
Sesampainya di tujuan, pemandangan yang mereka harapkan berbeda jauh dari kenyataan, orang-orang tampak kehilangan semangat selagi diam tak bergerak seolah harapan telah terenggut dari tubuh mereka.
Yang bisa digambarkan hanyalah situasi suram dan semakin suram.
"Apa ini memang desa yang disebut indah itu?' tanya Clara.
"Tidak salah lagi."
Arthur hendak akan memberikan sedikit uangnya namun Pireta menghalanginya dengan satu tangan.
"Tidak Arthur, jika kau memberikan uang pada salah satunya mereka pasti akan berusaha merebutnya, itu hanya akan melukainya."
Pireta bukan tidak ada alasan mengatakan hal tersebut, dia pernah berkeliling ke berbagai tempat, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing baginya.
Dulu seorang pelancong pernah memberikan uang kepada anak kecil, saat anak itu ditemukan, anak itu telah tewas dengan leher hampir putus sementara uang dipegangnya telah raib.
Kenangan pahit itu sampai sekarang membekas dipikiran Pireta.
Arthur akhirnya memutuskan untuk pergi ke guild dan menanyakan apa yang terjadi di sini, biasanya guild selalu ramai dengan petualang, terkadang mereka suka minum-minum ataupun hanya bercanda satu sama lain.
Akan tetapi di sini jelas berbeda seakan perasaan suram dari luar terbawa ke dalam sini, hanya ada satu loket guild yang buka dan di sana dijaga oleh seorang wanita di usia 30-an, berpenampilan rapih dengan dasi menggantung di lehernya serta rok ketat menyembunyikan kaki jenjangnya, ia memiliki rambut pirang sebahu terkesan elegan seolah sebuah permata yang tersembunyi dalam reruntuhan.
"Anu, apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya demikian.
Di pakaiannya tertempel nama Paula.
__ADS_1
"Sebenarnya kami datang kemari untuk menjadi petualang namun keadaannya malah seperti ini.
"Tak apa kan Arthur, meski kita hanya berempat aku yakin kita bisa menjadi guild yang terhebat," potong Luis selagi duduk di kursi menaikan kedua kakinya.
"Prilakunya cukup buruk, aku harap dia tidak mengganggumu."
"Tidak, aku tidak apa-apa... jika kalian masih ingin bergabung aku akan menyiapkan formulirnya."
"Terima kasih Nona Paula, meski sendirian Anda tidak berusaha menutup guild ini."
"Ini satu-satunya barang peninggalan orang tuaku, aku akan terus menjaganya."
"Begitu."
Arthur menerima formulir pendaftaran yang mana ia berikan pada kelompoknya.
"Baiklah."
Setelah memberikan formulir, Paula memberikan kartu petualang di mana saat mereka mengalirkan mana status mereka bisa terlihat dengan jelas.
Paula sedikit terbelalak saat mengetahui bahwa mereka semua memiliki statistik tinggi.
"Ini luar biasa? Aku baru melihat seseorang memiliki level lebih dari 50."
"Kami sebenarnya pernah bersekolah di akademi sihir," jawab Clara.
__ADS_1
"Begitu, aku sarankan kalian pergi ke kota besar untuk mendapatkan penghasilan lebih, dengan kemampuan seperti ini kalian bisa mendapatkan karir yang lebih tinggi pula."
"Soal itu..." Pireta mengalihkan pandangan ke arah Arthur yang masih memikirkannya hingga Luis berkata.
"Aku tidak peduli kita berada di mana, jika menurutmu di sini bagus aku hanya akan menurut."
"Kami juga."
"Dari awal kami sudah memutuskan untuk tinggal di sini, kurasa kami akan tetap di sini, seperti apa yang Luis katakan walau cuma empat orang, itu sudah cukup."
"Kalian, aku merasa senang."
Paula menangis dan ia memeluk Pireta di sebelahnya.
"Anu..."
"Aku akan menerima pendaftaran kalian, kalau kalian perlu bantuan, tanyakan saja."
"Kalau begitu, kami ingin tahu kenapa desa Bougenville seperti ini?"
Atas pernyataan Arthur, Paula terlihat menghela nafas panjang lalu menjelaskan.
"Ini akibat aktivitas monster yang berlebihan hingga jalur perdagangan tidak bisa masuk ke dalam desa-desa kecil, para petualang di guild kecil kebanyakan ditarik ke kota-kota besar hingga pada akhirnya kami semua terlantar."
"Itu sama saja bahwa kota besar mengobarkan desa kecil begitu saja."
__ADS_1
"Itulah yang terjadi, hanya menunggu waktu saja hingga desa ini hancur juga," balas Paula sedih.