
Setelah bersantai aku menggunakan lubang dimensi yang memungkinkanku untuk berpindah tempat antar dunia, aku melangkahkan kakiku ke sebuah kota asing yang terlihat sudah mondern, atau sejujurnya aku pernah ada di dunia ini sebelumnya.
"Bukannya ini London?" teriakku, semua orang tampak mematung seolah waktu mereka terhenti.
Ada beberapa wanita di sekelilingku, daripada menyesalinya aku ingin mengintip ke dalam rok mereka namun suara Ristal masuk ke dalam pikiranku.
"Aku sedang mengawasimu dengan sniper berkaliber 50, jika macam-macam bersiaplah untuk mati."
"Bukannya Dewi dilarang ikut terlibat dalam dunia fana."
"Itu berbeda jika menyangkut suamiku."
"Maafkan aku."
Aku melanjutkan kembali langkahku menuju Tower Bridge dimana di tengah jalan ada sebuah kristal yang menancap baik di sana.
Aku berdiri di dekatnya selagi menarik nafas panjang untuk mempersiapkan diri, aku mengambilnya lalu membuangnya jauh ke arah Sungai Thames di bawahnya, selanjutnya ledakan terjadi hingga membuat air meluncur sekitar 10 meter ke udara.
Air menyeruak perlahan seperti sebuah hujan.
Dari pusat ledakan, aku bisa melihat sebuah gumpalan hitam sedikit demi sedikit bertambah besar kemudian merubah dirinya menjadi sosok mengerikan berbentuk seperti slime dengan mata satu.
Aku melompat turun lalu berlari di atas air layaknya Shinobi, aku juga meniru jurus petir dari tanganku.
Suara Ristal terdengar.
"Kau bisa dituntut copyright loh."
"Benar juga."
Aku menghilangkan petir lalu menggantinya dengan pedang Grandbell, slime hitam itu tak tinggal diam dan menyerangmu dengan tubuhnya yang dibentuk sebagi paku.
Aku menghindarinya sebelum akhirnya melompat di atasnya selagi mengayunkan pedangku ke bawah membuat tubuhnya terbelah dua bersamaan sungai di bawahnya.
__ADS_1
Tubuhnya bersinar lalu meledak meninggalkan kristal yang melayang di udara sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
"Apa benar yang barusan bisa disebut makhluk kehancuran?" tanyaku demikian.
"Normalnya melawan makhluk barusan sangatlah menyulitkan, tapi suamiku melawannya seolah dia makhluk lemah."
"Benarkah."
"Setiap senjata ataupun sihir tidak bisa melukainya."
"Pedang Grandbell memang luar biasa," aku menutup pembicaraan lalu pindah ke dunia lainnya.
Setiap Dunia yang kukunjungi memiliki keunikan tersendiri misalnya dari segi bangunan ataupun penghuninya, di dunia ke sepuluh bahkan lebih unik lagi mereka tidak terlihat seperti manusia melainkan seperti bidadari.
Aku berusaha mengintip rok mereka dan peluru menyayat kepalaku.
"Yang barusan sengaja, tapi yang berikutnya pasti akan kena."
Mari kesampingkan hal itu untuk mencari kristalnya, tak lama kemudian aku menemukannya di dada seorang wanita maksudku itu patung.
Jika kristal ini menyentuh makhluk hidup monsternya akan muncul lalu melahap Dunia ini, aku mengambilnya dan melemparkannya jauh ke udara.
Tepat saat berubah kutembakan panah dan itu meledak dengan dahsyat.
Pekerjaan seperti ini tidak berat hanya saja cukup melelahkan karena perlu kesabaran tinggi.
Aku melompat ke dunia lainnya hingga akhirnya sampai ke dunia ke-20, di mana di dunia ini tidak memiliki daratan, semuanya hanya diisi oleh air memaksa orang-orang hidup di rumah-rumah terapung.
Mungkin penyebabnya karena efek rumah kaca yang mencairkan kutub di ujung belahan dunia ini.
Tanpa memikirkan lagi aku melompat ke atas perahu di mana kristal itu berada, dengan sedikit lemparan jauh... slime muncul dengan wujud sedikit berbeda dari sebelumnya, slime ini memiliki beberapa mata di tubuhnya.
"Yang terakhir ini sangat kuat loh."
__ADS_1
"Harusnya kau mengatakannya lebih awal."
Dari mata itu mampu menembakan petir ke segala arah, kugunakan Skill melayang agar tidak menyentuh air kemudian melesat maju, aku mengayunkan pedangku di udara mengirim bilah hitam.
Di luar dugaan tubuh slime itu berpencar membawa masing-masing mata di tubuh mereka sebelum akhirnya melompat ke arahku.
Mereka semua menempel dengan baik mencoba memakanku hidup-hidup, kugunakan Skill Api selanjutnya semua orang sudah tahu apa yang terjadi.
Aku kembali ke alam Dewi dengan nafas terengah-engah selagi membaringkan tubuhku di perkarangan rumah, sementara Ristal sedang menikmati teh dengan Dewi lainnya termasuk Ariel yang menatapku cemberut.
Perasaanku tidak enak?
Hecate yang merupakan Dewi berwujud anak kecil melirikku dengan lemas.
"Pertarungan barusan membosankan."
"Aku juga merasa begitu," tambah Amnesia.
"Seenaknya saja, padahal aku melakukannya demi kalian... mana hadiahku."
"Jangan khawatir, kami sudah menyediakannya, silahkan Ariel," kata Ristal mempersilahkan.
"Aku akan memanjakanmu di atas ranjang."
Aku pasti sedang bermimpi buruk sekarang.
"Heh, suamiku... dia pingsan."
"Dia sepertinya sangat senang."
"Aku juga berfikiran sama."
"Benarkah?"
__ADS_1