, apa yang kalian lakukan?"
"Kami akan menari-nari di kuburanmu."
"Sebencinya kalian padaku."
"Kami tidak benci, kami hanya bertaruh," balas Mamisa lalu mengambil tempat tidur di sampingku sedangkan Valesta mengambil sisi yang lain.
"Kalian masih mencoba menusukku?"
"Kami hanya ingin tidur di sini."
__ADS_1
"Aku juga."
"Mana mungkin begitu," teriakku demikian dan pada akhirnya aku membiarkan mereka apa adanya, lagipula aku abadi.
Pagi berikutnya seperti biasanya salju turun membasahi kota ini, aku, Valesta dan Mamisa akan berangkat lebih dulu ke tempat tujuan kami menggunakan sihir teleportasiku.
Aku berkata pada ke sepuluh Siren yang berjajar bersama Scarlet untuk mengantarkan kami pergi.
"Kalian tinggallah bersama Scarlet nanti, setelah itu aku akan menjemput kalian."
"Kami mengerti."
Aku masih belum memberikan nama pada mereka, saat di desa aku akan melakukannya.
"Aku pergi sekarang."
"Aah, jaga diri kalian."
Lingkaran sihir dijatuhkan hingga kami bertiga muncul di sebuah kota indah yang berada sedikit jauh dari pelabuhan Eternal.
Udara dingin yang sebelumnya kami rasakan telah beralih menjadi udara yang hangat yang penuh sinar matahari.
"Hari ini aku punya pemotretan, aku akan menemui kalian berdua nanti."
"Aah, kami akan tinggal sementara di sini.. jangan terburu-buru," balas Valesta.
"Oke."
Aku hanya melihat kepergian Mamisa dari belakangku sebelum melangkah pergi. Aku berniat melaporkan diriku sendiri pada anggota dewan hingga mereka yang akan mendatangiku.
__ADS_1