
Saat aku keluar kulihat Draggel berdiri sendiri dengan nafas terengah-engah, dia cukup kuat hingga bisa bertahan sejauh ini.
Seorang pria hendak menyerangnya dari arah samping dan aku dengan santai memukul wajahnya hingga dia terbang.
"Terima kasih."
"Tidak masalah."
Dia memegangi kerahku.
"Apa-apaan barusan tadi?"
"Itu pengalihan, kau tahu."
"Kau ingin mengorbanku."
"Mana mungkin."
Tak lama suara aneh terdengar, itu bukan dari berasal monster atau sebagainya hanya sebuah suara dari perut yang lapar.
"Aku belum makan apapun?"
"Kalau begitu aku akan mentraktirmu sebagai permohonan maaf."
"Wajahmu tidak menyesal sedikitpun."
Di dalam kedai itu, Draggel makan sebanyak dia inginkan sementara aku hanya cukup dengan semangkuk salad serta minuman hangat.
Berbicara penampilannya, kurasa Draggel berumur sekitar pertengahan dua puluhan, bagiku dia pasti orang kuat hingga bisa menjadi komandan kesatria di usianya yang masih muda.
"Tolong tambah lagi."
"Baik."
__ADS_1
"Oi, oi, kau sudah menghabiskan jatah untuk sepuluh orang."
"Apa kau tidak memiliki uang?"
"Jangan khawatir, aku mengambil beberapa uang dari masion itu."
"Kau ini bukan pahlawan?"
"Pahlawan, konyol sekali... aku hanya membantu demi imbalan yang ditawarkan oleh Fate."
"Pantas saja tingkahmu seperti penjahat."
Aku mengangkat bahuku dengan ringan selagi menatap keributan yang terjadi di luar kedai ini.
Pemilik tanah mereka sudah mati jelas itu, akan menjadi berita besar di halaman awal.
Dan posterku mungkin akan menghiasi seluruh wilayah negeri awan.
"Untuk mengembalikan nona Fate, kita harus mencari bukti yang bisa memberatkan raja yang sekarang."
"Sudah kubilang kau ini sangat bar-bar, membunuh tidak akan menyelesaikan apapun bahkan mungkin saja hal seperti ini akan terjadi lagi saat pemerintahan nona Fate dimulai."
Aku bukan tidak memikirkannya hanya saja itu akan berjalan sangat lambat, Draggel melanjutkan.
"Kita harus punya bukti bahwa perampok itu merupakan suruhan raja sebelumnya, dengan itu reputasi nona Fate tidak akan tercemar dan dia bisa menjadi ratu sesungguhnya."
"Bicara memang mudah."
"Tuan."
Rin muncul di dekatku hingga Draggel jatuh dari kursinya karena terkejut.
"Si-siapa dia?"
__ADS_1
"Dia pelayanku, namanya Rin Elisten.. dia sangat cantik kan?"
"Dia memang cantik, namun aku merasakan bahwa jika aku menyentuhnya sedikit pun aku akan terbunuh."
"Perasaanmu memang benar, hanya aku yang bisa melakukan ini."
Aku menyentuh dadanya dan seketika Rin mencekikku.
"Jangan memperlihatkan hal seperti ini di depan orang lain."
"Maafkan aku."
Berkat Rin kami kembali ke kota sebelumnya, Draggel meletakan tangannya di dada lalu berlutut di depan Fate seperti kesatria seharusnya.
Di saat momen itu Arisa memegangi tanganku dan memintaku untuk berlutut di dekatnya.
"Ada apa Arisa?"
Saat aku tahu dia mencium pipiku.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku."
"Itu bukan apa-apa, apa aku harus melapor ke polisi karena Arisa menciumku?"
"Muuu..." dia mengembungkan pipinya cemberut, sementara pelayanku menatapku dengan tatapan ikan mati seolah mengatakan "Sampah" dari lubuk hatinya.
Dari sini pekerjaanku akan sangat sibuk untuk membantu Fate ataupun mendapatkan batunya.
Aku menggendong Arisa di bahuku lalu berjalan ke tepi ujung kota, berbeda dari sebelumnya sekarang kabut telah menghilang seutuhnya dan hanya warna hijau yang menjadi pemandangan utama, walau kabut adapun, itu tidak akan berlangsung lama.
"Indah sekali tuan.. jadi itu namanya sungai."
"Iya."
__ADS_1
Dengan ini orang-orang tak perlu takut lagi kelaparan, mereka bisa turun ke gunung untuk mencari apapun yang bisa mereka makan.