
Aku hanya menggunakan tangan kosong meski begitu pedang Excalibur tidak bisa memotongku, malahan setiap kami bertubrukan itu menghasilkan percikan api.
Kami tertahan satu sama lain selagi menunjukan tekad masing-masing, sebelum mundur menjaga jarak.
"Apa yang ingin kau raih sebagai pahlawan?"
"Sudah jelas ketenaran serta pujian banyak orang, dengan menyelamatkan dunia ini aku pasti bisa menciptakan haremku sendiri sebagai hadiahnya haha."
Tak hanya tak berguna orang ini juga sedeng.
Aku menjulurkan tanganku untuk menciptakan lingkaran sihir cukup besar, salah satu cincinku bisa membuatku menciptakan sihir sebanyak apa yang kuinginkan, bagaimana kalau kita coba semua elemen.
Pertama petir hitam
Bam.
Petir itu menimpa tubuh Alexius, sayangnya sesuatu menahannya, sebuah sihir pelindung dengan ketebalan berlapis.
"Sialan kau, aku sedang melamun.. kau berani sekali menyerangku."
Sebagai musuh aku tidak perlu mendengar perkataannya.
"Api."
Bam.
Satu pelindungnya hancur.
"Air."
Blush.
"Angin."
Setiap aku menggunakan sihir aku sama sekali tidak pernah merasa kelelahan, di sisi lain Alexius cukup mendapatkan damage kuat.
Pelindungnya hancur, tubuhnya berantakan serta memiliki ekpresi jelek di wajahnya, walaupun sebenarnya wajahnya sudah jelek.
"Sekarang giliranku yang menyerang... Thunder Echanted."
Dia menyelimuti dirinya dengan petir lalu melesat dengan kekuatan tinggi, menyerang dari kiri kutahan dengan punggung tanganku, menyerang dari kanan kutahan pedangnya kembali.
__ADS_1
"Mustahil, kau bisa menahan seranganku?"
"Kau saja yang terlalu lemah."
Aku memukul perutnya beberapa kali dan ia meluncur menghantam tanah dengan ledakan kecil.
Sesuai yang diduga dari seorang pahlawan, dia bisa memulihkan dirinya, berbeda dengan seorang petualang lain yang membutuhkan rekan tim, orang bernama Alexius memiliki segalanya.
Dia menyeringai senang.
Lalu mengarahkan ujung pedangnya padaku, ketika aku lengah ujungnya menembakan sesuatu untuk melukai bahu kiriku.
Itu mirip seperti sebuah pantulan cahaya secara langsung.
"Bagaimana terasa sakit?"
Hanya sesaat sebelum tubuhku kembali pulih.
Sebelum hal merepotkan terjadi, aku berlari padanya, dia sudah siap dengan pedang yang akan diayunkan dari atas.
"Excalibur."
Sebelum pedangnya dijatuhkan, pedang itu telah menghilang dan berpindah tangan padaku.
Stealku bekerja, Steal adalah skill yang digunakan para job pencuri, syukurlah aku bisa menggunakan kemampuan ini.
"Kembalilah pedangku?"
Aku melemparkan pedang ke atas, kemudian menahan pukulan lurus dari Alexius, saat pandangannya terfokus pada Excalibur, aku membalas pukulannya namun dia lebih dulu menebak gerakanku untuk menahannya.
Kami saling menendang satu sama lain hingga tubuh kami terlempar di waktu bersamaan sementara Excalibur menancap baik di tanah.
Alexius menjulurkan kedua tangannya, membuat bola-bola cahaya tersedot ke telapak tangannya membentuk bola yang lebih besar.
"Grand Arista."
Sihir suci yang sangat kuat.
Aku membuat dinding pelindung sihir berlapis-lapis untuk menahannya, paling tidak itu sekitar 10 buah yang sejajar di depanku.
Perlahan dinding itu hancur dengan bunyi seperti sebuah kaca pecah.
__ADS_1
Prang.
Dua buah hancur.
Tiga buah.
Lima buah.
Sembilan buah.
Hingga semua pelindungku hanya menjadi serpihan kaca.
"Inilah kekuatan pahlawan sesungguhnya."
Jika dia memilih kekuatan sebanyak itu harusnya dia sudah menyelamatkan dunia ini.
Aku menciptakan sihir yang lebih besar untuk membuat bola api raksasa, saat kulemparkan pada Alexius dia sama sekali tidak berkutik sampai akhirnya tumbang di tanah.
"Kau? Tunggu sebentar sebelum menyerang."
Orang ini bodoh, tidak ada musuh yang menyiakan kesempatan dimilikinya.
"Setelah menggunakan sihir sebesar itu kau perlu waktu untuk mengisi ulang manamu bukan."
"Bagaimana orang desa sepertimu, bisa kuat seperti ini?"
"Entahlah."
Aku berjalan ke depan untuk mengambil pedang Excalibur ke tangan kananku, sementara tangan lain menciptakan pintu yang terhubung ke semua wilayah.
Saat pintu dibuka kulemparkan pedang Excalibur ke dalamnya lalu menghilang.
"Sial... pedangku."
"Dengan ini kau kalah, orang-orang yang berharap pada pahlawan akan mulai mengejekmu dan mulai tidak mempercayaimu."
"Kau melakukan sejauh ini, hanya ingin balas dendam padaku."
"Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin orang lain bernasib sama seperti desaku saat mereka terlalu percaya dengan sosok pahlawan."
"Suatu hari aku akan mengalahkanmu."
__ADS_1
"Coba saja."
Umurku sudah tidak lama lagi, jika ada seseorang yang mampu membunuhku kuharap dialah orangnya, dengan begitu kedamaian akan tercipta di dunia ini.