
Di dalam lingkaran itu Bellatrix memulai dengan pertarungan pertamanya, setiap gorila yang menonton menepuk-nepuk dada mereka dengan bersemangat.
"Aku merasa tidak enak karena terus-menerus bergantung pada kalian, harusnya aku sendiri yang ikut pertandingan ini," ucap Rima yang berada di sampingku.
"Jangan dipikirkan, lagipula itulah gunanya teman... harus membantu satu sama lain, benar kan Dorothy?"
"Meong."
"Lagipula Bellatrix tampak sangat senang.. adu kekuatan hal yang selalu diinginkannya."
"Begitukah," balas Rima sedikit ragu.
Aku memangku Dorothy dari kepalaku lalu menyerahkannya pada Rima.
"Tolong pegang dulu, aku ada urusan."
"Tunggu, apa yang ingin kau lakukan?"
Aku diam-diam berlari ke arah kumpulan para gorila yang sedang bertaruh, dengan santai aku berkata pada mereka.
Syukurlah aku bisa menukar beberapa koin perak dengan beberapa pisang.
"Aku memasang tiga puluh pisang untuk Bellatrix."
"Kau yakin ingin bertaruh dengannya? Kami memiliki banyak petarung bertubuh besar."
"Aku yakin dengan pilihanku."
Jika aku menang aku akan menjual pisang ini di kota selanjutnya agar misi kami bisa lebih mudah.
Gorila mengangguk setuju dan aku kembali bersama lainnya menonton bagaimana Bellatrix dan penantangnya saling mendorong satu sama lain.
Kurasa Bellatrix sengaja hanya mengeluarkan seperempat dari kekuatannya. Dia pura-pura kalah dan di akhir membalas dengan kemenangan.
Dorothy kembali ke atas kepalaku selagi mengeong-ngeong semangat, jika mereka tahu, kucing ini hanya ingin menyemangati Bellatrix.
Dengan mudah Bellatrix mengeluarkan satu permain ke luar arena. Dia mengangkat tangannya bergaya seperti seorang pemenang.
__ADS_1
"Selanjutnya."
Semakin lama para penonton mulai memucat, dengan cepat Bellatrix menjatuhkan 11 pemain tanpa henti dan sebagiannya memutuskan untuk tidak bertarung.
Kurasa kami menang.
Dengan santai Bellatrix mengambil mendalinya yang dia berikan pada Rima.
"Pertarungan yang menyenangkan."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Yang harus berterima kasih adalah aku, dengan kemenangan Bellatrix aku telah mendapatkan banyak keranjang pisang. Kudengar buah ini sangat terkenal di seluruh wilayah hanya saja tidak akan ada yang berani berurusan dengan para gorila ini.
Aku memasukannya ke dalam sihir penyimpananku lalu mengintip mendali yang dipegang oleh Rima.
"Wanita pelayan yah."
"Ini roh yang sangat bagus."
"Kau hanya membuat haremmu sendiri."
Dengan kecepatan tinggi kami melanjutkan perjalanan, dan berhenti untuk beristirahat di sebuah pulau tak berpenghuni yang ada di tengah laut.
Di sini ada sumber air panas yang bisa kami gunakan untuk berendam. Pemandangan seperti ini yang membuatku nyaman.
Aku berenang dengan gaya bebas dari ujung kolam ke ujung lainnya bersama Dorothy dalam bentuk kucingnya.
Untuk Rima, Aries dan Bellatrix hanya berendam tanpa melakukan apapun.
"Aku yang menang."
"Meong, meong."
"Apa maksudmu curang... kau ingin aku berenang dalam wujud kucing?"
__ADS_1
"Meong."
"Ogah, kau sendiri yang harus merubah dirimu ke bentuk manusia."
"Meong."
Dia juga ogah.
Ketiga orang yang memperhatikan hanya menatap dengan pandangan bermasalah.
"Baru kali ini aku melihat seorang pria dewasa berdebat dengan seekor kucing."
"Aku juga."
"Biarkan saja, lebih dari itu, Rima kau benar-benar tumbuh dengan baik."
"Huum... aku juga tidak akan kalah dengan Aries."
"Boleh pegang."
"Tentu, tapi perlahan-lahan."
Pemandangan seperti ini yang sangat nostalgia saat mandi bersama.
Aku lebih dulu menyelesaikan mandiku untuk membuat makanan bagi kami semua, roh pelayan milik Rima pun turut membantu.
"Kenapa ikan ini dibungkus dengan daun pohon."
Maksudnya daun pisau yang kuambil dari pulau gorila.
"Namanya pepes ikan, beginilah cara membuatnya."
"Begitukah, menarik... aku baru pertama kali melihat hal seperti ini."
"Kau bisa mencobanya juga, sayangnya daun yang kita pakai sangat sulit didapat jika tidak pergi ke pulau gorila. Tapi, kurasa kita bisa menggunakan daun yang memiliki tekstur sama."
"Aku mengerti."
__ADS_1
Setelah matang kami semua bersama-sama menyantapnya di bawah langit malam berbintang.