
Dalam beberapa hari ini salju telah berhenti berjatuhan, ketika semua orang telah selesai membuat boneka, mereka semua bermain di perkarangan rumah.
Dorothy dan Yuki turut bergabung dan sekarang mereka sedang berkompetisi untuk membuat boneka salju yang mereka inginkan dalam beberapa grup.
Jika untukku aku lebih suka duduk selagi mengawasi mereka dengan secangkir teh yang hangat. Beberapa kali aku melihat ke atas untuk memastikan masalah tidak muncul dari sana.
Sepertinya sudah tidak ada bahaya yang datang.
Setelah hampir tiga jam duduk, aku tahu bahwa pemenang dari membuat boneka salju adalah Selly dan Sella yang membuat patung dirinya sendiri.
Kami akan pergi ke ibukota sekarang untuk mengantarkan boneka yang mereka buat sebelumnya, karena hari masih pagi kami menunggu dengan melakukan aktivitas seperti ini, semua boneka telah dimasukan ke dalam sihir penyimpanan Gabriela, kami hanya tinggal pergi ke sana saja.
Dalam waktu singkat sihirku telah membawa kami ke ibukota, Aku menatap istana yang megah yang berada di belakangku yang sedikit tertutup salju. Saat Felisa lengah aku menyentuh bokongnya hingga dia berteriak imut.
"Kenapa kau lakukan itu di tempat umum."
"Aku hanya menarik perhatianmu saja."
"Dasar."
Dalam perjalanan ke panti asuhan aku bertanya padanya.
"Selama ini kau jarang tinggal di istana apa tidak masalah?"
__ADS_1
"Bagiku aku lebih suka tinggal bersama keluargaku, memang benar istana banyak kenangan soal orang tuaku meski begitu aku juga tidak bisa meninggalkan kalian, sama seperti Aerith aku pikir bersama kalian lebih menyenangkan."
Aku melirik ke arah Aerith yang berjalan di depan, dia memang terlihat sangat bahagia seperti semua orang di sini.
Kami tiba di sebuah bangunan yang cukup besar di mana para suster menyambut kami dengan ramah, saat semua anak-anak melihat Felisa semua orang mulai berlarian ke arahnya.
"Ratu datang kemari lagi?"
"Tentu saja, aku selalu senang bisa datang kemari, aku membawa hadiah untuk semua orang tolong berbaris dengan rapih."
"Baik."
Kami semua membagikan setiap boneka yang kami bawa. Aku merasa kurang dengan hanya hadiah ini karena itu aku memborong semua toko yang disukai anak-anak.
Felisa berkata ke arahku sementara aku duduk berseiza di depannya.
"Maafkan aku."
"Tapi tak apa, sesekali memanjakan mereka bukanlah sesuatu yang salah."
"Felisa."
"Lain kali jangan menyentuh bokongku secara tiba-tiba."
__ADS_1
"Aku akan meminta izin lain kali."
Selepas memberikan hadiah pada seluruh penghuni panti asuhan semua orang memutuskan untuk tinggal sebentar di ibukota sementara aku dan Felisa pergi ke makam kedua orang tuanya di pemakaman khusus kerajaan.
Di sana kulihat dua nisan yang terlihat sangat sangat terurus dengan baik, ini semua adalah makan para raja dan ratu dari masa lalu.
Felisa menaruh bunga di nisan mereka lalu berdoa.
Angin berhembus menerpa rambutnya yang berwarna pirang, saat dia berdiri sesuatu hal yang mengejutkan terjadi padaku. Itu adalah sebuah ciuman.
"Felisa?" aku memanggil namanya.
"Terima kasih sudah mau jadi suamiku."
"Bukannya aku yang harus mengatakan itu."
"Berisik, aku yang lebih berterima kasih.. Diam saja," Felisa menjulurkan lidahnya lalu berlari di depanku.
"Wanita memang seperti ini," gumamku dalam hati, hanya sekilas saja aku merasakan dua orang menyentuh bahuku namun saat aku mengalihkan pandanganku, di sana tidak ada siapapun kecuali dua batu nisan yang terlihat rapih.
Aku membungkukkan badanku lalu berlari mengejar Felisa.
"Tunggu sebentar."
__ADS_1
"Tangkap aku jika kau bisa."
"Merepotkan sekali."