
Tempat ini benar-benar luas, setiap aku berbelok di ujung koridor aku akan menemukan persimpangan kembali hingga akhirnya aku tersesat lalu menemukan diriku di sebuah ruangan pelatihan.
Kurasa ada seseorang yang sedang berlatih di sana. Aku mengintip siapa yang berlatih dan dia adalah Almaira.
Almaira menciptakan sihir di tangannya menembakan bola-bola api untuk menghancurkan setiap target yang dipasang jauh di depannya.
Kukira dia pergi bersama penjaga yang menjemputnya.
"Sihir api kah?"
"Tuan Beaufort rupanya."
"Panggil saja Beaufort.."
"Maaf."
"Apa kau sedang melatih sihirmu?"
"Iya, aku memiliki kapasitas mana rendah karena itu, seranganku tidak bisa bertahan lama khususnya soal serangan sihir."
"Begitu, kulihat kau menggunakan sihir tingkat menengah. Bagaimana jika kau mencoba sihir dasar?"
Almaira memiringkan kepalanya.
"Sihir dasar mungkin tidak akan berpengaruh pada musuh yang lebih kuat?"
"Menurutmu begitu."
Aku mengulurkan tanganku untuk menciptakan sihir api, di mana setiap bola yang kuciptakan mengenai target tanpa meleset sedikitpun.
Sihir dasar hanya mengambil sekitar 5-10 persen dari energi mana, itu bisa dipakai sebanyak 10-15 kali.
__ADS_1
Dan jika sihir dasar digabungkan itu sama dengan sebuah combo yang melebihi sihir tingkat atas.
"Sihir tanpa rapalan?" dia begitu terkejut hingga memasang wajah kaget.
"Iyah, bagiku malah aneh menggunakan rapalan panjang untuk setiap sihir."
Khususnya saat mereka mengatakannya malah terdengar seperti tukang halu.
"Guru tolong ajari aku."
"Kami juga," suara itu berasal dari depan pintu dan kulihat Esna maupun Thenta diam-diam memperhatikan kami latihan, dari awal aku sudah tahu mereka ada di sana sih.
Sihir adalah perwujudan dari imajinasi penggunanya, pertama kau harus merasakan mana di dalam tubuhmu lalu mengalirkannya ke ujung tanganmu untuk membentuk lingkaran sihir.
Di saat itu, pengguna harus bisa membayangkan sihirnya, bentuknya kemudian dampak yang dihasilkannya, misal kau menggunakan sihir air maka, kau harus memikirkan bahwa apapun yang dikenakannya akan basah dan hancur.
Setelah itu kemudian lepaskan seluruh mana yang telah dikumpulkan di tanganmu, dengan begitu kau bisa menggunakan sihir tanpa rapalan.
"Hebat sekali."
Ketiganya berkata hal demikian lalu aku melanjutkan.
"Untuk memudahkan kalian membayangkan sihir, kalian bisa memberikan nama singkat seperti.. Thunder."
Petir menyebar ke segala arah.
Kemudian.
"Fire Bolt."
"Water Slash."
__ADS_1
Dan Kemudian.
"Wind Cutter."
Semua elemen dengan ringan kutunjukan pada mereka semua, hingga ketiganya menatapku dengan mata berbinar.
"Jika kalian sudah pandai kalian bisa menggunakan hal seperti ini."
Aku menciptakan lima lingkaran sihir dasar yang kuubah sedikit lalu berkata.
"Hell Fire."
Api meledak seperti sebuah tsunami yang memakan seluruh target dalam ledakan, bahkan dindingnya juga hancur karena meleleh.
"Uwaahh.... ini bukan lagi tingkat penyihir biasa," ucap Esna mendapatkan anggukan keduanya.
Sementara aku memperbaiki kerusakannya, mereka kembali berlatih.
"Ngomong-ngomong Almaira, apa kau meminta para kesatria kerajaan yang menjemputmu pergi?"
"Kesatria? Aku sama sekali tidak melihatnya."
"Kau pasti bercanda, mereka datang saat istirahat tadi."
"Aku mengatakan hal sesungguhnya, bagaimana dengan kalian berdua?"
"Kami juga."
"Mungkinkah?"
Aku segera keluar dari area pelatihan ke arah belakang sekolah di mana ketiga mayat sebelumnya ditemukan, saat aku mengeceknya para kesatria yang sebelumnya aku temui telah terbunuh.
__ADS_1
Almaira, Esna dan Thenta yang mengikutiku dari belakang terduduk lemas di tanah selagi menutupi mulut mereka.