
Zaman dahulu kala ada seekor rubah yang hidup sendirian di dalam hutan, selama hidupnya dia ingin berubah menjadi manusia hingga sampai suatu hari dia memutuskan meninggalkan rumah yang telah membesarkannya untuk sebuah impian kecil miliknya, selama perjalanan itu, rubah tersebut telah berkelana ke setiap pemukiman manusia untuk mengawasi mereka dan mengetahui seperti apa hidup yang mereka jalani.
Namun.
Harapan dari rubah itu hancur begitu saja, manusia tidak sebaik yang dia pikirkan, mereka membunuh, merampok, memanipulasi serta melakukan kejahatan lainnya. Sejak itu rubah tersebut memutuskan untuk tidak menjadi manusia.
Suatu hari dalam perjalanan pulangnya dia tanpa sengaja bertemu dengan seorang wanita yang memiliki tatapan sedih sedang memandang bulan dari batu yang didudukinya, dia bertanya pada rubah tersebut.
"Kenapa kau kembali? Apa kau tidak menyukai manusia?"
"Jika aku tahu manusia seburuk itu aku lebih baik menjadi rubah selamanya," balasnya demikian.
"Heh, padahal kau selalu menginginkannya dan memintanya... ketika harapanmu akan terkabul kau malah berubah pikiran," kata si wanita tersebut lalu melanjutkan.
"Manusia itu sangat menarik loh, walau mereka disebut makhluk sempurna tapi sejujurnya banyak kekurangan yang bisa ditemukan dari mereka meski begitu manusia selalu bisa berubah, memang benar ada manusia jahat tapi dibalik itu ada yang baik pula koq.. kenapa kau tidak sekali lagi berusaha mempercayai mereka?"
"Bagaimana kau tahu banyak tentangku, padahal aku hanya seekor hewan."
"Karena aku selalu memperhatikanmu, bagiku entah manusia, hewan ataupun tanaman mereka semua memiliki keinginan dan aku berusaha sedikit mendengarkan keinginan mereka," wanita itu kembali berkata dengan pose imut yang sedikit jahil dan terkesan santai, berbeda terbalik dengan rubah yang dia ajak bicara.
"Memangnya siapa kau ini?"
"Siapa yah? Pahlawan, atau mungkin bencana... tapi semua orang lebih sering memanggilku Dewi."
Sejak itu rubah itu kembali berpetualang sebagai manusia selama 1000 tahun.
Dan sosok itu adalah Rusina Helbet.
__ADS_1
-
-
"Rasanya nyaman bisa duduk di sofaku sendiri."
Walau aku sudah menjelaskan apa yang terjadi wanita bernama Rusina masih saja tidak berniat untuk pergi, kini orang yang merepotkan malah bertambah.
"Bagaimana sekarang tuan Kazuya?" tanya Felisa.
"Apa boleh buat, lagipula ini juga kesalahan mereka jadi tidak bisa mengeluh apapun."
Semua pelayanku berkerumun di sekelilingku.
"Hal baiknya kita bisa tinggal di masion mewah ini, bukan begitu Sella."
"Iya Selly."
"Setidaknya kalian menyesal lah sedikit, orang mana yang mau mencuri rumah seseorang sampai sejauh ini."
"Tak masalah aku mengerti, rumahku memang sangat bagus tapi ngomong-ngomong, bagaimana cara kalian bisa memindahkannya kemari?"
"Kami meminta para naga menggali di bawah rumahmu lalu membawanya terbang kemari, kami dengar kau tinggal sendirian jadi kurasa kau tidak keberatan."
Tidak mungkin ada orang yang tidak keberatan soal ini.
Terlebih.
__ADS_1
Bukannya lebih baik membeli masionnya daripada mencurinya, para pelayanku memang sedikit unik mereka bisa saja menghancurkan dunia karena alasan sepele.
Yang terpenting masalah bisa diatasi.
"Nermia, aku akan pergi sekarang tolong persiapkan barang-barangku."
"Serahkan padaku."
"Kami boleh ikut tuan?" tanya Selly.
"Aku tidak ingin hal merepotkan terjadi lagi, kalian tetap berada di sini dan jangan melakukan hal aneh.. aku percayakan pengawasan pada Marina."
"Aku tuan?"
"Aku mengandalkanmu."
"Baik."
"Kau ini orang sibuk sekali," tambah Felisa.
"Mau bagaimana lagi aku harus mendapatkan tangan kananku kembali."
Rusina hanya memperhatikan selagi memiringkan kepalanya.
Setelah Hesna dan Riel kembali ke masion, makanan mewah telah tersaji di meja, kami makan bersama sebelum aku berpamitan pada semuanya.
Demi menghemat waktu Hesna yang akan mengantarku dengan sosok naganya, atau lebih tepatnya dia yang akan menemani perjalanan ini.
__ADS_1
Di bawah langit cerah berhiaskan awan putih sepasang sayap menembusnya dengan kecepatan tinggi.
"Tujuan selanjutnya Ibukota Kerajaan Riselwood."