
Di atas tembok tinggi itu, Arthur duduk selagi merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, jika disebut pagi, matahari sudah lebih tinggi dari sebelumnya dan apabila disebut siang juga tidak terlalu panas dari seharusnya.
Di sampingnya ada Clara yang sedang memakan nasi kepal yang dicampur dengan rumput laut.
"Nah, untuk Arthur."
"Kukira kau akan menghabiskan sendirian."
"Aku ini gadis yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung mana mungkin melakukan hal tidak terpuji seperti itu."
Saat Arthur memakannya rasa pedas menembus mulutnya.
"Meskipun agak jahil," katanya mengedipkan mata hingga Arthur langsung menarik pipi Clara.
"Awawa sakit, sakit."
Arthur kembali menatap ujung jauh dari pandangannya.
"Jumlah monster yang akan kita lawan sebanyak 5.000, kau yakin akan melakukannya sendirian?"
"Aah, dengan pedang Excalibur aku akan melakukannya, saat aku bertarung tolong jaga bentengnya agar para pohon itu tidak masuk ke dalam kota."
"Serahkan padaku, aku akan menunjukan kekejaman yang diajarkan guru kita pada mereka."
"Memangnya kau ingin berubah jadi vampir."
"Tidak, aku hanya ingin menirunya, hidup seperti Rin Elisten."
"Jika kau lakukan semua orang akan takut padamu, aku masih mengingat bagaimana dia mengoyak daging monster seperti sebuah mainan."
__ADS_1
"Haha aku juga."
Ketika mereka asyik mengobrol sebuah Sirine terdengar, para penjaga bergegas bermunculan di atas tembok bersama Ladolfo sebagai pemimpin.
Arthur berdiri lalu menarik pedangnya dan berkata.
"Aku serahkan bagian di sini pada kalian," sebelum melompat jatuh ke bawah.
Meski jatuh di atas ketinggian 25 meter, Arthur masih baik-baik saja dan terlihat berlari menerjang ke depan.
Orang-orang yang melihatnya hanya bisa menarik nafas kagum.
Dengan gerakan cepat Arthur menebas apapun di depannya, pedang Excalibur mengeluarkan cahaya panjang dan sekaligus memotong monster dengan jumlah banyak.
Satu monster kayu mengirim tinjunya yang mana Arthur lompati lalu berlari di tangannya menuju bagian kepala dan membelahnya dari mata ke bagian telinga sebelum kembali melompat ke monster kayu lainnya untuk memotong kepala mereka.
"Hebat sekali, apa dia benar-benar manusia?" kata seorang penjaga.
"Baik."
Beberapa monster kayu memang sampai di depan tembok hanya saja jumlahnya hanya sedikit di mana hampir seluruhnya dihabisi oleh Arthur.
Arthur melemparkan pedangnya jauh ke udara tepat menancap di antara kumpulan monster yang mengejarnya.
Selagi menjatuhkan monster di dekatnya dia merapalkan sihir.
"Thunder Blast."
Pedang Excalibur yang sebelumnya ditancapkan di tanah memercikan kilatan ke segala arah lalu disusul petir yang membakar tubuh monster hingga jumlahnya ratusan.
__ADS_1
Para monster yang masih hidup menghalangi pedang Excalibur agar tidak kembali pada pemiliknya, meski begitu mereka salah tentang satu hal, pedang tidak menjadikan seseorang kuat melainkan sebaliknya.
Arthur mengeluarkan dua bilah pisau di kedua tangannya dan ia menyayatkan bilahnya yang tajam seolah menari-nari di udara. Tanpa membuat monster merasakan kesakitan mereka sudah meninggalkan dunia ini.
Satu monster mengirim ujung cakarnya yang mana berhasil di tepis ke samping, Arthur mempersempit jarak kemudian menusukan pisaunya dari bawah leher menembus tengkoraknya.
Sekitar 4.000 monster di kalahkan Arthur dengan singkat, ia menarik pedangnya kembali lalu mengayunkannya di udara mengirim bilah cahaya yang menebas seluruh monster hingga meninggalkan goresan dalam di permukaan tanah.
Ketika semua monster berhasil dikalahkan tubuh Arthur mulai terhuyung-huyung karena menggunakan mana terlalu berlebihan.
Dia menancapkan pedang Excalibur untuk menopang dirinya, bertepatan itu... sebuah sosok membuatnya terkejut, sosok itu terbang di atas langit melewatinya begitu saja menuju kota.
Sisiknya yang sekeras baja tampak bersinar saat cahaya matahari menerpanya, saat dia meraung getarannya mampu membuat tanah bergetar, tidak salah lagi bahwa itu adalah seekor naga hitam.
Tidak, bukan naga biasa melainkan Raja Naga Kehancuran Tiamat.
Arthur buru-buru mengejarnya sayangnya gerakannya sangat cepat, ketika dekat dengan kota dia membuka mulutnya lalu menembakan api dari mulutnya hingga ledakan besar menelan seluruh kota sampai akhirnya naga tersebut terbang meninggalkan kota.
Tembok itu memang kuat akan tetapi sayangnya kota masih bisa di serang dari atas.
"Clara," teriak Arthur mendekat ke arah tembok, saat debu tersapu angin sosok medan pelindung telah melindungi seluruh kota termasuk orang di dalamnya.
Clara yang telah menghabiskan tenaganya jatuh ke bawah dan Arthur memunculkan elang lalu menangkapnya di udara.
"Sudah kukatakan, serahkan padaku."
"Dasar, terima kasih banyak."
"Aku akan tidur sebentar."
__ADS_1
"Aah, jangan khawatir... kurasa naganya sudah menjauh."
Clara hanya membalas dengan senyuman sebelum menutup matanya.