Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 140 : Teater Musikal


__ADS_3

"Terlalu tampan... menarik, apa aku boleh melihatnya?"


"Jangan nona Azelia, anda mungkin tidak akan kuat melihatnya.. dia terlalu tampan."


"Itu malah semakin membuatku penasaran."


Azelia menerjang ke arahku sementara Reny mencegahnya mati-matian.


"Tolong tahan Anda nona, anda akan kehilangan kesucian, nanti apa kata dunia?"


"Dunia tidak akan mengatakan apapun."


Menakutkan, menakutkan, Succubus itu menakutkan.


"Sebaiknya tuan Kazuya segera pergi?"


"Lalu bagaimana soal turnya?"


"Besok saja, nanti aku tunggu di luar desa di jam yang sama."


Sepertinya situasi di sini sangat kacau.


"Jika begitu aku pergi."


"Terima kasih sudah mengantar kami."


Aku menghilang dalam sekejap.


"Reny kenapa kau lakukan ini?"

__ADS_1


"Pertama lihat ini dulu."


"Apa ini wajahnya?"


"Benar, lihat nona Azelia sudah mimisan."


"Ngomong-ngomong kenapa kau memiliki fotonya?"


"Aku mohon jangan katakan ini padanya."


Malam hari itu semua orang telah duduk di kursi mereka di mana di depan mereka sebuah panggung berdiri megah.


Elona dan para pekerja guild pun ada juga, sementara aku hanya berdiri menonton dari belakang bersama Ronald. Istriku juga ada di jajaran depan untuk menyaksikan pertunjukan para peri, mereka juga berkoloborasi dengan ras naga dan ras manusia menampilkan pertunjukan teater musikal.


Menceritakan seorang manusia yang bertemu dengan peri dan mencoba menyelamatkan putri yang disekap oleh naga jahat.


"Ini sangat luar biasa tuan, saya sama sekali tidak tahu ada hal seperti ini?"


"Sejujurnya di kota besar mereka selalu menampilkan hal ini untuk para bangsawan, tapi dengan ini kita bisa melakukannya."


"Saya mengerti."


Aku terkejut saat istri Ronald ada di panggung sebagai peran jahat.


"Itu?"


"Haha istri saya sangat bersemangat soal ini.... saya tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya."


"Penampilannya sangat bagus."

__ADS_1


"Terima kasih."


Ronald tampak bangga soal itu.


Mari kembali ke pertujukan, kini telah masuk pertengahan cerita dimana sang tokoh protagonis diundang ke istana, sang raja memintanya untuk menyelamatkan putri yang dikurung di atas menara, sang protagonis mulai membentuk party yang terdiri dari berbagai ras dan diantaranya merupakan penghianat, diam-diam dia melaporkan perjalanan mereka pada sang naga jahat.


Dari sana rintangan kesulitan kian bertambah dari anggotanya terbunuh serta penghianat yang membuka jati dirinya sesungguhnya yang termasuk keturunan naga, dari sini semua Flag telah menyatu menjadi sebuah kesatuan luar biasa.


Sang protagonis berhasil mengalahkan pengkhianat namun sebuah racun telah menyerang tubuhnya, ketika di ujung kematian itu peri yang bersamanya mengorbarkan sayapnya demi menyelamatkannya, hal itu cukup menyentuh banyak orang untuk menangis, kini hanya dua orang yang pergi ke stage terakhir, seorang pahlawan dengan pedang suci serta peri yang telah kehilangan sayapnya.


Di pertengahan bos mereka bertemu dengan istri Ronald yang menjadi tokoh penjahat, keduanya bertarung sangat sengit namun pahlawan bisa mengatasinya hingga mencapai menara terakhir di mana sang putri berada.


Ketika mereka saling berpelukan naga jahat muncul lalu menyemburkan nafas apinya membuat semua benda berubah menjadi batu termasuk putri sendiri.


Sang protagonis mati-matian mengalahkan naga tersebut dan berhasil.


"Kita tidak bisa menyelamatkan putri?" kata pahlawan depresi.


"Tidak, masih ada satu jalan lagi, ciuman dari orang tulus akan melelehkan pembatuan," potong si peri.


"Jika begitu akan kulakukan."


Keduanya saling berciuman dan seketika keajaiban telah terjadi, putri kembali sediakala hingga sejak itu kedamaian telah tercipta dan mereka berdua menikah dan memiliki banyak anak.


Dengan ini pertujukan telah berakhir, semua orang berdiri memberikan tepuk tangan meriah bahkan Ronald terlihat menangis.


"Saya teringat ketika saya masih muda."


Aku hanya tersenyum sebagai jawaban melihat jajaran pemain memberikan hormat ke penonton.

__ADS_1


__ADS_2