Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 197 : Musim Dingin


__ADS_3

Di kota pertama yang kami kunjungi salju benar-benar telah turun untuk pertama kalinya, anak-anak mulai berlarian di sepanjang jalan selagi membuka mulut mereka untuk merasakan rasa dari salju, sementara aku mengunjungi pandai besi untuk menukarkan pisau yang sering kugunakan dengan pedang yang bagus.


"Pisau ini sudah rusak, kau masih harus menambah uang cukup besar jika kau inginkan pedang itu."


"Apa boleh buat."


Aku memberikan uang sejumlah yang dimintanya lalu meletakkan pedangku di punggung.


"Berpetualang di musim dingin bukanlah sesuatu yang baik, kebanyakan petualang sepertimu hanya akan berubah profesi menjadi pemancing."


"Aku lebih suka diam di rumah saja, hanya saja aku memiliki hal yang harus kulakukan."


"Apapun itu, semoga beruntung."


"Terima kasih."


Aku keluar dari toko dan menemukan tiga pelayanku yang masih bermain dengan anak-anak. Aku berkata ke arah mereka bertiga.


"Mari pergi."


"Pergi sekarang? Padahal aku ingin lebih lama bermain dengan mereka."


"Sudahlah, ayo."


"Baiklah."

__ADS_1


Aku, Gabriela, Amnestha serta Rin akan menuju benua lain, setelah melewati beberapa kota kami akan sampai di pelabuhan, karena itu akan lebih baik jika kami tidak membuang waktu terlalu lama di salah satu kota, paling tidak 3 hari sudah cukup.


Setelah salju berhenti turun kami berjalan melintasi tumpukan salju yang berada di sepanjang jalan, tidak ada kereta kuda yang bisa kami gunakan meski begitu hal itu tidak masalah.


Di sepanjang jalan kami beberapa kali memakan perbekalan serta meminum air hangat, sampai akhirnya kami juga berburu hewan liar sebagai santapan makan siang.


"Enak sekali," kata Gabriela senang, untuk Amnestha dan Rin mereka terlihat menikmatinya saja hingga tidak ingin mengucapkan sepatah katapun.


Aku hanya mengawasi ketiganya selagi mengirim air hangat ke dalam tenggorokanku, sampai sebuah teriakan menghancurkan kedamaianku.


Aku berusaha mencari asal suara dan jauh dari tempatku berdiri seorang wanita sedang dikejar-kejar oleh kumpulan serigala, sebagai seorang pria sejati aku tidak akan menyelamatkannya melainkan meminta Rin yang maju.


"Baiklah."


Rin menghilang dan muncul kembali di depan wanita itu untuk menghadang seluruh kawanan serigala, hanya dengan tatapannya para serigala langsung melarikan diri.


"Aku baik-ba..."


Rin menangkap gadis itu yang telah tak sadarkan diri.


Perlu seseorang untuk mengirimkan nafas buatan, dan tugas itu sangat tepat untukku, saat aku hendak menyentuhkan mulutku, wanita itu terbangun lalu menahan kepalaku.


"Tolong jangan menodaiku."


"Aku hanya berusaha menyelamatkanmu tidak lebih."

__ADS_1


"Tidak, niatmu sungguh berbeda."


Pada akhirnya aku menyerah dan duduk sedikit jauh dari mereka.


"Siapa namamu?"


"Namaku Rania, aku tinggal di belakang gunung itu."


"Bukannya itu sangat jauh, untuk apa kau datang kemari? Tengah hutan bukan tempat yang aman untuk seorang gadis loh," tambah Amnestha yang mendapatkan anggukan wanita itu.


"Aku sedang mencari obat untuk ibuku, kalau tidak salah orang bilang bahwa di sini ada tanaman penyembuh yang bisa menyembuhkan segala penyakit."


Rin dan Gabriela melirik ke arah Amnestha yang sudah terbiasa hidup di hutan.


"Kenapa kalian melihatku?"


"Aku pikir kau tahu sesuatu tentang tanaman itu," balas Rin.


"Memang aku tahu, tapi yang kutahu tanaman seperti itu hanya hidup di dalam air danau atau sungai."


"Jadi tanaman air."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan langsung mencarinya."


Rin segera memegangi Rania di kerah bajunya lalu berkata dengan lemas.

__ADS_1


"Di cuaca sedingin ini, kau bisa mati, biar kami bantu."


__ADS_2