Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 126 : Sebuah Desa Dari Ras Iblis


__ADS_3

Di desa ini semua fasilitas terlihat sudah lengkap, ada rumah yang digunakan sebagai rumah sakit, toko besi bahkan beberapa apoteker juga ada dimana-mana.


"Karena kami mencoba menjauh dari dunia luar aku terus mencari informasi di luar desa lalu menerapkan apa yang kupelajari di sana dan membawanya kemari, hingga jadilah seperti ini."


Semuanya memang terlihat seperti di dunia manusia.


"Soal kau yang berdamai, bagaimana tanggapan raja iblis lainnya?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja menolak, sepertinya tak lama lagi mereka akan datang kemari dan memaksaku untuk bergabung."


"Bisa disimpulkan bahwa mereka akan menyandera rakyatmu agar kau ikut bertarung." kata Rusina demikian.


"Tepat sekali, walau aku raja iblis aku tidak terbiasa bertarung karena itulah aku ingin meminta bantuanmu."


"Yah, aku tidak keberatan hanya saja kau yakin? Semua orang bisa ketakutan saat melihatku."


"Soal itu, kau hanya perlu menyamar."


Aku hanya bisa memiringkan kepalaku lalu dibawa ke kediaman milik Queen yaitu berupa menara tinggi di tengah kota, di atas menara yang menjadi kamarnya di mendandaniku dengan bersemangat hingga penampilanku seperti seorang pelayan yang memiliki dua tanduk di kepalanya.


"Sampai semuanya aman, kau akan terus di dekatku."


"Ini terlalu.."


"Itu lebih baik dibanding didandani menjadi seorang gadis."


Aku seperti om-om tua yang selalu muncul di semua anime.

__ADS_1


Kami berdua dia ajak ke arah ruang makan di lantai bawahnya.


"Jadi kau tinggal di sini sendirian?"


"Benar sekali, aku melakukan segala hal dengan kemampuanku.. walau sedikit kesepian lebih baik seperti ini, aku tidak ingin ada ras iblis lagi yang melayani seseorang bahkan untukku, aku lebih suka mereka hidup bebas seperti apa yang mereka inginkan."


Aku kini ragu bahwa dia iblis?


Mungkin dia terlalu kebanyakan bergaul dengan manusia.


Selagi itu baik aku akan mendukungnya.


"Bagaimana makanannya?"


"Semuanya terasa tidak enak, kecuali saladnya."


Rusina juga sepertinya memiliki pendapat yang sama walau dia memilih untuk tidak mengatakan apapun.


Selama tinggal di sini aku mendapatkan kamar nyaman, ranjang yang empuk serta fasilitas lainnya, aku juga sesekali berkeliling untuk menyapa semua orang dan tak kusangka tanduk pajangan ini sangat berguna.


Jika mereka sudah memiliki kehidupan seperti ini seharusnya mereka tidak perlu berperang lagi, pikirku namun seseorang bertubuh besar muncul lalu mengambil seorang anak dari gendongan ibunya.


"Tidak, anakku lepaskan dia."


"Berisik."


Saat ibu itu didorong menjauh aku segera menahannya.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Biar aku saja, oi.. kenapa pria dewasa menganggu anak kecil?"


"Siapa kau? Lebih baik kau urus urusanmu sendiri... aku memerlukan anak ini untuk membuat Queen keluar."


"Kau memiliki urusan dengan dia?"


"Aku datang kemari untuk memaksanya bertarung dengan pahlawan, jadi cepat menyingkirlah."


Aku menggunakan skill [Time Over] saat waktu berhenti aku mengambil kembali anak tersebut lalu mengembalikannya ke ibunya.


Tentu bagi semua orang itu terlihat seperti anak itu menghilang dan muncul kembali di dekat ibunya.


"Mustahil, bagaimana bisa kau?"


Pria itu menerjang ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku mencengkeram wajahnya kemudian kubanting ke jalanan hingga ledakan menyembur ke udara.


"Sekarang sudah aman, kalian bisa pergi."


Keduanya membungkuk sekali lalu berjalan menjauh, sang anak menunjuk kepalanya seolah memperingatiku akan sesuatu. Saat aku sadari tandukku ternyata lepas.


Walau aku manusia mereka tidak takut padaku hingga aku tersenyum sambil melihat keduanya menghilang di perempatan jalan.


Aku kembali memasang tandukku.


"Kau akan ikut denganku untuk wawancara."

__ADS_1


"Ugh..."


__ADS_2