
"Don, kau ingin makan? Aku baru punya banyak uang."
"Itu uang milik anak buahku."
"Tidak, tidak, aku menemukannya... duduklah, kau mungkin bisa memesan sesuatu yang kau suka."
"Bagaimana jika aku memesan wanitamu."
Saat tangan Don merayap ke arah Rin, telapak tangannya langsung ditusuk oleh garpu.
Orang kejam yang tega melakukannya adalah aku.
"Kalau itu tidak bisa."
"Tanganku, sialan."
Perkelahian pun tak bisa dihindari, orang-orang di dalam kedai mulai berlarian keluar agar tidak terlibat sementara Don mengambil botol lalu hendak mengayunkannya padaku, aku tidak perlu repot-repot dengannya.
Satu sentilan jariku membuat tubuhnya terlempar menghancurkan dinding hingga dia terbaring tak berdaya.
"Sialan kau, sebenarnya siapa kau?"
Aku menginjak perutnya membuat lubang di belakang punggungnya.
"Beaufort Reymond, sebaiknya laporkan pada Red Cover, dalam waktu tiga hari aku akan mengunjunginya dan menghabisi semuanya."
Don lalu pingsan.
"Kami sudah selesai tuan," ucap Amnestha, dia mengikat mereka lalu menggantungnya di langit-langit.
"Mari pergi."
Rin melempar kantong uang pada pelayan sebelum mengikutiku dari belakang bersama Gabriela.
"Kota ini perlu sedikit perubahan, mari tendang semua bawahan Behemoth keluar kota."
Kami berempat berpencar di perempatan, aku mengambil jalan ke kiri dan melihat sekelompok orang-orang berjongkok di jalan.
"Yo, apa kalian anak buah Behemoth?"
__ADS_1
"Benar sekali, apa kau perlu sesuatu hah?"
"Aku baru menghajar rekan kalian, kupikir sudah saatnya kalian meninggalkan tempat ini."
"Kurang ajar, biar kutunjukan kemampuanku."
Salah satu orang menembakan sihir api padaku, itu cukup hangat tapi tidak terlalu berpengaruh padaku.
Teman-temannya yang terkejut mulai bersama-sama menembakan sihir mereka, sayangnya apapun yang mereka gunakan itu hanya sia-sia. Sebagai balasan kugunakan sedikit sihir api membakar bokong mereka hingga mereka berlarian ke segala arah dan menghilang ke dalam parit.
Mereka belajar bahwa sihir api itu sangat berbahaya tergantung pemakainya, aku mendengar suara yang lebih meriah di tempat lain, ada pohon raksasa yang tubuh di sana, sebuah pedang cahaya yang menancap serta hujan darah yang tampak mengerikan.
Mereka bertiga sangat berlebihan, tapi biarlah.
Semenjak aku membuat cincin ini pasti mereka sudah bersenang-senang, kini saatnya mereka menderita.
Aku memakai mantel hitam lalu mengibaskannya ke belakang selagi berjalan penuh gaya, saat melawati persimpangan Gabriela muncul di sampingku.
"Mereka terlalu lemah, apa ada yang lain?"
"Mangsa kita berada di tempat lain, jadi bersabarlah sampai saat itu."
Lalu Amnestha muncul di persimpangan berikutnya.
"Tuan lihat, aku menumbuhkan pohon yang besar, orang-orang perlu pohon agar mereka mengerti keindahan alam."
"Itu bagus."
Selanjutnya
Di dekat gerbang kota, Rin sudah menunggu kami.
"Mohon perintah selanjutnya tuan."
"Kita akan pergi ke medan perang, mari permalukan pahlawan Alexius itu."
"Itu yang aku tunggu-tunggu."
Sesampainya di sana, kami semua jatuh dari langit di antara kedua belah pihak, fraksi pahlawan maupun fraksi Behemoth tampak kebingungan.
__ADS_1
"Siapa kalian?"
"Aku adalah Dewa kegelapan yang akan mengambil alih dunia ini, entah Behemoth atau pahlawan kalian semuanya akan kulenyapkan."
"Kau, bocah waktu itu?"
"Aku bukan bocah lagi."
Aku menciptakan bola api di tanganku lalu melemparkannya ke arah kerumunan Alexius hingga menghasilkan ledakan api hitam yang dahsyat. Begitu juga untuk kelompok Behemoth mereka semua tumbang.
Rin mengarahkan tangannya dan menciptakan pedang darah di sana.
"Pestanya baru di mulai."
"Hey Rin sisakan untukku juga."
"Kalian berdua terlalu bersemangat."
Pasukan Behemoth akan ditangani oleh pelayanku, sementara itu, aku akan fokus dengan Alexius.
Pahlawan diberikan skill seperti monster, walau terkena seranganku dia terlihat tidak terluka sedikitpun.
Kami saling berhadapan satu sama lain.
Mantelku berkibar tertiup angin begitu juga milik Alexius yang berupa jubah putih yang terikat dengan armor mengkilap.
Pedang yang dipakainya sudah jelas Excalibur.
"Jika kau terjerumus dalam kegelapan, maka aku akan mengalahkanmu."
"Biar kuberitahu satu hal, berada di pihak keadilan tidak selalu menjadi pemenangnya."
Keheningan terasa di antara kami berdua, Alexius mengangkat pedangnya dan berkata.
"Sang pahlawan, Alexius."
"Dewa kegelapan, Beaufort Reymond."
Kami menerjang ke depan secara bersamaan.
__ADS_1