
Kami semua kembali ke pelabuhan Habiel di mana para Arch Priest tinggal, di sini bersama penduduk kami kembali membangun katedral serta rumah-rumah penduduk yang hancur.
Singkatnya aku kembali menjadi tukang kuli.
Selagi mengelap keringatku dengan handuk seorang pria yang ikut membantu berkata ke arahku.
"Kerja bagus tuan Kazuya kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat sebelum perayaan kota dilaksanakan."
"Perayaan?"
"Kami selalu merayakannya setiap tahun, sayangnya karena ulah mereka seluruh acara harus ditunda."
Pria itu segera berbisik ke arahku.
"Tahun ini para Arch Priest akan muncul dengan pakaian renang."
"Mereka berpenampilan seperti itu?" kataku terkejut namun saat terdengar suara berdeham dari arah belakang yang membuat pria itu melarikan diri.
"Mereka tidak akan mengenakan hal seperti itu," yang menjawab itu adalah Michella bersama Arch Priest yang sebelumnya aku selamatkan.
"Kalian di sini juga, apa kalian ingin membantu juga?"
"Jangan memberikan pekerjaan berat pada seorang wanita, kami hanya datang untuk mendukung orang-orang yang bekerja keras."
"Berarti itu aku, aku juga bekerja keras... lihat keringatku sangat banyak."
Mereka semua menatapku dengan pandangan bermasalah.
__ADS_1
"Kau hanya memindahkan satu batu lalu membasuh pakaianmu dengan air agar terlihat seperti orang yang bekerja keras."
"Aaahh... kalian melihatnya," teriakku.
"Ma... ma, tuan Kazuya sudah menyelamatkan kota ini bahkan menyelamatkan kita harusnya kita memberikan hadiah padanya," kata salah satu Arch Priest dan aku membalasnya dengan wajah keren.
"Aku tidak perlu hadiah, melihat senyuman kalian sudah cukup bagiku."
"Entah kenapa aku jadi jijik padamu," potong Michella sebelum pergi bersama yang lainnya.
Selly dan Sella memanggilku dari kejauhan.
"Sudah waktunya istirahat suamiku."
"Oh benar, bekerja keras membuat waktu terasa lebih cepat."
"Bukannya ini terlalu banyak?"
"Semakin banyak semakin meriah, lalu di mana kedua istrimu?"
"Mereka sedang bersenang-senang di sana bersama Amaterasu."
"Begitu, harusnya kau tidak perlu membantuku."
"Tidak, melihat dada Akane sesuatu yang tidak boleh dilewatkan."
"Jadi alasanmu seperti itu."
__ADS_1
Aku mulai menata setiap kembang api dari kotak-kotak dus yang dikeluarkan dari sihir penyimpanan Akane, beberapa orang juga memilih untuk melihat kami.
"Aku ingin membuat semua orang tersenyum saat melihat kembang apiku."
"Kembang api ini diisi dengan sihir."
"Benar, saat meledak di langit percikannya bisa terlihat seperti bunga atau makhluk hidup lainnya tergantung gambar yang kau buat."
"Boleh aku membuat beberapa."
Akane menyipitkan matanya menatapku.
"Jangan buat yang aneh-aneh."
"Aku tidak akan melakukan itu, kukira aku akan membuat bentuk naga."
"Naga kah."
Aku mengarahkan tanganku ke salah satu kembang api, setelah membayangkan bentuknya lingkaran sihir yang kubuat terserap ke dalam kembang api.
Dengan sihir semua hal memang semakin praktis.
Selanjutnya yang kami lakukan hanya menunggu sampai malam hari, saat matahari tenggelam barulah semua orang berkumpul di alun-alun kota ini.
Mereka semua mulai berhitung sampai tiga dan Akane mulai menyulut sumbunya, bersamaan itu kembang api kami mulai meluncur satu persatu ke langit membentuk percikan cahaya yang mempesona terutama sosok naga yang kubuat.
Selly dan Sella yang mengaitkan lengannya di lenganku tampak tersenyum bahagia, sementara Amaterasu melompat-lompat bersama Akane.
__ADS_1
Jadi inilah keinginannya sejak lama, aku bisa melihat senyuman orang-orang yang melihatnya juga.