
Di atas gunung Merapi yang beralaskan lava mencair aku melompat dari batu ke batu selagi bertarung dengan naga api bernama Rugel, dia pria tua dengan otot penuh luka.
"Lumayan juga bocah, kau manusia pertama yang bisa mengimbangi kekuatanku."
"Ini bukan apa-apa, aku masih memiliki kekuatan lainnya."
"Tunjukkan semua padaku."
Pria itu melompat ke arahku, di saat ia mengirim tendangannya aku pun melakukan hal sama hingga kaki itu mengenai wajah masing-masing hingga aku maupun Rugel terbang ke arah berlawanan.
Dari pertarungan inilah yang paling sulit kuselesaikan, aku bertarung dengannya dari pagi dan sekarang matahari hampir tenggelam seutuhnya.
"Haha kurasa ini akan menjadi serangan terakhirku.. jujur saja aku sudah mencapai batasku," kata Rugel.
"Sepertinya aku juga."
"Serangan terakhir... aaaaaa," dengan teriakan itu kami saling membenturkan tinju kami, beruntung pukulan Rugel meleset sementara pukulanku mengenai wajahnya.
Dengan ini kemenangan ketigaku.
Kami berdua jatuh di waktu bersamaan, Hesna yang dari tadi berjongkok akhirnya menghela nafas panjang lalu membawa kami berdua ke tempat lebih baik.
Hesna membuang tubuh Rugel masuk ke dalam sungai sementara aku di dudukan di pinggir sungai secara perlahan.
__ADS_1
"Kalian harus cepat membersihkan diri."
"Tunggu, kenapa kau begitu kasar padaku sedangkan ke Kazuya sangat lembut."
"Tentu saja karena dia suamiku, kau cepat bersihkan dirimu dan pergi ke tempat yang dijanjikan."
"Aku tahu."
Rugel melempar kristal miliknya yang kuterima baik darinya.
"Kau berhak mendapatkannya, setelah beristirahat sebentar aku akan langsung pergi."
"Kau bisa pergi besok."
"Tidak apa, naga memiliki tubuh kuat sebentar lagi aku akan sembuh."
"Kalau begitu aku akan langsung pergi, Hesna mari cari desa yang bisa kita tinggali semalam."
"Aku mengerti."
Aku naik ke punggung Hesna dan terbang ke langit yang sepenuhnya sudah gelap gulita, kulihat ada sebuah desa dari atas, saat kami datangi tidak ada siapapun di sini.
"Desa ini pasti sudah ditinggalkan, paling tidak ada tempat untuk kita tidur, mari Hesna."
__ADS_1
"Baik."
Keesokan paginya aku dan Hesna keluar dari rumah, semalam aku tidak memperhatikannya tapi sepertinya desa ini telah hancur.
"Ini ada di tengah hutan pasti mereka diserang hewan buas."
Aku mencoba berkeliling dan kulihat ada bekas cakaran di salah satu rumah.
"Serangan beruang, aku yakin para penduduk pindah ke tempat lain."
Yang dikatakan Hesna memang benar, bahkan tidak ada tanda-tanda orang meninggal di sini.
Tanpa perlu memikirkannya lagi kami pergi ke tempat terakhir yang menjadi rumah bagi naga angin yaitu sebuah tebing curam. Sebelumnya aku sudah berurusan dengan tempat seperti ini saat berpetualang bersama dua pendeta itu.
Saat aku mengalihkan pandanganku naga berwarna hijau terbang dari bawah lalu terbang tepat di depanku selagi mengepakkan sayapnya.
Seperti yang kukatakan pada naga lain aku mengatakan hal sama padanya, hingga duel dilakukan. Naga ini bernama Enri berbeda dengan naga lain yang menyuruh untuk bertarung.. Naga ini hanya meminta aku menaikinya, jika aku bisa bertahan di atas punggungnya sebentar maka aku yang akan jadi pemenangnya.
Hesna mengangguk mengiyakan dan aku langsung dibawa terbang sangat jauh ke atas langit dengan kecepatan tinggi, setelah di atas dia menjatuhkan dirinya ke bawah.
Jika harus dikatakan Rollercoaster bukan apa-apa dengan ini, aku terus memegangi punggungnya dengan angin kencang terus menerpaku dengan kuat.
Meski aku berhasil itu tetap menakutkan hingga tanganku tak bisa berhenti gemetaran, sedangkan Enri tertawa.
__ADS_1
"Kau hebat sekali, aku pikir kau akan mengompol di atas punggungku."
"Aku tidak mungkin melakukan itu," kataku lemas.