Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 402 : Celah Dimensi


__ADS_3

Setelah dari dunia Dewi aku muncul di pusat desa, di sana ada kursi panjang yang bisa kugunakan untuk bersantai, aku duduk selagi melebarkan tanganku menatap langit cerah.


"Kau baik-baik saja?"


Yang bertanya itu adalah Koko yang seperti biasa berjalan dengan menunggangi kudanil.


"Aku hanya ingin beristirahat di sini."


"Begitukah, mau aku temani."


"Ditemani gadis kecil adalah suatu yang membuat hati senang."


"Dasar lolicon, Momo kau bisa beristirahat di danau... aku akan menunggu di sini nanti aku akan memanggilmu."


"Ough... ough."


Momo pergi sementara Koko duduk di sebelahku, karena kursi ini tinggi kakinya jelas tidak bisa menyentuh permukaan batu hingga dia hanya memasang wajah cemberut.


"Aku benci ini."


Aku hanya tersenyum kecil lalu membalas.


"Sebentar lagi kau akan tinggi, jadi bersabar saja."


"Semua orang selalu mengatakan itu saat mereka memaksaku memakan sayuran."


Aku tertawa kecil.


"Kurasa sudah waktunya?"


"Waktunya apa?" aku bertanya-tanya, tepat saat itu sebuah musik diperdengarkan.


Di tengah pusat desa tampak Mamisa sedang berdiri selagi mengenakan kostum idol. Tak hanya dirinya ada tiga orang yang menemaninya dengan pakaian serupa.


"Bukannya itu pelayanku."


"Mereka sepertinya telah menjadi idol juga."


Melihat Mamisa menggerakkan pinggulnya tidak aneh lagi, tapi, Rin, Amnestha dan Gabriela juga melakukan itu.


"Mereka semua bisa menari dan bernyanyi."

__ADS_1


"Apa? Kau baru tahu."


"Aah, kurasa banyak sisi lain yang tak kuketahui dari orang-orang yang dekat denganku.... selama ini aku hanya fokus menyelamatkan dunia."


"Lebih baik kau berhenti jadi pahlawan, kurasa sudah waktunya kau menyerahkan gelar merepotkan seperti itu pada orang lain.. dan menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri, Beaufort Reymond."


"Kau sudah tahu tentangku?"


"Semuanya."


"Begitu," balasku singkat selagi masih fokus dengan penampilan mereka berempat, orang-orang bersamaan saling bertepuk tangan dan berkata.


"Lagi, lagi, lagi."


Dan musik kembali terdengar.


Tepat ini semakin ramai saja, itu mengingatkanku sesuatu.


Aku mengeluarkan sebuah cokelat yang mana kuberikan pada Koko.


"Ambillah."


"Heh, kau memberikannya padaku? Kudengar lolicon selalu banyak manisan untuk menjerat korbannya."


Koko tiba-tiba merebutnya.


"Aku ambil, awas saja kalau rasanya tidak enak."


Koko memakannya dengan wajah bahagia hingga belepotan dan aku memberikannya sebuah tisu.


"Terima kasih."


Aku bangkit.


"Kau mau pergi?"


"Aah, aku masih memiliki beberapa pertarungan lain."


"Kau ini."


"Setelah semuanya, mungkin aku hanya akan bisa bergantung padamu dan yang lainnya."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Aku melambaikan tangan ke arahnya lalu menghilang dengan sihir teleportasiku.


Tempat berikutnya yang aku tuju adalah sebuah dataran bebatuan, di sini ada seorang wanita yang duduk di atas batu besar.


"Kau?"


"Lama tak bertemu, jika tidak salah kita bertemu di dasar jurang."


"Layne," begitulah aku memangilnya hingga ia hanya tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangan ke atas langit yang mulai berubah.


"Kau datang kemari karena merasakannya juga bukan?"


Dari langit itu sebuah retakan tercipta kemudian memunculkan dua tangan raksasa yang berusaha mencoba membukanya lebih lebar.


"Jadi itu yang dinamakan celah dimensi?"


"Tepat sekali, begitulah dunia bawah terhubung dengan dunia ini."


Aku kembali bertanya padanya.


"Sebenarnya siapa kau?"


"Aku putri dari raja dunia bawah, sebentar lagi dia muncul."


Saat celah dimensi terbuka sebuah tengkorak raksasa jatuh dari dalamnya menembus jurang, karena ukurannya sangat besar dari tangan sampai kepala saja yang bisa kulihat sekarang.


Di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota.


"Lama tak bertemu ayah."


"Layne, bukannya aku menyuruhmu untuk tetap di rumah."


"Di sana sangat membosankan."


"Apa kau datang untuk menghentikan ayahmu."


"Benar, ayah tidak akan menang melawan orang ini."


Layne menunjuk ke arahku.

__ADS_1


"Jadi kau pahlawan itu... aku sudah sejak lama menunggu hal ini, saatnya untuk mengakhiri semuanya."


__ADS_2