Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 61 : Desa Kecil


__ADS_3

Ini adalah bar yang dikelola Elona serta para pelayan Succubus.


"Tolong segelas susunya."


"Aku kehabisan susu, silahkan minum ini saja."


Sebagai gantinya aku malah menerima teh biasa dari Elona. Ini lebih baik dari pada tidak ada yang bisa kuminum.


Tadinya aku ingin pergi ke sini sendirian tapi sayangnya Selly dan Sella memaksa untuk ikut hingga mereka memesan minuman yang mereka suka di sebelahku.


"Tuan, mau coba ini... ini bekas bibirku."


"Jangan minum punya Selly, aku lihat dia mencemari gelasnya dengan air liur... silahkan punyaku juga."


Aku menarik pipi mereka berdua.


Akan sangat sulit memiliki ketenangan jika aku bersama mereka berdua, sampai sekarang aku masih tidak percaya mereka sebelumnya berpangkat raja iblis.


Karena suatu alasan Selly dan Sella merupakan pelayan pertamaku, mereka tidak mengenakan pakaian pelayan semestinya melainkan kimono mini yang sama sekali tidak menutupi bagian atas maupun bagian bawah, meski begitu sampai sekarang tidak ada yang berani menggoda mereka walaupun keduanya jelas-jelas wanita cabe-cabean.


Aku kira semua pria akan merasa nyawanya dalam bahaya jika mendekati kedua orang ini.


Aku menyeruput tehku dengan senyuman masam.


"Teh ini pahit."

__ADS_1


Elona tertawa lalu membalasku.


"Itu memang teh pahit, kalau mau pesan lagi aku memiliki banyak di sini."


"Kenapa kau memiliki banyak?"


"Sedang ada diskon sayang kalau tidak dibeli."


Tipe wanita yang akan membeli apapun karena diskon walaupun tidak dibutuhkan.


"Ngomong-ngomong soal susu, kenapa tidak ada, ini pertama kalinya situasi ini terjadi padaku?"


"Jangan khawatir tuan, aku punya banyak.. silahkan."


Aku menjitak kepala Selly dan Sella hingga mereka mengerang kesakitan, untuk Elona dia menulis sesuatu di secarik kertas yang mana ia berikan padaku.


Itu hanyalah sebuah alamat dari sebuah desa kecil jauh dari sini.


"Jika kau ingin tahu sebaiknya kau datang ke sana, aku yakin kau bisa membantu mereka."


Aku mengangguk mengiyakan kemudian pergi ke alamat tersebut dengan kereta kuda biasanya.


Selly dan Sella ikut juga denganku, keduanya asyik mengobrol di belakang kereta barang bawaan walaupun perkataan mereka hanyalah diisi dengan pembicaraan mesum.


Sesampainya di desa matahari telah tenggelam seutuhnya.

__ADS_1


Kepala desa mengizinkan kami untuk menginap di rumahnya dan baru esok pagi kami akan tahu sebenarnya apa yang terjadi di sini.


Kami menerima satu kamar yang bisa digunakan bersama.


Terkadang Selly dan Sella terlalu berisik karena itu aku selalu memperingati keduanya untuk diam, entah di kamar mandi, di meja makan ataupun di ranjang.


Hal itu memang sangat merepotkan, paling tidak saat malam hari mereka tidur seperti seorang bayi yang tak berdaya, yang salah di sini hanyalah kedua tanganku dijepit diantara kedua dada dan paha mereka, terlebih wajah mereka begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafas dari keduanya.


Aku mungkin bisa mati karena gugup.


Meski dari jarak dekat seperti ini masih saja sulit untuk membedakan keduanya, bagai pinang dibelah dua adalah istilah yang cocok untuk mereka.


Untuk sekarang mari tidur.


Keesokan paginya aku terbangun dalam posisi yang sama. Selly dan Sella yang sebelumnya tidur di sampingku sudah tidak ada.


Karena penasaran aku mencarinya dan kulihat mereka tengah memasak di dapur bersama istri kepala desa dan putrinya.


"Selamat pagi tuan, aku sudah menyiapkan air hangat untuk tuan bisa mandi duluan," kata Selly.


"Untuk itu biar aku yang menemani," Sella mengajukan hal demikian sementara istri kepala desa menatapku dengan pipi memerah.


"Tolong untuk menahan diri di depan anak kecil."


Kesalahpahaman sudah biasa bagiku.

__ADS_1


__ADS_2