
Syukurlah aku bisa mendapatkan cangkulku kembali setelah berlari sekian lama.
Saat perjalanan pulang aku bertemu dengan dua orang yang sedang duduk selagi memegang kerang.
Mereka berteriak hingga aku terkejut.
"Puja kerang ajaib Ululululululu."
Mereka berdua bukan lagi penduduk kota melainkan Spongebob dua dan Patrick dua.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku.
"Kerang ini bisa mengabulkan permintaanmu, apa kau mau mencobanya?"
Tidak ada salahnya mencoba.
Keduanya berdoa untuk mendapatkan makanan dan benar saja seseorang memberikannya pada mereka setelah memesan di kedai makanan.
Aku terdiam dan berkata.
"Ajaib sekali."
"Giliranmu?"
"Aku meminta agar menjalani hidupku yang damai dan tenang," bersamaan itu petir menyambar di langit hingga membuat semua orang terduduk selagi menutup telinga mereka.
"Apa-apaan itu? Biarlah, aku juga merasa memang sulit untuk mendapatkan kedamaian di sini."
Aku mendesah pelan lalu memberikan kembali pada pemiliknya setelah menggosoknya tiga kali dan tak terjadi apapun.
"Kau tidak berteriak puja kerang ajaib Ululululululu."
__ADS_1
"Ogah."
Dua hari selanjutnya pernikahan Ken digelar, aku akan bilang bahwa istrinya sangat cantik, dengan tubuh ramping serta rambut bergelombang pirang.
Dengan ini kalian telah resmi menjadi sepasang istri.
Semua orang yang menyaksikan tersenyum senang selagi bertepuk tangan, dengan ini sudah waktunya kami juga menyelesaikan tujuan kami selanjutnya.
Setelah mengemasi banyak barang ke dalam kereta, aku, Amaterasu, Akane dan tentu saja kedua istriku berpamitan pada semua penduduk termasuk ratu, Ibela dan juga Ken.
Mereka semua menundukan kepalanya untuk berterima kasih.
"Kalian berlebihan."
"Tidak, apa yang kalian lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang."
"Itu juga berkat bantuan semua orang, kalau begitu kami pergi sekarang... jaga diri kalian."
Saat itu mungkin hanya Akane yang tinggal di sana.
"Aku menantikannya," balas Akane naik ke atas kereta barang diikuti yang lainnya sementara aku naik di depan untuk mengendalikan kuda.
"Mari pergi."
Semua orang melambaikan tangan untuk mengantar kami, perjalanan kami dimulai kembali.
Menyusuri jalanan setapak yang rata, sebuah padang rumput menyambut kami, dibarengi angin semilir yang melewati rerumputan aku mengigit apel di tanganku.
Aku mengalihkan pandangan ke semua orang di belakang dan mereka sedang tertidur pulas, kurasa aku juga harus beristirahat sebentar jadi aku memarkir kereta di dekat sungai yang memiliki air yang jernih.
Kau juga bisa melihat ikan berenang di sana, aku mengambil air dengan telapak tanganku lalu membasuhkannya ke wajahku.
__ADS_1
Tak lama semua orang terbangun.
"Apa kita sudah sampai?" ucap Akane.
"Yah, masih lima hari lagi untuk sampai ke wilayah Install.. kau pasti mengigau."
"Benar juga."
"Suamiku ada dua."
"Benar."
"Kalian malah berhalusinasi sekarang, cuci wajah kalian aku akan membuat sup hangat."
"Tidurku sangat nyenyak," tambah Amaterasu.
Aku capek-capek membawa kereta mereka malah benar-benar terlalu santai.
Aku membantu kedua istriku dan Amaterasu turun dari kereta, di luar dugaan Akane juga membentangkan tangannya.
"Tolong aku juga."
"Kau ini jadi manja juga."
"Berisik."
Aku tidak menolaknya sih dan diam-diam menyentuh bagian lembut darinya, hingga mereka semua membasuh wajah mereka di tepi sungai.
Aku mengambil bekal kami, ada beberapa jamur serta kentang yang cukup tahan lama dibawa dalam perjalanan.
Ada roti juga.
__ADS_1
Kurasa ini sudah cukup.