Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 198 : Pohon Kehidupan


__ADS_3

Setelah cukup lama ke sana kemari, kami akhirnya bisa menemukan sebuah danau yang telah membeku, bahkan kami tidak perlu takut jika pijakannya hancur.


Semuanya benar-benar keras.


Amnestha mengulurkan tangannya dan dari sana sebuah tanaman saling melilit dirinya sendiri membentuk sebuah bentuk spiral.


Tanaman itu terus mengebor es membentuk lubang diameter setengah meter hingga menembus kedalaman air.


"Bagaimana, kau menemukannya?" tanya Rin.


"Selama tanaman itu tubuh di atas tanah, aku pasti bisa mengetahuinya."


Beberapa saat kemudian akar itu kembali ke tangan Amnestha bersamaan sebuah bunga cerah, yang mana Amnestha berikan pada wanita bernama Rania ini.


Ekpresinya terlihat sangat senang.


"Terima kasih banyak, jika kalian tidak sibuk, mampirlah ke rumahku.. kalian bisa menginap di sana."


Atas tawaran itu, aku mengangguk mengiyakan, kami sudah cukup berjalan lama di tengah musim dingin, tak apa untuk menikmati ruangan hangat.


Walau cukup jauh, kami akhirnya tiba di rumah Rania, rumahnya sendiri tidak besar maupun kecil, bisa dibilang masih bisa kami tinggali bersama.


Ibunya tampak berbaring di tempat tidur.


"Aku pulang."


"Rania, kemana saja kau?"


"Aku mencari obat, dengan obat ini ibu pasti bisa sembuh, aku akan buatkan teh dulu dengan ini."


"Lalu mereka semua?"


"Teman-temanku, katanya mereka akan tinggal di sini selama tiga hari."


"Begitu."


Kami memperkenalkan diri padanya lalu aku berkata ke arah Amnestha.


"Apa dengan tanaman itu, bisa langsung menyembuhkannya?"

__ADS_1


"Mana mungkin bisa seperti itu, tanaman itu harus diminum secara rutin baru terlihat khasiatnya."


"Bukannya itu berbahaya jika dia kembali ke sana?" potong Gabriela.


"Memang benar, lebih baik biar aku saja yang menyembuhkannya."


Amnestha berjalan mendekat, ia menyatukan tangannya kemudian sebuah pohon muncul dari belakangnya.


"Apa itu?" tanyaku.


"Pohon kehidupan, kudengar pohon ini bisa menyelamatkan seseorang bahkan ketika mereka sekarat," jawab Rin demikian.


"Bukannya itu berarti Amnestha wanita luar biasa?"


"Tuan baru menyadarinya, dia itu roh agung... Di masa lalu keberadaan roh agung sama seperti Dewi."


Aku membalas dengan suara pelan agar tidak di dengar Amnestha.


"Padahal aku sering melecehkan Amnestha, apa itu artinya aku ini orang buruk?"


Gabriela maupun Rin hanya mendesah pelan, ekpresi mereka seperti mengatakan, "Sejak awal kau ini pria buruk, baru sadar?" seperti itulah.


"Aku ingin menyembuhkanmu, tolong buka mulutmu."


"Ba-baik."


Tetesan embun itu masuk ke dalam mulut si wanita, dan saat aku sadari tubuhnya bercahaya sesaat.


Bertepatan pohon yang menghilang, tubuh wanita itu kembali pulih.


"Aku sembuh, ini keajaiban."


"Alangkah baik jika Anda pura-pura masih sakit dan saat meminum teh itu, Anda langsung sembuh," mengetahui maksud perkataan Amnestha wanita itu mengangguk mengiyakan.


Saat Rania muncul kami berempat berdiri di belakangnya selagi memperhatikannya memberikan teh pada ibunya.


"Bagaimana?"


"Ibu tiba-tiba jadi sehat, Ibu langsung sembuh."

__ADS_1


"Syukurlah."


Keduanya saling berpelukan, Rania tidak bisa menahan air mata yang menetes dari wajahnya, pemandangan seperti ini yang ingin selalu kulihat.


"Maaf sebelumnya belum memperkenalkan diri, namaku Elizabeth, terima kasih sudah membantu putriku."


Mendengar namanya itu mengingatkanku sesuatu, aku mengeluarkan secarik poster dari mantelku lalu menunjukannya padanya.


"Elizabeth, bukannya ini fotomu?'


"Darimana kamu mendapatkannya?" tanyanya demikian terbelalak terkejut.


"Seorang pria dari tempat sebelumnya memberikan kami ini, katanya dia selama ini mencari kalian berdua."


"A-ayah."


"Sayangku."


Raut kebahagiaan muncul di wajah keduanya.


Jika tidak salah pria itu mengatakan bahwa saat terjadi serangan monster ke desa, keluarganya terpisah dengannya dan dia tidak bisa menemukannya di mana pun, selama lima tahun pria itu terus berkeliling mencari keduanya.


Syukurlah aku datang kemari.


Rin menawarkan dirinya.


"Biar aku yang menjemputnya tuan, selama tempat itu pernah aku datangi aku bisa menggunakan teleportasiku," kata Rin menawarkan diri.


"Baiklah, saat kembali nanti kau bisa menghisap darahku sebanyak yang kau mau."


"Terima kasih banyak."


Gabriela dan Amnestha mengerutkan alisnya saat kepergian Rin.


"Dasar kucing garong, dia merebut kesempatan kita."


"Benar, lain kali aku yang akan mendapat pujian dari tuan."


Aku akan pura-pura tidak mendengarnya saja.

__ADS_1


__ADS_2