Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 488 : Raja Dunia Amandeus


__ADS_3

Sementara aku duduk di atas bukit, peperangan tampak terlihat sengit.


"Jangan gentar."


Dibarengi ledakan luar biasa itu, orang-orang dari kedua belah pihak beterbangan. Ken melemparkan minuman ke arahku yang kutangkap baik oleh tanganku, dia tidak mengatakan apapun kecuali melambai dan berjalan pergi.


Saat matahari mulai tenggelam setengahnya peperangan telah selesai, kami berhasil mengalahkan mereka sayangnya pengorbanannya terlalu besar.


Aku dan Ken kembali ke dalam pasukan, tepat saat kami hendak masuk ke dalam kota, kota itu terbakar.


Semua orang berlarian mundur kecuali aku, Ken, Ibela dan Akane. Kami berempat.


Dari api yang membumbung tinggi itu sosok pria dengan menggunakan sihir api muncul, ia memiliki rambut putih panjang sampai pergelangan kaki.


"Amandeus," ucap Ibela.


"Dibanding kota ini jatuh pada kalian, aku lebih suka membakarnya sendiri."


"Padahal kaulah yang merebut kota kami."


Amadeus meninju udara dan itu menghasilkan api besar yang menerjang ke arah kami yang bisa kami hindari sebelum melesat maju.


"Akuma Ougi.... Kagutsuchi."


"Bodoh."


Sebuah tangan api keluar dari permukaan tanah menjerat kaki Akane lalu menghantamkannya ke bawah. Ibela dan Ken yang telah mempersempit jarak mengayunkan pedangnya di waktu bersamaan yang mana dengan baik ditangkap tangan kosong oleh Amandeus.


Pedang itu dia lelehkan sebelum menendang keduanya hingga sejajar dengan tanah, aku muncul tepat di belakangnya.


"Himitsu no ugoki."


Sebelum bisa mengayunkan pedangku, Amandeus memukul perutku membuatku memuntahkan darah sebelum di terbangkan jauh ke arah kota yang terbakar.


Selagi menahan sakit aku kembali bangkit bersama yang lainnya.

__ADS_1


"Orang yang menentang raja dunia akan dihapuskan."


Api mulai menjalar dari seluruh tubuhnya, tanpa dikatakanpun semua orang sudah tahu bahwa kekuatannya naik menjadi dua kali lipat, memberikan ketakutan yang luar biasa.


Ini sama seperti dengan skill intimidasiku yang dulu.


Menggigit ujung bibir, kami melangkah maju secara bersamaan hingga secara bergiliran menyerang Amandeus.


Ibela menggunakan jurus ninjanya sementara itu Akane mengayunkan pedangnya bergantian denganku, adapun untuk Ken dia harus menyerang dengan tangan kosong.


Aku mengayunkan pedangku kembali hingga Amandeus menangkapnya.


Dia berusaha melelehkannya akan tetapi pedangku tidak semudah itu dihancurkan, saat dia terkejut Akane memotong tangannya disusul Ibela dan Ken meninju tubuhnya beberapa kali.


"Akane."


"Baik, rasakan serangan gabungan kami... Akuma Ougi... Kagutsuchi."


"Aaaargh."


Semua prajurit yang menyaksikan serempak berteriak senang.


"Kita berhasil, kita menang."


"Menang."


Semua orang kecuali aku menjatuhkan dirinya ke tanah untuk memperhatikan kota yang telah terbakar, walau kami menang kecuali kekalahan Raja Dunia Amandeus kami tidak mendapatkan apapun.


Orang itu lebih suka menghancurkannya sendiri.


Aku memeriksa keadaan kedua istiku dan Amaterasu, mereka sepertinya sedang membalut tubuh orang yang terluka dengan perban.


Yang membuat aneh ternyata mereka melakukannya dengan baik.


Dan itu membuatku lega.

__ADS_1


Sekembalinya dari peperangan semua orang tampak menyambut kami, ada dari mereka yang bahagia karena keluarga mereka kembali dan ada juga yang sedih.


Jika kami gagal mengalahkan raja dunia aku tidak mungkin bisa menginjakan kaki ke tempat ini lagi.


Ibela berkata ke arah kami semua.


"Hari ini kalian beristirahat saja dulu, sisanya akan kuurus sendirian... aku akan melaporkan semua pencapaian kita kepada ratu agar bisa diumumkan ke semua pelosok benua."


"Aku akan membantu," potong Ken.


"Aku mengerti."


Aku hanya melihat kepergian mereka berdua dari kejauhan.


Aku berkata ke arah Akane.


"Mari pergi ke pemandian, aku akan mengosok punggungmu."


"Ogah, aku tidak akan membiarkan pria melakukannya.. mari pergi denganku Amaterasu."


"Tapi aku ingin mandi dengan tuan Kazuya."


"Sudahlah, temani aku dulu kau bisa mandi dengannya kapan-kapan."


"Baiklah."


Selly dan Sella menambahkan.


"Gadis yang pemalu."


"Aku juga setuju."


Sebenarnya itulah sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang wanita. Jika mengingat kedua istriku ini.


Mereka tidak seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2