Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 204 : Insiden Di Penginapan


__ADS_3

Tak hanya menyajikan kamar yang nyaman, penginapan ini juga menyajikan makanan laut serta pemandian air panas yang menyegarkan, aku menatap langit saat seluruh tubuhku dimanjakan oleh ketiga pelayanku.


Mereka sedang menggosok punggungku secara bersamaan.


Baru sekarang aku merasakan bagaimana rasanya memiliki pelayan sesungguhnya.


"Ini sangat memalukan," kata Gabriela di susul Amnestha.


"Aku sudah melihat seluruh tubuh tuan, tapi belakangan ini semakin besar saja."


"Kalian berdua berhenti berbicara dan lakukan yang benar," potong Rin.


Karena terus berlatih, kurasa otot tanganku memang semakin besar, aku bisa membayangkan tubuhku menjadi seperti gorila sekarang, kuharap itu tidak terjadi.


"Aku sudah selesai, bagaimana dengan kalian? Jika tidak keberatan aku bisa menggosok punggung kalian?"


"Aku tidak usah, tuan pasti memiliki niat buruk," kata Gabriela.


"Aku juga begitu."


"Kalau begitu aku saja."


Amnestha mengajukan dirinya, dia melepas handuknya lalu membiarkanku untuk menggosok punggungnya, kulitnya begitu lembut hingga kau berfikir bahwa dia selalu merawatnya dengan baik setiap saat.


Untuk Rin dan Gabriela mereka memutuskan saling membersihkan satu sama lain.


Aku mulai mengeramasi rambut Amnestha dengan busa.


'Hehe ini terasa nyaman dan nikmat."


"Mau aku sekalian pijat?"

__ADS_1


"Dengan senang hati, dadaku semakin besar jadi bahuku agak sedikit pegal belakangan ini."


"Tidak masalah, akan kukeluarkan kemampuan pemijatanku."


"Owh, ini nyaman... tapi apa tuan tidak ingin mengambil kesempatan di saat seperti ini?"


"Aku sudah tobat, membiarkan dirimu terbawa hawa nafsu hanya akan membuatmu tak bisa mengontrol diri selamanya."


Rin dan Gabriela menyipitkan mata melirikku.


"Tuan hanya bisa disembuhkan jika mati, mustahil bisa melakukannya."


"Benar sekali."


"Kalian tidak mempercayaiku kah?" kataku menjatuhkan bahuku lemas lalu melanjutkan.


"Aku hanya akan menyentuh yang berukuran melon saja."


Aku tertawa ragu sebelum membilas seluruh tubuh Amnestha dengan air bersih, setelah selesai kami baru berendam di dalam kolam.


Aku meregangkan tanganku selagi menarik nafas dalam-dalam, di musim dingin seperti ini mandi di pemandian air panas memang yang terbaik.


Amnestha menggosok tangannya dengan tangan lain.


"Menurut pemilik penginapan air di sini bisa membantu untuk membuat kulit semakin halus."


"Eh benarkah, kalau begitu aku akan berendam lebih lama di sini."


"Itu bukan ide bagus, kau mungkin akan pingsan karena terlalu lama berendam."


"Begitukah."

__ADS_1


Ketika mereka asyik mengobrol satu sama lain, aku baru mengingat sesuatu yang penting di tempat ini, sebelum aku menyewa kamar beberapa orang penghuni juga sedang membicarakan tentang legenda Hantu Laut.


Konon hantu itu hanya bisa ditemui saat musim dingin seperti sekarang dan dikatakan dia mengunjungi penginapan lalu mencuri roh penyewa sebagai tumbal.


Aku tidak ingin mempercayai hal seperti itu.


Setelah selesai mandi kami mengenakan yukata dan hendak pergi ke bagian kedai untuk makan malam, sebelum sampai sebuah teriakan terdengar dari ujung koridor memaksa kami berlari ke asal suara secara tergesa-gesa.


"Ada apa?"


Saat aku tiba tampak pemilik penginapan yang merupakan seorang wanita terduduk di lantai, sementara wanita lain di depannya di temukan terbaring dengan pisau menusuk bagian dadanya.


Amnestha mendekat untuk memeriksa keadaannya.


"Dia sudah meninggal."


Aku pun mengikutinya untuk memeriksanya, kecuali pisau yang menancap di sana tidak ada lagi barang yang kutemukan.


Gabriela berusaha menenangkan pemilik penginapan sampai penghuni lain bermunculan, mereka semua ada empat orang.


Salah satu orang yang berteriak kaget, karena dia mengenakan kaca mata, aku akan menyebutkan tuan kacamata.


"Ini pasti ulah Hantu laut.. dia mulai mencari tumbal."


"Hantu laut itu tidak ada? Jangan konyol," yang membalas itu adalah seorang pria paruh baya yang sudah kehilangan rambutnya, jadi akan kunamakan tuan Plontos.


"Itu benar, cerita itu hanya guyonan."


"Aku juga setuju."


Dan sisanya Wanita bunga serta Pria bermata jahat.

__ADS_1


Dari kelimanya termasuk pemilik penginapan, siapa yang telah membunuh wanita ini?


__ADS_2